Mengurai 'Broken Strings': Pelukan Aurelie Moeremans untuk Luka yang Terpendam

Di sebuah kafe kecil di bilangan Jakarta Selatan, seorang perempuan duduk di sudut ruangan dengan buku bersampul kelabu di tangannya. Matanya berkaca-kaca saat jarinya menyusuri tiap kata di halaman p...

Jul 12, 2026 - 08:34
0 0
Mengurai 'Broken Strings': Pelukan Aurelie Moeremans untuk Luka yang Terpendam

Di sebuah kafe kecil di bilangan Jakarta Selatan, seorang perempuan duduk di sudut ruangan dengan buku bersampul kelabu di tangannya. Matanya berkaca-kaca saat jarinya menyusuri tiap kata di halaman pertama. Buku itu bukan novel—melainkan memoar berjudul Broken Strings. Dan perempuan itu adalah Aurelie Moeremans, aktris yang selama ini dikenal lewat peran-peran kuat di layar, kini membuka luka yang paling dalam untuk pertama kalinya di hadapan publik.

Di atas meja, secangkir kopi yang sudah dingin menemani narasi yang ia bangun selama dua tahun terakhir. "Ini bukan sekadar buku. Ini adalah percakapan saya dengan diri sendiri yang tertunda bertahun-tahun," ucapnya lirih, sembari menatap ke luar jendela. Broken Strings bukanlah sekadar pengakuan—ia adalah jejak perjalanan seorang seniman yang berjuang mengurai benang-benang kusut di dalam dirinya.

Di Balik Layar yang Gemerlap

Orang mungkin mengenal Aurelie sebagai aktris yang selalu tampak ceria di balik gemerlap kamera. Namun, di balik senyum itu, tersimpan kisah yang tidak pernah ia bagikan: keretakan keluarga, kehilangan arah, hingga perubahan identitas yang mengguncang nyalinya. Dalam Broken Strings, ia mengisahkan masa kecil yang diwarnai perpisahan orang tua, masa remaja yang dihabiskan di negeri asing, dan perjuangan menyesuaikan diri di industri hiburan yang tak selalu ramah pada kejujuran.

Salah satu momen paling mengharukan adalah ketika Aurelie menulis tentang ibunya. Di ruangan berukuran 3x4 meter di rumah lama mereka di Belgia, ia sering menyaksikan sang ibu menangis diam-diam setelah bekerja seharian. "Waktu kecil aku nggak paham kenapa Mama sering melamun. Sekarang aku sadar, dia sedang berjuang menyembuhkan dirinya sendiri," tulisnya, dengan kalimat yang mampu menggetarkan hati pembaca. Buku ini menjadi semacam surat panjang untuk ibundanya, dan juga untuk dirinya yang dulu.

"Menulis 'Broken Strings' seperti mengunjungi kembali rumah masa kecil yang sudah lama ditinggalkan. Ada ruangan yang masih hangat, tapi ada juga sudut yang ingin aku kunci selamanya."

Melankoli yang Menyembuhkan

Proses penulisan memoar ini bukanlah perjalanan yang mudah. Aurelie menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk mengumpulkan keberanian membuka kotak kenangan lama. Ia menuturkan, ada hari-hari ketika ia hanya bisa menulis satu paragraf, kemudian menangis dan mematikan laptop. "Rasanya seperti mengupas luka yang sudah mengering, tapi ternyata di dalamnya masih basah," katanya. Namun, justru dari air mata itulah ia menemukan inspirasi yang paling jernih.

Buku ini tidak hanya berisi duka. Ada pula bab-bab yang penuh tawa, seperti cerita tentang pertama kali ia jatuh cinta, atau pengalaman konyol di lokasi syuting yang mengajarkannya arti kebersamaan. Aurelie merangkai semuanya dengan cara yang menyentuh—meyakinkan pembaca bahwa di balik setiap broken strings, selalu ada melodi yang menunggu untuk dimainkan kembali.

Yang membuat Broken Strings begitu manusiawi adalah kejujuran Aurelie dalam mengakui bahwa ia tidak baik-baik saja. Di tengah budaya yang kerap glorifikasi kebahagiaan, ia memilih untuk merayakan proses menjadi utuh—bahkan jika jalannya masih retak di sana-sini. "Kita ini manusia, bukan alat musik yang harus selalu sempurna nadanya. Kadang fals, dan di situlah keindahannya," tulisnya di halaman pengantar.

Dari Panggung ke Halaman: Pelukan untuk Mereka yang Berjuang

Aurelie bercerita bahwa alasan terbesar ia merilis memoar ini adalah untuk merangkul siapa pun yang sedang merasa sendirian. Sejak kecil, ia sudah terbiasa menjadi pendengar yang baik bagi teman-temannya. Kini, melalui tulisan, ia ingin menjadi teman bagi orang-orang yang mungkin tidak memiliki keberanian untuk bercerita. "Kadang kita cuma butuh tahu bahwa kita tidak sendiri. Buku ini adalah pelukan dari saya, untuk kamu yang sedang bertahan," ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar.

Di luar aktivitasnya sebagai aktris, Aurelie kini aktif berbicara di berbagai komunitas literasi dan kesehatan mental. Ia percaya, berbagi kisah personal adalah bentuk kekuatan, bukan kelemahan. Broken Strings hanyalah awal dari perjalanan panjangnya untuk menyuarakan hal-hal yang sering dianggap tabu. Dengan langkah-langkah kecil yang sederhana, ia membangun jembatan antara hatinya dan hati jutaan orang yang membaca kisahnya.

Saat malam mulai turun, Aurelie menutup buku itu dengan hati-hati. Ia tersenyum tipis—bukan senyum kemenangan, melainkan senyum kelegaan yang dalam. "Aku sudah lama membawa beban ini sendiri. Sekarang, aku serahkan pada dunia. Biar mereka yang membantu mengangkatnya," katanya. Di meja kafe yang mulai sepi, secangkir kopi yang tadi dingin kini telah berganti dengan teh hangat. Seperti hidupnya: pernah membeku, lalu perlahan mencair kembali—dan siap untuk memberi kehangatan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User