Oct 10, 2026
Nasional

Dokter Gizi Ingatkan Turunkan Berat Badan Bukan Cuma soal Timbangan

Menurunkan berat badan sering kali diidentikkan dengan angka yang terus menyusut di atas timbangan. Namun, Dokter spesialis gizi klinik Karina Marcella men

Dokter Gizi Ingatkan Turunkan Berat Badan Bukan Cuma soal Timbangan

Menurunkan berat badan sering kali diidentikkan dengan angka yang terus menyusut di atas timbangan. Namun, Dokter spesialis gizi klinik Karina Marcella menegaskan bahwa pendekatan tersebut terlalu sempit. Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah bagaimana proses penurunan berat badan itu berdampak pada kesehatan tubuh secara keseluruhan. Angka di timbangan boleh saja turun, tetapi jika tubuh justru kehilangan massa otot, mengalami dehidrasi, atau gangguan metabolisme, hasilnya bukan sehat melainkan masalah baru di kemudian hari.

Sorotan ini muncul di tengah maraknya tren diet instan yang menjanjikan hasil drastis dalam waktu singkat. Banyak orang tergoda dengan pola makan ekstrem, mulai dari puasa ketat tanpa panduan, konsumsi pil pelangsing, hingga diet yang menghilangkan satu kelompok nutrisi penting. Padahal, tubuh membutuhkan keseimbangan makronutrien dan mikronutrien agar fungsi organ tetap optimal selama proses penurunan berat badan, kata Karina dalam pernyataannya.

Pentingnya Melihat Kesehatan, Bukan Hanya Angka

Karina menjelaskan bahwa indikator keberhasilan penurunan berat badan seharusnya tidak berhenti pada satuan kilogram. Ada sejumlah indikator lain yang justru lebih menggambarkan kondisi kesehatan seseorang, mulai dari komposisi tubuh, lingkar perut, kadar lemak visceral, tekanan darah, hingga hasil pemeriksaan gula darah dan kolesterol. Semua itu, menurutnya, lebih relevan untuk menilai apakah seseorang benar-benar membaik atau hanya terlihat kurus.

Pesan ini sejalan dengan pandangan sejumlah ahli gizi lain yang mengingatkan bahaya weight cycling alias berat badan naik-turun berulang akibat diet ekstrem. Siklus ini dikaitkan dengan risiko gangguan jantung dan metabolisme jangka panjang. Alih-alih mengejar penurunan cepat, Karina mendorong pola makan berkelanjutan yang bisa dijalani jangka panjang.

Tahapan Penurunan Berat Badan yang Sehat

Dalam pemaparannya, Karina menekankan penurunan berat badan yang sehat harus melewati tahapan yang terukur. Berikut urutan pendekatan yang disarankan:

  1. Evaluasi awal kondisi tubuh, termasuk riwayat penyakit, pola makan, dan aktivitas fisik harian.
  2. Penetapan target realistis, misalnya penurunan 0,5–1 kilogram per minggu agar tidak membahayakan tubuh.
  3. Penyusunan pola makan seimbang yang tetap memenuhi kebutuhan protein, serat, lemak sehat, serta vitamin dan mineral.
  4. Peningkatan aktivitas fisik untuk mempertahankan massa otot dan memperbaiki sensitivitas insulin.
  5. Pemantauan berkala terhadap komposisi tubuh, bukan hanya angka timbangan.
"Kurus bukan berarti sehat. Yang penting adalah bagaimana tubuh berfungsi, bagaimana energi harian kita, dan bagaimana hasil pemeriksaan laboratorium kita," tegas Karina.

Data: Indikator Kesehatan vs Angka Timbangan

Untuk memudahkan pemahaman, berikut perbandingan sederhana antara fokus pada angka timbangan dan fokus pada kesehatan menyeluruh:

AspekFokus Angka TimbanganFokus Kesehatan Menyeluruh
Target utamaTurun cepatTurun bertahap dan stabil
RisikoKehilangan otot, dehidrasiLebih terkendali
IndikatorKilogramKomposisi tubuh, lab, energi
KeberlanjutanSering gagal jangka panjangLebih bertahan lama

Kesimpulannya, pesan Karina Marcella menjadi pengingat penting bahwa perjalanan menurunkan berat badan adalah upaya memperbaiki kesehatan, bukan sekadar perlombaan mengecilkan angka di timbangan. Pendekatan yang sabar, terukur, dan didampingi tenaga profesional akan memberi hasil yang jauh lebih bermakna bagi kualitas hidup seseorang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User