Oct 10, 2026
Nasional

Panduan MPASI Bayi: Ibu Diminta Waspadai Menu yang Sering Dianggap Sehat

Pemberian Makanan Pendamping ASI atau MPASI masih menjadi salah satu momen paling menegangkan bagi para ibu baru. Foto seorang ibu yang tengah menyuapi ana

Panduan MPASI Bayi: Ibu Diminta Waspadai Menu yang Sering Dianggap Sehat

Pemberian Makanan Pendamping ASI atau MPASI masih menjadi salah satu momen paling menegangkan bagi para ibu baru. Foto seorang ibu yang tengah menyuapi anaknya dengan menu MPASI yang diunggah Unsplash oleh Tanaphong Toochinda seolah mewakili jutaan rumah tangga di Indonesia yang setiap hari berhadapan dengan drama si kecil di meja makan. Antara suapan yang dilepeh, piring yang dilempar, dan kekhawatiran soal gizi, menu MPASI bukan sekadar urusan perut, tetapi sudah menjadi proyek besar bagi para orang tua milenial. Sayangnya, di balik semangat menyajikan makanan sehat, masih banyak ibu yang terjebak pada menu yang terlihat bergizi padahal rendah nutrisi penting.

Fenomena Menu MPASI yang "Terlihat Sehat"

Di media sosial, menu MPASI kerap tampil dengan warna-warni menarik: bubur labu kuning, puree alpukat, sampai nasi tim dengan topping ayam suwir. Presentasinya cantik, tapi menurut sejumlah ahli gizi anak, kandungan gizinya belum tentu seimbang. "Masalah utama bukan pada tampilan, tetapi pada komposisi makronutrien dan mikronutrien. Banyak menu hanya kaya karbohidrat, sementara protein hewani dan lemak sehat justru kurang," ujar seorang nutricionist anak dalam sebuah diskusi parenting.

World Health Organization (WHO) sendiri merekomendasikan MPASI dimulai saat bayi berusia 6 bulan dengan pemberian ASI tetap dilanjutkan hingga 2 tahun. Pada fase ini, kebutuhan energi bayi dari MPASI mencapai sekitar 200 kkal per hari di awal, lalu naik menjadi 550 kkal per hari saat usia 12–23 bulan.

Usia Bayi Tekstur MPASI Frekuensi Makan Kebutuhan Energi
6–8 bulan Lembut, disaring 2–3 kali ±200 kkal
9–11 bulan Cincang halus 3–4 kali ±300 kkal
12–23 bulan Makanan keluarga 3–4 kali + selingan ±550 kkal

Kesalahan yang Sering Terjadi di Dapur

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi stunting di Indonesia masih berada di kisaran 21,6 persen, dan salah satu pemicunya adalah praktik MPASI yang tidak adekuat. Banyak ibu memberi bubur beras saja tanpa sumber protein hewani karena takut anak alergi atau sembelit. Padahal, protein hewani seperti hati ayam, telur, dan ikan merupakan sumber zat besi dan zinc yang sulit digantikan oleh sayur atau buah.

Selain itu, kebiasaan menambahkan gula dan garam pada MPASI bayi di bawah satu tahun juga masih marak. "Ginjal bayi belum matang sempurna. Garam berlebih bisa membebani kerja ginjal dan membentuk preferensi rasa asin sejak dini," tegas seorang dokter spesialis anak. Ironisnya, menu yang tampak sehat seperti puree buah dengan tambahan susu kental manis justru bisa menjadi bom gula bagi si kecil.

Langkah Praktis untuk Ibu

Kabar baiknya, menyusun MPASI seimbang tidak perlu mahal. Prinsip Isi Piringku bisa diterapkan: setengah piring berisi karbohidrat dan protein hewani, setengah lainnya sayur dan buah. Variasi tekstur juga penting agar bayi terlatih mengunyah. Yang tak kalah krusial adalah konsistensi jadwal makan, karena bayi belajar mengenal rasa kenyang dari rutinitas.

Pada akhirnya, foto ibu menyuapi anaknya bukan hanya potret kasih sayang, tetapi juga pengingat bahwa edukasi gizi harus terus digaungkan. Jangan sampai niat baik memberi yang terbaik justru tersesat di tengah banjir informasi menu MPASI di internet.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User