Perang saudara di Yaman kembali memanas setelah pemerintah yang diakui secara internasional mengumumkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali wilayah yang jatuh ke tangan pemberontak Houthi. Langkah ini diumumkan hanya beberapa hari setelah milisi yang didukung Iran itu mengklaim berhasil merebut sejumlah kota strategis di selatan barat daya negara tersebut.
Situasi di medan tempur kini berjalan dua arah: di satu sisi pasukan yang didukung Arab Saudi bergerak maju untuk memulihkan wilayah, sementara di sisi lain Houthi terus melanjutkan ofensif mereka dan melaporkan penaklukan baru yang semakin memperluas kendali atas jalur perdagangan vital.
Pemerintah Yaman Perintahkan Operasi Pembebasan
Dalam pidato televisi pada Minggu, Rashad al-Alimi, ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, menyatakan bahwa pemerintah telah memerintahkan "operasi militer untuk memulihkan sisa wilayah republik dan memperluas otoritas negara ke seluruh penjuru negeri." Pernyataan itu menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun dan memporak-porandakan negara tersebut.
"Operasi militer untuk memulihkan sisa wilayah republik dan memperluas otoritas negara di seluruh wilayah."
Pasukan pemerintah yang mendapat dukungan dari koalisi Arab Saudi berupaya merebut kembali wilayah yang direbut Houthi bulan lalu. Koalisi yang dipimpin Arab Saudi sendiri telah terlibat dalam perang saudara Yaman sejak 2015, tak lama setelah Houthi berhasil merebut ibu kota Sanaa pada tahun sebelumnya. Intervensi itu menjadikan konflik Yaman sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menegaskan bahwa koalisi akan terus memberikan dukungan kepada pasukan pemerintah Yaman. Pernyataan ini menunjukkan komitmen Riyadh untuk tetap memegang peran kunci dalam konflik yang melibatkan kepentingan regional tersebut.
Klaim Baru Houthi di Provinsi Taiz
Sementara pemerintah mengumumkan operasinya, media yang berafiliasi dengan Houthi melaporkan bahwa kelompok tersebut berhasil merebut kota Turbah serta distrik Shamayaytn dan Samea, termasuk jalur darat strategis yang menghubungkan Taiz dengan Aden. Wilayah-wilayah ini terletak di provinsi Taiz, kawasan barat daya yang selama ini menjadi ajang perebutan sengit antara kedua pihak.
Yang membuat klaim ini semakin penting adalah lokasinya yang tidak jauh dari Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Selat ini menjadi jalur utama transportasi minyak dan barang antara Laut Merah dan Teluk Aden, sehingga penguasaan atas kawasan sekitarnya berpotensi memengaruhi keamanan pelayaran internasional.
- Kota Turbah: diklaim berhasil dikuasai Houthi beserta jalur menuju Aden.
- Distrik Shamayatayn dan Samea: dilaporkan jatuh ke tangan pemberontak.
- Jalur Taiz-Aden: arteri logistik penting yang kini berada di bawah kendali Houthi.
- Selat Bab el-Mandeb: target strategis yang berpotensi memicu kekhawatiran internasional.
Berbagai rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan konvoi kendaraan militer Houthi melintasi jalanan kota Al-Turbah. Meski belum semua klaim dapat diverifikasi secara independen, footage tersebut menambah tekanan terhadap pemerintah Yaman yang tengah berusaha memulihkan kendali.
Dampak Terhadap Stabilitas Regional
Eskalasi ini datang di tengah kekhawatiran lebih luas soal stabilitas kawasan Timur Tengah. Yaman bukan hanya menghadapi perang internal, tetapi juga menjadi arena persaingan pengaruh antara Arab Saudi yang mendukung pemerintah dan Iran yang disebut-sebut sebagai pendukung Houthi.
Bagi masyarakat sipil, pertempuran terbaru ini berarti penderitaan baru. Kota-kota di sekitar Taiz yang sudah lama terbelah oleh garis depan kini kembali menghadapi ancaman serangan. Akses terhadap bantuan kemanusiaan berisiko terganggu, sementara warga sipil menghadapi pilihan sulit antara bertahan atau mengungsi sekali lagi.
Pertanyaan besar kini tertuju pada sejauh mana operasi militer pemerintah mampu membalikkan keadaan, dan apakah klaim ofensif Houthi akan terus berlanjut menuju kawasan yang lebih strategis. Dunia menanti perkembangan berikutnya dari konflik yang telah lama terjebak dalam siklus kekerasan tanpa akhir.
Comments (0)