Aug 25, 2026
Nasional

Paul Biya — Presiden Kamerun Absen Dua Bulan, Spekulasi Kesehatan Menggila

Di balik gedung-gedung pemerintahan berwarna krem di ibu kota Yaoundé, keheningan yang mencurigakan menyelimuti nasib seorang pria yang telah menggenggam t

Paul Biya — Presiden Kamerun Absen Dua Bulan, Spekulasi Kesehatan Menggila

Di balik gedung-gedung pemerintahan berwarna krem di ibu kota Yaoundé, keheningan yang mencurigakan menyelimuti nasib seorang pria yang telah menggenggam tampuk kekuasaan selama lebih dari empat dekade. Paul Biya, presiden berusia 93 tahun yang memimpin Kamerun sejak 1982, kini menghilang dari sorotan publik selama dua bulan penuh. Tidak ada penampilan resmi, tidak ada pernyataan tertulis, dan yang lebih mengkhawatirkan, tidak ada keterangan jelas dari pihak istana kepresidenan mengenai kondisi sang pemegang kekuasaan tertua di dunia ini. Ketidakhadiran yang berkepanjangan itu bukan sekadar absen biasa; ia telah membuka kotak Pandora spekulasi liar soal kesehatan, persaingan elite politik, dan masa depan sebuah negara yang selama ini dijaga rapat oleh satu orang.

Jebolnya Tirai Kediaman Sang Presiden

Terakhir kali wajah Biya terekam kamera dalam acara kenegaraan adalah pada pertengahan tahun ini, saat ia menghadiri sebuah pertemuan regional di ibu kota. Sejak saat itu, tirai istana kepresidenan serasa terkunci rapat. Masyarakat Kamerun, yang telah terbiasa melihat pemimpinnya tampil di kaca televisi dengan jas rapi berwarna gelap dan dasi kupu-kupu khasnya, kini hanya dibiarkan menerka-nerka dari balik layar ponsel. Rumor beredar cepat di pasar-pasar sederhana Yaoundé hingga ke ruang-ruang bincang media sosial: ada yang mengklaim Biya menderita sakit parah di luar negeri, ada pula yang menduga ia telah meninggalkan dunia namun berita kematiannya disembunyikan kelompok elite yang takut kehilangan kekuasaan.

Kekosongan visual ini memicu gelombang pertanyaan yang tak terjawab. Dalam sistem semi-presidensial Kamerun, kehadiran fisik sang pemimpin sering kali menjadi simbol stabilitas—meskipun stabilitas itu sendiri dibeli dengan harga demokrasi yang terhambat. Ketika Biya menghilang, yang tersisa hanyalah kevakuman informasi yang membuat pasar saham regional goncang dan komunitas internasional mengerutkan dahi.

"Ketika seorang pemimpin berusia 93 tahun menghilang dari publik selama dua bulan, bukan lagi soal privasi, melainkan soal akuntabilitas konstitusional. Siapa yang menandatangani kebijakan? Siapa yang memegang kode nuklir diplomatik negara ini?"

Siapa yang Menyalakan Lampu Istana?

Secara konstitusional, Perdana Menteri Joseph Dion Ngute seharusnya menjadi pelapis jika presiden berhalangan tetap. Namun, keheningan yang sama juga keluar dari kantor perdana menteri. Tidak ada keputusan besar yang diumumkan, tidak ada pidato menenangkan bangsa, dan yang lebih mencengangkan, tidak ada penjelasan resmi tentang keberadaan Biya. Seolah-olah seluruh jajaran pemerintahan terjebak dalam ketakutan kolektif untuk mengakui bahwa sang penguasa sejati sedang tidak mampu menjalankan tugasnya.

Kondisi ini mengingatkan publik akan rapuhnya tatanan politik Kamerun pasca-kemerdekaan. Biya, yang naik tahta dari bayangan mendiang Presiden Ahmadou Ahidjo, berhasil membangun sistem patron-klien yang begitu kuat sehingga lembaga-lembaga negara sering kali bergerak hanya untuk memperpanjang masa jabatannya. Ketika sang patron menghilang, mesin birokrasi itu tampak kehilangan kompas. Beberapa sumber diplomatik menyebut bahwa para jenderal senior dan keluarga inti presiden kini tengah berlaga di balik layar untuk memperebutkan pengaruh, sementara rakyat hanya bisa menonton dari pinggir.

Kamerun adalah negara dengan lebih dari 30 juta jiwa dan kekayaan alam melimpah, namun juga dibayangi konflik berkepanjangan di wilayah berbahasa Inggris yang telah menewaskan ribuan orang. Di tengah krisis kemanusiaan itu, absennya Biya bukan sekadar masalah protokoler, melainkan ancaman nyata terhadap upaya mediasi damai yang selama ini berjalan lambat.

Rezim Panjang yang Kini Diuji Waktu

Paul Biya tidak pernah dikenal sebagai pemimpin transparan. Selama 43 tahun berkuasa, ia berhasil menjinakkan oposisi melalui perubahan konstitusi, manipulasi pemilu, dan kontrol ketat terhadap aparatus keamanan. Rezimnya bertahan melalui elite yang saling mengikat kepentingan ekonomi dan politik, sebuah model yang sering disebut sebagai "demokrasi fasad" oleh para aktivis hak asasi manusia. Namun, ada satu hal yang tak bisa ditawar oleh kekuasaan absolut: usia dan kerapuhan tubuh manusia.

Kabut misteri soal kesehatan Biya sebenarnya bukan hal baru. Beberapa tahun terakhir, penampilannya di forum internasional sering kali menunjukkan sosok yang rapuh, berjalan tertatih, dan berbicara dengan suara serak. Kunjungannya ke Swiss untuk perawatan medis rutin bahkan telah menjadi rahasia umum di kalangan warga Kamerun. Yang berbeda kali ini adalah durasi absennya yang tak biasa dan totalnya penolakan istana untuk memberikan bukti bahwa sang presiden masih mampu berpikir jernih, apalagi memerintah.

Diplomat asing di Yaoundé dilaporkan telah meningkatkan level komunikasi mereka dengan oposisi dan kelompok sipil, mempersiapkan skenario terburuk. Sementara itu, warga Kamerun yang lelah dengan stagnasi politik mulai berbicara lebih lantang tentang transisi kekuasaan—sesuatu yang selama ini menjadi tabu. Jika Biya benar-benar tidak sanggup lagi menjabat, Kamerun akan menghadapi ujian berat: apakah transisi akan berlangsung damai melalui mekanisme konstitusional, atau pecah dalam perebutan kekuasaan yang berpotensi memicu kerusuhan di wilayah yang sudah rentan konflik?

Mata dunia kini tertuju pada gedung istana di Etoudi. Dua bulan tanpa jejak bukanlah waktu yang singkat bagi seorang pria berusia 93 tahun yang memegang nasib puluhan juta orang. Apakah yang terjadi di balik dinding tebal itu penyakit, kematian, atau sekadar permainan politik untuk menguji kesetiaan? Hanya waktu yang akan menjawab. Namun satu hal pasti: Kamerun tidak bisa lagi berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja sementara pemimpinnya menghilang ditelan kabut.