Menyelami 'Broken Strings': Perjalanan Emosional Aurelie Moeremans

Di sudut ruangan yang sunyi, di antara tumpukan kertas usang dan secangkir teh yang sudah dingin, seorang perempuan duduk dengan pulpen di tangan. Matanya menerawang jauh, seolah menyusuri lorong wakt...

Jul 12, 2026 - 13:17
0 0
Menyelami 'Broken Strings': Perjalanan Emosional Aurelie Moeremans

Di sudut ruangan yang sunyi, di antara tumpukan kertas usang dan secangkir teh yang sudah dingin, seorang perempuan duduk dengan pulpen di tangan. Matanya menerawang jauh, seolah menyusuri lorong waktu yang penuh luka dan tawa. Ia bukan sedang menulis naskah film atau skenario sinetron. Ia sedang menulis hidupnya sendiri. Dialah Aurelie Moeremans, aktris yang selama ini dikenal lewat layar kaca, kini membuka lembaran paling privat dalam sebuah memoar berjudul Broken Strings.

Buku setebal hampir dua ratus halaman ini bukan sekadar rangkaian kisah. Ia adalah sebuah ruang pengakuan—sebuah konser sunyi tentang senar-senar kehidupan yang satu per satu putus, lalu dengan susah payah disambung kembali. Dengan bahasa yang puitis namun jujur, Aurelie mengajak pembaca menyelami lorong gelap di balik gemerlap panggung hiburan. Bukan untuk memamerkan luka, melainkan untuk membuktikan bahwa bahkan dari benang yang paling rapuh sekalipun, melodi kehidupan masih bisa terdengar.

Perempuan di Balik Senar

Aurelie membuka kisahnya dengan sederhana: masa kecil di Belgia yang tak selalu mudah. Ia menulis tentang bagaimana ia pertama kali memahami arti 'kehilangan'. Bukan hanya kehilangan orang terkasih, tapi juga kehilangan rasa aman. Di salah satu bagian awal, ia menuliskan momen saat ia berdiri di depan rumah yang asing, menggenggam erat tangan ibunya, dan menyadari bahwa dunia tidak selalu seindah dongeng. "Senar pertama itu putus ketika aku tahu bahwa rumah bukan lagi tempat kembali. Rumah hanya kata," tulisnya. Dari titik itulah, perjalanan panjangnya dimulai—dari Eropa ke Jakarta, dari remaja biasa menjadi salah satu wajah yang dikenal di industri hiburan Tanah Air. Namun bukan kemewahan atau popularitas yang ia soroti, melainkan suara-suara kecil di dalam dirinya yang terus bertanya: 'Apakah aku cukup berharga?'

Ketika Senar-Senar Berguguran

Bagian paling menyentuh dari Broken Strings justru terletak pada kisah-kisah personal yang jarang terungkap di media. Aurelie dengan berani menulis tentang hubungan yang kandas, pengkhianatan dari orang-orang terdekat, dan tekanan mental yang hampir membuatnya berhenti berkarya. Ia menggunakan metafora gitar tua peninggalan ayahnya—sebuah benda yang sejak kecil ia peluk saat sedih—untuk menggambarkan jiwanya. "Satu per satu dawai itu terlepas," tulisnya. "Pertama saat cinta pertamaku mengingkari janji. Kedua saat sahabatku berkhianat. Ketiga saat aku sendiri tak lagi percaya pada bayanganku di cermin." Pembaca seolah diajak menyaksikan betapa rapuhnya selebritas ketika sorot lampu panggung mati. Tidak ada polesan makeup, tidak ada senyum untuk kamera. Hanya keheningan yang menyesakkan.

Namun, justru dalam kerapuhan itulah kekuatan sejati Aurelie terpancar. Ia tidak menulis dirinya sebagai korban. Setiap putusnya senar, ia rekam dengan detail yang memilukan, lalu perlahan ia tunjukkan bagaimana ia belajar menerima dan merelakan. Di salah satu bab bertajuk "Denting Terakhir", ia menggambarkan momen ketika ia duduk di lantai kamar mandi dengan air mata yang tak lagi bisa keluar. Momen itu, menurutnya, bukan kekalahan. Melainkan awal dari kesadarannya bahwa ia harus menyetem ulang seluruh hidupnya.

Merangkai Ulang Melodi

Paruh kedua buku ini menjadi perjalanan kebangkitan. Aurelie menceritakan bagaimana ia kembali ke dunia seni peran justru setelah menerima semua luka itu. Ia menulis tentang proyek-proyek film yang ia ambil sebagai terapi, tentang pertemuannya dengan orang-orang baru yang membantunya mendengarkan kembali bunyi-bunyian dalam dirinya. Ada kisah tentang sahabat yang diam-diam mengiriminya makanan saat ia depresi, tentang ibunya yang memeluknya tanpa banyak bicara, tentang sutradara yang mempercayakannya peran berat ketika ia sendiri ragu. "Mereka adalah tangan-tangan yang membantuku mengikat kembali senar-senar itu, meski bekasnya mungkin tak akan pernah hilang," tulis Aurelie.

Buku ini juga menyisipkan refleksi tentang makna rumah. Setelah bertahun-tahun merasa terasing, Aurelie menemukan bahwa rumah bukanlah tempat, melainkan perasaan diterima dan dicintai. Ia merayakan hal-hal sederhana: secangkir kopi di pagi hari, obrolan ringan dengan kru film, tawa lepas bersama keponakan. Dari sana, ia belajar bahwa senar yang pernah putus justru menciptakan bunyi yang lebih dalam. Tidak lagi dangkal, tidak lagi rapuh. Seperti sebuah gitar tua yang dimainkan oleh musisi berpengalaman: suaranya lebih matang, lebih penuh, lebih menghidupkan.

Catatan untuk Siapa Pun yang Pernah Patah

Aurelie menutup memoarnya dengan sepucuk surat pendek—bukan untuk penggemar, melainkan untuk dirinya sendiri di masa lalu. "Terima kasih telah bertahan," tulisnya. "Terima kasih karena tidak menyerah bahkan ketika seluruh senar terlepas. Kamu hebat." Kalimat itu bukan hanya menjadi penutup, melainkan juga pesan universal bagi siapa pun yang merasa hidupnya telah kehilangan nada. Buku ini bukan sekadar sinopsis perjalanan hidup seorang aktris. Ia adalah peta bagi mereka yang sedang berjuang menyetem ulang kehidupannya sendiri.

Dengan Broken Strings, Aurelie Moeremans tidak hanya bercerita; ia menyanyi. Lagu yang ia mainkan bukanlah simfoni sempurna, melainkan sebuah improvisasi yang jujur, kadang sumbang, namun selalu bermakna. Inilah memoar yang tidak berusaha menyembunyikan luka di balik senyum, melainkan merayakan setiap jeda dan retakan sebagai bagian dari melodi kehidupan. Sebuah karya yang membuktikan bahwa dari senar yang putus pun, musik terindah bisa lahir.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User