Momen Inara Rusli Ajarkan Empati pada Starla, Belajar Kemanusiaan Sejak Dini
Langit sore baru saja merona jingga ketika Inara Rusli menggandeng tangan mungil putrinya, Starla, menuju sebuah taman kecil di dekat rumah. Mata gadis cilik berusia lima tahun itu berbinar melihat an...
Langit sore baru saja merona jingga ketika Inara Rusli menggandeng tangan mungil putrinya, Starla, menuju sebuah taman kecil di dekat rumah. Mata gadis cilik berusia lima tahun itu berbinar melihat aneka bunga yang bermekaran, tetapi perhatiannya segera teralihkan pada seorang kakek tua yang duduk termangu di bangku taman dengan pakaian lusuh. Momen sederhana itu menjadi awal pelajaran berharga tentang kemanusiaan yang secara sadar ditanamkan Inara kepada buah hatinya. Tanpa banyak kata, Starla menunjuk lelaki tua itu dan bertanya dengan polos, “Bunda, kenapa kakek itu sedih?” Bagi Inara, pertanyaan itu adalah pintu masuk untuk mengenalkan empati dengan cara yang paling jujur.
Pertanyaan Polos yang Membuka Hati
Inara tidak buru-buru menjawab. Ia berlutut menyamakan tinggi badannya dengan Starla, lalu berbisik lembut, “Kakek itu mungkin sedang lelah, Sayang. Kadang orang dewasa juga butuh teman.” Ia lalu mengajak Starla membeli sebotol air mineral dan sebungkus roti dari pedagang sekitar. “Coba Starla kasih sendiri ya,” ujarnya seraya menyodorkan makanan itu ke tangan kecil putrinya. Dengan langkah ragu yang perlahan berubah mantap, Starla menghampiri si kakek dan menyerahkan bingkisan itu. Di situlah Inara menyaksikan bagaimana seberkas cahaya kepedulian mulai tumbuh di mata anaknya. Kakek itu tersenyum, dan Starla kembali dengan wajah sumringah. “Bunda, kakeknya senang!” serunya. Inara tersenyum tipis. Baginya, kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah Starla jauh lebih berarti daripada kado mahal mana pun.
Menanamkan Nilai Lewat Cerita dan Tindakan
Sejak hari itu, Inara rutin menyelipkan kisah-kisah tentang berbagi dan tolong-menolong menjelang tidur. Ia sengaja memilih buku cerita yang tokohnya memiliki rasa peduli tinggi terhadap sesama. “Saya tidak ingin Starla tumbuh hanya dengan teori. Saya ingin ia merasakan langsung bagaimana tindakan kecil bisa membuat perbedaan besar,” ungkap Inara suatu kali sambil menata mainan di kamar Starla. Pelajaran itu tidak berhenti di taman. Saat Idulfitri tiba, Inara mengajak Starla mengemas bingkisan untuk petugas kebersihan di lingkungan rumah. Lagi-lagi ia membiarkan Starla yang menyerahkan sendiri paket-paket itu. “Terima kasih, Neng,” ucap seorang petugas kebersihan dengan suara bergetar. Starla membalas dengan pelukan hangat yang begitu tulus. Di usia yang masih sangat dini, ia sudah paham bahwa setiap orang pantas dihargai.
Empati yang Tumbuh Tanpa Paksaan
Menurut Inara, kunci utama mengajarkan kemanusiaan adalah memberikan contoh nyata. Ia percaya anak-anak lebih mudah menyerap nilai dari apa yang mereka lihat dan alami, bukan dari sekadar nasihat panjang. “Kalau saya cuma ceramah, Starla mungkin akan bosan. Tapi kalau diajak langsung, hatinya justru lebih tersentuh,” katanya. Pendekatan ini perlahan membentuk karakter Starla. Suatu hari, saat diajak ke mal, Starla tiba-tiba menarik ujung baju ibunya. “Bunda, boleh tidak kita belikan es krim dua? Satu buat kakak yang nyapu di depan?” Inara nyaris tak kuasa menahan haru. Rupanya tanpa diminta, Starla sudah mulai peduli pada orang lain di sekitarnya.
Harapan di Balik Pelajaran Sederhana
Di tengah dunia yang kian riuh dengan gemerlap digital, Inara justru memilih memperkenalkan Starla pada realitas sosial yang kerap luput dari perhatian. Ia tidak ingin putrinya tumbuh menjadi pribadi yang acuh. “Kemanusiaan itu bukan pelajaran sekolah yang cukup dihafal, tapi harus dirasakan dan dijalani,” tegasnya. Bagi Inara, mewarisi rasa empati kepada Starla adalah bentuk kasih sayang terbaik yang bisa ia berikan sebagai ibu. Kini, setiap akhir pekan, Starla selalu punya pertanyaan khas: “Bunda, hari ini kita bantu siapa?”. Sebuah kalimat sederhana yang menyiratkan bahwa benih-benih kebaikan telah benar-benar bersemi di hatinya.
Comments (0)