Oct 10, 2026
Nasional

Fenomena Mager dan Rebahan Jadi Gaya Hidup Baru Anak Muda

Beritaseputar.com — Pernahkah Anda merasa ingin berbaring seharian tanpa melakukan apa pun? Jika ya, Anda tidak sendirian. Fenomena yang akrab disebut mage

Fenomena Mager dan Rebahan Jadi Gaya Hidup Baru Anak Muda

Beritaseputar.com — Pernahkah Anda merasa ingin berbaring seharian tanpa melakukan apa pun? Jika ya, Anda tidak sendirian. Fenomena yang akrab disebut mager (malas gerak) dan hobi rebahan kini bukan lagi sekadar kebiasaan sesaat, melainkan telah menjelma menjadi bagian dari gaya hidup, terutama di kalangan anak muda perkotaan. Istilah ini begitu populer hingga sering dijadikan bahan lelucon, meme, dan bahkan menjadi cerminan dari kelelahan mental yang lebih dalam.

Fenomena mager sejatinya bukan hal baru. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, kata ini semakin sering muncul di media sosial dan percakapan sehari-hari. Banyak orang dengan bangga mengaku sebagai "pejuang rebahan" atau "tim mager sejati." Menariknya, di balik kelakar tersebut, ada banyak faktor yang membuat seseorang benar-benar enggan beranjak dari kasur atau sofa.

Bukan Sekadar Malas, Ini yang Terjadi

Psikolog klinis dari sebuah lembaga kesehatan mental di Jakarta, Rina Kartika, M.Psi., menjelaskan bahwa mager dan rebahan bisa jadi tanda kelelahan fisik maupun psikis. Menurutnya, tubuh dan pikiran sering memberi sinyal agar kita berhenti sejenak ketika sudah terlalu banyak menerima beban.

"Mager itu bukan selalu berarti malas. Bisa jadi itu cara tubuh meminta istirahat setelah terlalu banyak aktivitas. Kalau sudah kronis dan mengganggu produktivitas, barulah perlu diwaspadai sebagai gejala burnout atau bahkan depresi ringan," ujar Rina.

Senada dengan itu, sebuah survei internal yang dilakukan komunitas kesehatan mental pada 2023 terhadap 500 responden usia 18–30 tahun menemukan bahwa 64 persen responden mengaku sering merasa mager setidaknya tiga kali dalam seminggu. Faktor pemicu utamanya adalah kelelahan belajar atau bekerja, kurang tidur, dan paparan media sosial berlebihan.

Dampak Positif dan Negatif Rebahan

Rebahan sebenarnya memiliki sisi positif. Tubuh butuh waktu untuk pulih, mengembalikan energi, dan menenangkan sistem saraf. Masalah muncul ketika rebahan berubah menjadi kebiasaan menghindari tanggung jawab atau menunda pekerjaan secara terus-menerus.

  • Positif: Menurunkan stres, menyegarkan pikiran, dan memberi ruang untuk refleksi diri.
  • Negatif: Menurunkan produktivitas, memicu rasa cemas, dan memperburuk pola tidur jika berlebihan.
  • Solusi: Tetapkan jadwal istirahat dan aktivitas, batasi waktu rebahan tanpa tujuan, dan mulai bergerak ringan seperti berjalan kaki.

Fenomena ini juga didorong oleh budaya digital. Media sosial kerap menampilkan konten yang menormalisasi mager sebagai bentuk humor dan solidaritas. Namun, bila dikonsumsi tanpa sadar, hal ini dapat memperkuat perilaku menghindar.

Bangun Kebiasaan Kecil yang Bermakna

Para ahli menyarankan agar masyarakat tidak serta-merta menghakimi diri sendiri ketika merasa mager. Alih-alih memaksa, mulailah dengan langkah kecil: bangun dari tempat tidur, minum air putih, lalu lakukan satu aktivitas singkat yang menyenangkan. Kuncinya adalah keseimbangan antara istirahat dan gerak.

Pada akhirnya, mager dan rebahan hanyalah salah satu bentuk cara tubuh berkomunikasi. Yang terpenting adalah mengenali batas antara butuh istirahat dan menghindari tanggung jawab. Jika dikelola dengan bijak, rebahan bukanlah musuh produktivitas, melainkan bagian dari ritme hidup yang lebih sehat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User