Menyapa Digitalisasi dari Dapur Mungil: QRIS Jelajah Tegal

Di sudut Pasar Pagi Tegal yang riuh rendah, Siti (47) mengusap keringat di pelipisnya. Tangannya yang cekatan meracik bumbu kacang, sementara tatapannya sesekali melirik ke arah ponsel pintar yang ter...

Jul 12, 2026 - 06:19
0 0

Di sudut Pasar Pagi Tegal yang riuh rendah, Siti (47) mengusap keringat di pelipisnya. Tangannya yang cekatan meracik bumbu kacang, sementara tatapannya sesekali melirik ke arah ponsel pintar yang tergeletak di samping stoples kerupuk. Bukan untuk berselancar di media sosial, melainkan menanti bunyi notifikasi: “Pembayaran QRIS berhasil”. Itulah pemandangan yang kian lumrah di sela-sela sajian kuliner khas Tegal, seiring digelarnya QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026 oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tegal.

Kegiatan yang kembali diinisiasi BI Tegal ini bukan sekadar seremoni. Lebih dari 200 pelaku usaha kuliner mikro dan kecil di Tegal dan sekitarnya dilibatkan, naik hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Tujuannya melebihi angka: mendorong percepatan digitalisasi transaksi di sektor yang selama ini akrab dengan celetukan “uang pas, Mbak?”. Di balik panggung kecil itu, mengalir kisah-kisah yang menyentuh, tentang bagaimana sepiring kupat tahu dan secangkir teh poci perlahan menyatu dengan gemerlap ekosistem keuangan digital.

Dari Ragu Menjadi Butuh

Marsudi (52), pemilik warung sate kambing muda di kawasan Jalan Ahmad Yani, masih ingat betul bagaimana ia dulu memandang dingin tawaran beralih ke pembayaran digital. “Saya pikir, transaksi pakai kode-kodean itu cuma buat orang kota besar. Pelanggan saya kebanyakan buruh bangunan dan tukang becak, mana ada yang punya aplikasi itu,” kenangnya. Namun setelah diajak serta dalam pelatihan rutin yang digelar oleh tim BI Tegal bersama dinas terkait, benak Marsudi perlahan terbuka. Kini, sebuah stiker QRIS menempel di dekat meja kasirnya, bersanding dengan daftar menu yang sudah lusuh dimakan usia.

Cerita serupa diutarakan oleh Rukmini (39), penjual nasi lengko langganan para pekerja pelabuhan. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengisahkan bagaimana QRIS menyelamatkannya dari masalah uang kembalian yang kerap menjadi sumber keributan. “Sering kali pembeli bayar pakai uang besar, saya nggak punya kembalian. Akhirnya mereka pergi, atau saya terpaksa berutang kembalian. Sekarang, tinggal scan, beres. Uang langsung masuk rekening, dan saya bisa tidur nyenyak tanpa was-was,” tuturnya. Kenyataan sederhana ini mengubah persepsi banyak pedagang bahwa digitalisasi bukan ancaman, melainkan kawan setia di tengah himpitan usaha.

Menghidupkan Jelajah Rasa, Merayakan Transaksi Digital

QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026 di Tegal dirancang bak perayaan rakyat. Rute jelajah sengaja menyusuri pusat-pusat jajanan legendaris: dari warung kupat tahu Petak Sembilan, sate bebek Tambak, nasi lengko khas Tegal, hingga deretan pedagang martabak dan pisang goreng di sepanjang Jalan Veteran. Di setiap titik, papan QRIS dengan desain penuh warna disambut antusias. Pengunjung yang datang tidak hanya bersantap, tetapi juga diajak untuk membayar nontunai sambil mendapatkan potongan harga dari sejumlah dompet digital.

Bagi Dinda (21), mahasiswi asal Brebes yang sengaja datang bersama teman-temannya, keberadaan QRIS sangat membantu. “Kami nggak perlu narik uang tunai dulu. Tinggal scan, langsung nikmatin sate kambing favorit,” ujarnya sembari memperlihatkan bukti transaksi di ponsel. Seorang pembeli yang lain, Agus, yang sehari-hari bekerja sebagai ojek online, mengaku kini lebih sering jajan karena merasa lebih praktis. “Biasanya mikir dua kali kalau harus cari ATM dulu. Sekarang tinggal pencet, perut kenyang, dompet aman,” celotehnya.

Antusiasme itu berbuah kenaikan omzet yang nyata. Berdasarkan pemantauan panitia, para pedagang yang ikut serta dalam rute jelajah mengalami peningkatan omzet hingga 35 persen pada hari puncak acara. Jumlah transaksi QRIS di wilayah Tegal juga melonjak 45 persen dibandingkan periode normal. Angka itu menjadi bukti bahwa kolaborasi antara tradisi kuliner dan teknologi dapat menciptakan gelombang ekonomi baru.

Menempa Kemandirian di Era Digital

Namun, upaya perluasan ini tak berhenti pada pemasangan stiker. Kantor Perwakilan BI Tegal menyadari bahwa adopsi teknologi memerlukan pendampingan berkelanjutan. Seluruh peserta diajak mengikuti kelas-kelas singkat tentang pengelolaan keuangan digital, mulai dari cara membaca riwayat transaksi untuk menghitung performa usaha, hingga strategi promosi sederhana lewat katalog online di aplikasi dompet digital. “Kami tidak ingin digitalisasi sekadar tempelan. Kami ingin pelaku usaha benar-benar merasakan manfaatnya: disiplin keuangan, kemampuan mengukur omset harian, hingga akses ke pembiayaan formal karena jejak transaksi mereka terekam,” ungkap Kepala KPw BI Tegal di sela-sela pembukaan acara.

Semangat kemandirian itu juga tertular ke generasi muda. Di antara kerumunan, tampak sekelompok pelajar SMK jurusan akuntansi yang tengah mendampingi para pedagang lansia mengoperasikan aplikasi. Seorang siswa, Fajar (17), dengan sabar mengajari Mbah Yati, penjual serabi berusia 70-an, untuk mengecek notifikasi pembayaran. “Awalnya Mbah Yati takut salah pencet. Tapi setelah tiga kali latihan, sekarang sudah berani sendiri,” ujar Fajar sambil tersenyum. Adegan ini menjadi potret paling hangat dari perhelatan yang menghubungkan lintas generasi.

Jembatan Menuju Masa Depan

Saat senja menyelimuti sudut-sudut kuliner Tegal, bunyi notifikasi “pembayaran berhasil” terus berdering dari dapur-dapur mungil yang dulu hanya mengandalkan uang receh. Di tengah asap sate yang mengepul dan wangi bumbu kacang yang menguar, para pelaku usaha mulai percaya bahwa mereka tak perlu takut pada modernitas. QRIS Jelajah Kuliner bukan sekadar acara tahunan; ia adalah jembatan yang menghubungkan cita rasa lokal dengan gelombang masa depan. Bagi Siti, Marsudi, Rukmini, dan ratusan pedagang lainnya, perjalanan ini baru dimulai. Mereka telah membuktikan bahwa dari dapur 3x4 meter, mimpi inklusi keuangan bisa disajikan hangat, sepiring demi sepiring.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User