Momen Haru Celine Evangelista Lepas Putri Sulung ke Pesantren

Pagi itu, mentari baru saja menyapa langit Jakarta ketika sebuah mobil berhenti di depan gerbang pesantren yang teduh. Celine Evangelista turun dengan langkah perlahan, tangannya menggenggam erat jema...

Jul 12, 2026 - 05:44
0 0
Momen Haru Celine Evangelista Lepas Putri Sulung ke Pesantren

Pagi itu, mentari baru saja menyapa langit Jakarta ketika sebuah mobil berhenti di depan gerbang pesantren yang teduh. Celine Evangelista turun dengan langkah perlahan, tangannya menggenggam erat jemari putri sulungnya. Di wajahnya, tergambar campuran antara bangga dan haru yang sulit disembunyikan. Momen ini bukan sekadar rutinitas mengantar anak, melainkan babak baru dalam perjalanan hidup sang buah hati—menempuh pendidikan di lingkungan yang jauh dari kemewahan, demi membentuk karakter dan keimanan.

Pelukan Panjang di Gerbang Pesantren

Di gerbang yang dipenuhi tanaman rindang itu, Celine berlutut sejenak. Ia memandangi putrinya dengan mata berkaca-kaca. Tidak ada riasan tebal atau sorot kamera, hanya ada seorang ibu yang sedang melepas separuh hatinya. Ia memeluk sang anak begitu lama, seakan ingin menyimpan semua kehangatan dalam satu rangkulan terakhir sebelum berpisah. "Kakak harus kuat, ya. Ibu selalu mendoakan," bisiknya sambil mengusap punggung putrinya yang sudah berseragam pesantren. Suaranya bergetar, tapi senyumnya tetap merekah.

Putri sulungnya yang kini menginjak usia remaja itu mengangguk pelan. Matanya juga mulai berkaca-kaca, tetapi ia mencoba tegar. Ada koper kecil di samping mereka, berisi pakaian dan perlengkapan sederhana—jauh dari lemari penuh baju di rumah. Hari itu, ia memulai kehidupan baru sebagai santri, meninggalkan zona nyaman yang selama ini ia kenal.

Saat Hati Seorang Ibu Berbicara

Bagi Celine, keputusan untuk menyekolahkan anak di pesantren bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Ada pergulatan batin yang panjang. Sebagai seorang publik figur yang kerap disibukkan dengan jadwal syuting, ia menginginkan pondasi agama yang kuat untuk anak-anaknya. "Saya ingin dia tumbuh dengan akhlak yang baik, mengerti makna kehidupan yang sebenarnya," ungkapnya lirih di sela-sela perpisahan itu. Kalimat sederhana itu menyimpan ribuan harapan dan doa yang tak pernah putus ia panjatkan setiap malam.

Beberapa kerabat yang hadir menyaksikan momen itu turut terharu. Mereka melihat bagaimana Celine begitu telaten menyiapkan kebutuhan putrinya—mulai dari Al-Qur'an kecil bersampul merah marun hingga bantal kesayangan yang sudah lusuh. Semua dibungkusnya dengan penuh cinta. Ia bahkan menyelipkan sepucuk surat kecil di dalam tas, berisi pesan agar sang anak tidak merasa sendirian. "Ibu selalu ada," tulisnya di akhir surat itu.

Perpisahan yang Membawa Harapan

Saat azan zuhur berkumandang, pertanda waktu berpisah semakin dekat. Putri Celine melangkah masuk ke area asrama bersama pembimbing pondok. Kakinya yang kecil menapaki koridor panjang, sesekali menoleh ke arah ibunya yang masih berdiri di gerbang. Celine melambaikan tangan, kali ini air matanya tak lagi bisa dibendung. Bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan karena ia tahu, ini adalah jalan terbaik untuk buah hatinya.

Di sudut halaman pesantren yang berukuran 10x10 meter itu, Celine masih berdiri beberapa saat. Ia memandangi bangunan-bangunan sederhana beratap seng, kamar-kamar santri yang berjejer rapi, dan mushala kecil tempat sang anak akan belajar mengaji setiap hari. "Di sinilah kamu akan menempa diri," gumamnya pada bayangan putrinya yang sudah menghilang di balik pintu asrama. Ada kelegaan sekaligus kehilangan yang berpadu menjadi satu di dadanya.

Pesan untuk Para Orang Tua

Pengalaman Celine ini menjadi cermin bagi banyak orang tua, terutama yang masih ragu menyekolahkan anak di pesantren. Ia membuktikan bahwa melepas bukan berarti kehilangan, melainkan memberi ruang bagi anak untuk tumbuh dan menemukan jati diri. "Kita sebagai orang tua harus percaya bahwa doa dan pendidikan agama adalah warisan terbaik," pesannya kepada sesama ibu yang mungkin tengah menghadapi dilema serupa.

Kini, setiap malam sebelum tidur, Celine selalu menyempatkan diri untuk menelepon pondok, sekadar mendengar suara putrinya mengaji atau bercerita tentang teman-teman barunya. Meski jarak memisahkan, hati mereka tetap terhubung dalam untaian doa yang sama. Kisah Celine Evangelista mengantar anak ke pesantren bukan sekadar berita biasa, melainkan potret cinta seorang ibu yang rela melepas demi masa depan yang lebih terang. Seperti yang ia katakan di penghujung pertemuan, "Anak adalah titipan, dan tugas kita adalah mengantarkannya kembali kepada-Nya dengan sebaik-baiknya."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User