Ketika Tarian Tujuh Negara Menyatu di Jakarta

Di sudut panggung yang remang, seorang penari asal Yunani menghentak lantai dengan ritme sirtaki yang khas, sementara di sisi lain seorang penari dari Polandia berputar lincah dalam balutan rok berlap...

Jul 12, 2026 - 06:07
0 0
Ketika Tarian Tujuh Negara Menyatu di Jakarta

Di sudut panggung yang remang, seorang penari asal Yunani menghentak lantai dengan ritme sirtaki yang khas, sementara di sisi lain seorang penari dari Polandia berputar lincah dalam balutan rok berlapis yang merekah seperti bunga. Malam itu, langit Jakarta menjadi saksi pertemuan budaya yang lebih dari sekadar pertunjukan: ia adalah pertemuan hati dari tujuh negara yang menari bersama. Jakarta World Folklore Festival 2026 menghadirkan Rusia, Polandia, Yunani, Filipina, Korea Selatan, Rumania, dan Indonesia sebagai tuan rumah, dalam satu panggung yang merayakan keragaman.

Hentakan rebana dari Filipina berpadu dengan petikan alat musik tradisional Korea Selatan. Penonton yang memadati gedung kesenian itu sesekali menahan napas, lalu melepaskannya dalam tepuk tangan riuh setiap kali gerakan para penari mencapai puncak. Yang terasa bukan sekadar keindahan, melainkan ikatan tak kasatmata yang merajut perbedaan menjadi harmoni.

Ketika Gerakan Menjadi Bahasa

Di balik panggung, cerita-cerita perjuangan mengalir pelan. Dmitri, salah satu penari asal Rusia, mengisahkan bagaimana kelompoknya berlatih selama lima bulan hanya untuk satu tarian berdurasi tujuh menit. “Bagi kami, menari adalah cara berbicara tanpa kata. Kami ingin menyampaikan bahwa di tengah segala perbedaan, selalu ada benang merah yang menyatukan,” ujarnya lirih, sambil merapikan kostum balalaika yang berkilau diterpa cahaya lampu.

Tak jauh dari situ, sekelompok penari asal Rumania menyemangati seorang rekannya yang nyaris cedera saat gladi resik. Dengan tangan bergandengan, mereka bernyanyi kecil—sebuah lagu rakyat yang telah mengakar di desa asalnya sejak dahulu. Momen sederhana itu menyentuh, menggambarkan bahwa di atas panggung, mereka tak sekadar menari: mereka merawat kenangan dan identitas yang dibawa dari tanah air masing-masing.

Indonesia Merangkul Dunia

Sebagai tuan rumah, Indonesia tak hanya menampilkan tarian tradisional semacam Saman dari Aceh atau Pendet dari Bali. Sejak hari pertama, para seniman lokal bergerak layaknya tuan rumah yang hangat: membantu para tamu menyesuaikan panggung, berbagi ruang latihan, hingga duduk bersama menikmati secangkir teh hangat di sela-sela persiapan. “Kami ingin mereka merasa bahwa ini adalah rumah kedua,” ujar seorang koordinator acara, matanya berkaca-kaca ketika menyaksikan penari cilik dari Polandia dan penari muda dari Filipina tertawa bersama, tanpa sekat bahasa yang berarti.

Momen paling mengharukan terjadi pada akhir acara, ketika seluruh penari dari tujuh negara naik ke panggung secara bersamaan. Mereka tak lagi membawakan koreografi masing-masing, melainkan bersatu dalam satu gerakan spontan: hentakan kaki, lambaian tangan, dan putaran tubuh yang meleburkan batas negara. Musik pengiring pun berubah menjadi rampak suara yang diracik dari berbagai alat musik tradisional. Penonton tak kuasa menahan air mata—beberapa di antaranya ikut bergoyang di tempat duduk, hanyut dalam suasana yang magis.

Panggung yang Melampaui Jarak

Festival ini menjadi bukti bahwa seni bisa menyentuh relung hati terdalam tanpa perlu terjemahan. Di tengah dunia yang kerap riuh oleh perpecahan, tujuh negara memilih untuk menari—dan Jakarta menjadi saksi bahwa ketika kaki-kaki itu bergerak dalam irama yang sama, semua perbedaan hanyalah catatan kecil yang indah. Para penari kembali ke negeri masing-masing membawa kenangan yang tak akan pudar: tentang malam saat mereka menari bersama, melepaskan lelah, dan menemukan keluarga baru di bawah langit Indonesia.

Jakarta, bagi mereka, bukan lagi sekadar titik di peta. Ia menjadi rumah tempat mimpi-mimpi menari, tempat cerita-cerita lama menemukan panggung baru. Dan bagi yang menyaksikan, festival ini menjelma sebagai pengingat: dalam setiap gerak yang lahir dari hati, selalu ada ruang untuk saling merangkul, tanpa peduli seberapa jauh jarak yang membentang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User