Momen Hangat Ria Ricis dan Moana di Dubai
Di bawah gemerlap lampu kota yang memantul di permukaan air, seorang ibu dan putri kecilnya duduk bersila di tepi dermaga. Tawa renyah Moana memecah sunyi malam Dubai, memantul ke gedung-gedung pencak...
Di bawah gemerlap lampu kota yang memantul di permukaan air, seorang ibu dan putri kecilnya duduk bersila di tepi dermaga. Tawa renyah Moana memecah sunyi malam Dubai, memantul ke gedung-gedung pencakar langit yang menjulang di kejauhan. Di momen itu, Ria Ricis menyadari—kebahagiaan sesungguhnya tidak selalu datang dari panggung besar. Kadang, ia hadir dalam bentuk jemari mungil yang menggenggam erat jemarinya.
Matahari sore baru saja meninggalkan jejak jingga di langit ketika Ricis menggendong Moana menyusuri trotoar Dubai Marina. Angin padang pasir yang hangat membelai pipi bocah berusia dua tahun itu. Moana, dengan mata bulat penuh ingin tahu, menunjuk setiap perahu yacht yang melintas. "Mama, itu kapal besar," celotehnya dalam logat kanak-kanak yang membuat hati Ricis berdesir. Perjalanan mereka kali ini bukan sekadar liburan biasa. Ini adalah sebuah perjuangan—perlahan membangun kembali kenangan hangat yang sempat tertunda oleh padatnya jadwal dan bisingnya komentar dunia maya.
Awal Perjalanan: Bukan Sekadar Bersantai
Berangkat dari Jakarta membawa seorang balita bukan perkara mudah. Ricis mengisahkan, di balik foto-foto Instagram yang tampak sempurna, ada drama nyaris tertinggal popok dan susu formula di bagasi. "Moana nangis karena telinganya sakit saat take off. Aku sampai panik, tapi untung ada pramugari yang bantu," ujarnya sambil tersenyum malu. Di momen-momen seperti itulah, seorang ibu tunggal menempa kekuatan yang tak terlihat.
Setibanya di hotel, Moana langsung terpaku pada akuarium raksasa di lobi. Mulutnya yang mungil membentuk huruf 'O' sempurna, takjub pada ikan-ikan warna-warni yang berlarian di balik kaca. "Dia berdiri di situ hampir sepuluh menit, nggak mau digendong, nggak mau pindah," kenang Ricis. Saat itulah ia memutuskan: liburan ini akan sepenuhnya mengikuti ritme Moana. Tak ada jadwal ketat, tak ada tuntutan konten. Hanya ada seorang ibu dan putrinya, tenggelam dalam kebahagiaan sederhana.
Jejak Kecil di Gurun Pasir
Salah satu momen paling menyentuh terjadi di padang pasir. Ricis sengaja memilih safari sore agar Moana bisa merasakan lembutnya pasir tanpa terik menyengat. Tas kecil Moana berisi sekop dan ember mini bergambar putri duyung—mainan favoritnya. "Aku ingin dia ingat, kami pernah membangun istana pasir di tengah gurun," bisik Ricis, seolah menyampaikan doa. Moana, dengan tangan mungil yang dipenuhi pasir, tertawa lepas saat angin menerbangkan sebagian istananya. Ia tidak menangis. Ia malah bertepuk tangan, lalu memulai lagi dari awal.
Ketangguhan seorang anak seringkali menjadi cermin bagi orang dewasa. Ricis mengaku sering terlalu keras pada diri sendiri. Melihat Moana yang begitu mudah berdamai dengan kekecewaan kecil, ia seperti diajarkan arti bangkit tanpa beban. Di sela-sela permainan, Ricis memeluk Moana erat. "Terima kasih sudah jadi guru kecil mama," bisiknya. Pelukan itu terekam dalam foto yang kini tersimpan rapi di ponselnya—bukan untuk diunggah, melainkan untuk dikenang saat dunia terasa terlalu berat.
Cahaya di Balik Kemewahan
Dubai seringkali diidentikkan dengan kemewahan: mal raksasa, emas di mana-mana, gedung tertinggi di dunia. Tapi bagi Ricis, kota ini justru memberinya ruang untuk menjadi manusia biasa. Saat mengunjungi Burj Khalifa, ia tidak memikirkan angle foto terbaik. Ia hanya ingin melihat mata Moana membelalak saat lift meluncur ke lantai 124. "Dia bilang, 'Awan! Mama, kita di dalam awan!' dan itu worth more than any engagement rate," katanya dengan suara bergetar.
Malam harinya, mereka menonton pertunjukan air mancur menari. Moana duduk di bahu Ricis, kedua tangannya mengepal kecil kegirangan setiap kali air melesat tinggi diiringi lagu. Di kerumunan yang padat, mereka hanyalah dua titik kecil yang saling menguatkan. "Aku sadar, seringkali aku yang sebenarnya 'dibonceng' Moana, bukan sebaliknya. Dia yang membawaku melihat dunia dari sudut yang lebih jernih," ujar Ricis, menyeka sudut matanya.
Di penghujung perjalanan, sebelum kembali ke Indonesia, Ricis dan Moana duduk di tepi pantai Jumeirah. Moana asyik mengumpulkan kerang, sesekali berlari menyambut ombak kecil. Ricis memandangi punggung kecil itu, meresapi betapa berharganya setiap detik yang dihabiskan bersama. Air mata haru jatuh tanpa suara. Bukan tangis kesedihan, melainkan syukur yang memuncak. Kisah liburan ini tidak akan menjadi tajuk utama berita selebritas. Tapi bagi dua insan ini, ia adalah babak penuh inspirasi tentang cinta, perjuangan, dan mimpi-mimpi sederhana yang perlahan menjadi nyata.
Baca juga:
Comments (0)