Oct 10, 2026
Nasional

BPOM Tegaskan Keselamatan Pasien Prioritas Utama di Era Inovasi Farmasi

Industri farmasi nasional tengah memasuki babak baru. Teknologi produksi semakin canggih, riset obat berkembang pesat, dan terobosan demi terobosan terus b

BPOM Tegaskan Keselamatan Pasien Prioritas Utama di Era Inovasi Farmasi

Industri farmasi nasional tengah memasuki babak baru. Teknologi produksi semakin canggih, riset obat berkembang pesat, dan terobosan demi terobosan terus bermunculan. Namun di tengah euforia inovasi itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mengingatkan satu hal yang tidak boleh dikorbankan: keselamatan pasien.

Pesan itu disampaikan langsung oleh Plt. Direktur Pengawasan Produksi Obat Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor BPOM RI, Shanti Marlina Sibuea, dalam sebuah pemaparan yang menyoroti arah pengawasan industri farmasi ke depan. Menurutnya, kemajuan teknologi tidak boleh menjadi tujuan akhir. Inovasi hanya bermakna jika berdampak nyata bagi kesehatan masyarakat.

"Inovasi farmasi harus berdampak nyata bagi kesehatan masyarakat. Boleh teknologinya canggih, tapi keselamatan pasien tetap nomor satu," tegas Shanti dalam pemaparannya.

Regulasi Adaptif untuk Ketahanan Industri

BPOM menyadari bahwa lanskap industri farmasi berubah cepat. Metode produksi baru, bahan baku inovatif, hingga digitalisasi rantai pasok menuntut kerangka pengawasan yang tidak kaku. Karena itu, BPOM mendorong pendekatan regulasi yang adaptif — mampu mengikuti perkembangan tanpa mengorbankan standar mutu dan keamanan.

Pendekatan ini bukan sekadar soal mengejar ketertinggalan teknologi. Ada dimensi strategis yang lebih besar: ketahanan industri farmasi nasional. Selama ini, Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor untuk banyak produk obat. Pengawasan yang adaptif diharapkan membuka ruang bagi industri dalam negeri untuk berinovasi, memproduksi lebih mandiri, namun tetap memenuhi persyaratan keamanan yang ketat.

Dalam konteks ini, BPOM memposisikan diri bukan hanya sebagai pengawas, tetapi juga fasilitator. Regulasi yang jelas dan terukur menjadi kepastian bagi pelaku industri untuk berinvestasi dalam riset dan pengembangan. Di sisi lain, masyarakat sebagai konsumen akhir tetap terlindungi dari produk yang tidak memenuhi syarat.

Keseimbangan yang Tidak Mudah

Menjaga keseimbangan antara mendorong inovasi dan menegakkan keselamatan memang tidak sederhana. Terlalu ketat, industri bisa tertinggal. Terlalu longgar, risiko bagi pasien meningkat. BPOM menegaskan bahwa titik tengahnya adalah pengawasan berbasis risiko — di mana tingkat pengawasan disesuaikan dengan tingkat risiko produk.

Langkah ini sejalan dengan tren global di mana regulator kesehatan dituntut lebih lincah menghadapi produk-produk baru seperti obat biologis, terapi gen, dan produk rekayasa jaringan. Indonesia tidak ingin hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain dalam ekosistem inovasi farmasi global.

Yang paling penting, pesan Shanti menjadi pengingat bahwa di balik setiap tablet, kapsul, atau injeksi, ada nyawa manusia yang bergantung padanya. Keselamatan pasien bukan slogan, melainkan tanggung jawab bersama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User