Menteri Teuku Riefky Harsya Luncurkan Rindekraf untuk Akselerasi Ekonomi Kreatif
Hari masih pagi ketika Suci, seorang ilustrator kain asal Pekalongan, membuka linimasa media sosialnya. Di tengah rutinitasnya menyiapkan pesanan batik kon
Hari masih pagi ketika Suci, seorang ilustrator kain asal Pekalongan, membuka linimasa media sosialnya. Di tengah rutinitasnya menyiapkan pesanan batik kontemporer untuk pasar daring, ia membaca sekilas berita yang membuat napasnya tercekat haru. Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) akhirnya diluncurkan. Baginya, kabar itu bukan sekadar pengumuman kebijakan; ia mengingat percakapan dua tahun silam saat ia nyaris menyerah karena keterbatasan akses permodalan dan pelatihan digital.
"Saya merasa akhirnya didengar," ujar Suci melalui sambungan telepon, Rabu (8/7/2026). Suci adalah satu dari lebih dari 20 juta pelaku ekonomi kreatif Tanah Air yang kini menanti implementasi nyata dari arahan baru itu.
Di Jakarta, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menggelar konferensi pers di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif. Dengan latar peta Indonesia yang disorot lampu hangat, ia memaparkan Rindekraf—sebuah dokumen hidup yang dijanjikan menjadi kompas bagi pertumbuhan subsektor ekraf hingga 2045. "Rindekraf adalah ikhtiar kita untuk memanusiakan angka-angka," kata Menko Riefky, suaranya tenang namun bergetar di setiap jeda. "Di balik setiap persen pertumbuhan, ada wajah Suci, ada penenun di Sumba, ada developer gim di Bandung, ada sineas muda di Makassar."
Subsektor yang duluan disentuh dan janji inklusivitas
Bila selama ini percakapan publik soal ekraf sering terjebak dalam statistik kering, Rindekraf justru memilih narasi lain: inklusivitas dan kedaulatan kreasi lokal. Dokumen setebal 300-an halaman itu meletakkan fokus awal pada tiga subsektor unggulan—kuliner tradisional kemasan, animasi dan konten digital, serta kriya tekstil—sekaligus memberi ruang afirmatif bagi kelompok perempuan, disabilitas, dan komunitas adat.
Riefky mengisahkan kunjungannya ke Desa Wuring, Nusa Tenggara Timur, awal tahun ini. Di sana ia bertemu Mama Lodia, penenun ikat berusia 67 tahun yang motif-motifnya belum pernah menembus katalog pameran. "Saya bertanya, apa mimpi Mama Lodia. Jawabannya sederhana: ingin kainnya dipakai anak-anak muda di kota. Rindekraf kami desain untuk menjawab mimpi semacam itu," tutur Riefky, menahan emosi.
| Indikator | Kondisi 2026 | Target Rindekraf 2030 |
|---|---|---|
| Kontribusi PDB Ekraf | 8,2% (Rp1.450 triliun) | 11% (Rp2.100 triliun) |
| Serapan tenaga kerja | 20,5 juta orang | 28 juta orang |
| Desa kreatif terverifikasi | 248 desa | 1.000 desa |
| Akses pembiayaan mikro ekraf | 35% pelaku | 70% pelaku (via KUR Ekraf) |
Dari pinggiran ke pusat: narasi yang disentuh
Bagi pengamat ekonomi inklusif, langkah KemenEkraf ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan komunitas akar rumput yang selama dua dekade terakhir terus memperjuangkan "ekraf sebagai arus utama, bukan sekadar hobi". "Rindekraf adalah terjemahan paling konkret dari Undang-Undang Ekonomi Kreatif yang selama ini sering hanya menjadi jargon," ujar Prof. Anita Primasari, Guru Besar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada. Ia menambahkan, pendekatan Riefky yang cair secara komunikasi membuat ekosistem terasa lebih cair pula.
Namun tantangan terbesar tetap berada pada koordinasi lintas kementerian dan ketahanan fiskal daerah. Riefky mengakui adanya pekerjaan rumah besar dalam menyelaraskan kebijakan pusat dengan dinas-dinas provinsi yang kapasitasnya timpang. Ia berjanji mendirikan Creative Desk di 40 kota/kabupaten pada akhir 2027 agar perencanaan tak mandek di Jakarta.
Di Pekalongan, Suci tersenyum membaca janji itu. Ia masih ragu, tetapi hatinya lebih ringan. "Setidaknya sekarang ada peta, dan saya tahu harus melangkah ke mana," katanya. Mungkin, Rindekraf memang bukan dokumen yang akan langsung mengubah nasib esok pagi. Tapi bagi jutaan Suci di Indonesia, dokumen itu adalah pengakuan: bahwa kreativitas mereka layak diperhitungkan sebagai kekuatan bangsa.
Comments (0)