Mengintip Dapur Mbah Siti, Sang Maestro Peyek Cabai Renyah
Di sudut dapur mungil berukuran 3×4 meter, tangan renta itu tak pernah berhenti mengaduk. Jemarinya yang mulai keriput dengan cekatan menaburkan irisan cabai rawit ke dalam adonan tepung. Inilah “i...
Di sudut dapur mungil berukuran 3×4 meter, tangan renta itu tak pernah berhenti mengaduk. Jemarinya yang mulai keriput dengan cekatan menaburkan irisan cabai rawit ke dalam adonan tepung. Inilah “istana kecil” Mbah Siti, perempuan 72 tahun asal Desa Sidomulyo, yang selama lebih dari lima dekade setia menjaga tradisi keluarga lewat peyek cabai renyah buatannya. Aroma gurih khas kacang tanah bercampur dengan wangi daun jeruk memenuhi ruangan, seolah menjadi sajak pembuka dari kisah yang tak banyak orang tahu di balik setiap keping peyek yang ia produksi.
Lika-liku Perjalanan yang Dimulai dari Tungku Kayu
Kisah Mbah Siti mengawali perjalanan ini bukan dari dapur modern, melainkan dari tungku kayu bakar yang biasa ia gunakan di belakang rumah. Saat itu, sekitar tahun 1970-an, ia hanya ingin membantu suaminya yang bekerja sebagai buruh tani. Dengan modal seadanya, ia mulai membuat peyek cabai untuk dijual di warung-warung kecil. “Dulu saya tidak tahu resep baku. Cuma modal berani dan nekat, gagal berkali-kali, adonan menggumpal atau gosong semua. Kadang pulang bawa air mata,” kenangnya lirih, sambil menatangi wajan lebar di hadapannya.
Perjuangan itu berbuah manis saat seorang tetangga memujinya karena peyek Mbah Siti tetap renyah meski sudah tiga hari disimpan. Sejak saat itu, ia makin yakin bahwa ada sesuatu yang istimewa dari resep racikannya. Ia mulai mencatat takaran-takaran kecil, mengamati suhu minyak, hingga memperhatikan kelembapan udara sekitar yang ternyata ikut memengaruhi hasil akhir. Inilah momen bangkit yang mengubah nasib keluarganya.
Rahasia Renyah Tahan Lama dari Air Es dan Doa
Lantas, apa sebenarnya yang membuat peyek cabai Mbah Siti bisa begitu renyah dan tahan lama? Sambil sesekali mengelap keringat di dahinya dengan ujung jarik, ia berbisik, “Orang-orang selalu penasaran. Saya bilang, pakai air es dan jangan lupa banyak doa.” Tentu saja ini bukan sekadar candaan. Di balik layar, setiap pukul tiga dini hari, Mbah Siti sudah mulai meracik bumbu: bawang putih, ketumbar, kemiri, dan kencur yang diulek manual dengan cobek batu—bukan blender—karena ia percaya, sentuhan tangan menghasilkan tekstur dan rasa yang berbeda.
Kunci utamanya ada pada adonan tepung beras yang dicampur air es, bukan air biasa. Air es membuat tepung tidak bereaksi cepat, sehingga saat digoreng, teksturnya lebih renyah dan pori-porinya lebih rapat. Minyak pun tidak mudah meresap.
Setelah itu, adonan disatukan dengan santan kental yang sudah dimasak, sebagai pengikat rasa gurih yang dalam. Cabai rawit merah dan hijau diiris tipis-tipis, lalu dijemur sebentar agar kadar airnya berkurang. “Kalau cabai langsung dimasukkan ke adonan basah, nanti uapnya bikin peyek cepat mlempem. Ini ilmu yang saya dapat setelah bertahun-tahun mengamati kegagalan,” ujarnya.
Proses menggoreng pun tak kalah sakral. Mbah Siti selalu menggunakan minyak kelapa murni dan menjaga suhunya di titik yang pas, sekitar 150 derajat Celsius, ditandai dengan desiran kecil saat adonan diteteskan. Sekali menggoreng, ia tak pernah menuang lebih dari tiga sendok adonan agar suhu minyak tetap stabil. Setiap keping peyek diangkat saat warnanya kuning keemasan, lalu ditiriskan di atas anyaman bambu yang mampu menyerap uap. Pendinginan dilakukan di ruangan terbuka dengan kipas angin, bukan di wadah tertutup, untuk mencegah kondensasi.
Lebih dari Sekadar Camilan, Ini Tentang Mewujudkan Mimpi
Di balik kesederhanaan dapurnya, Mbah Siti menyimpan mimpi besar. Dari hasil penjualan peyek yang kini mencapai 200 bungkus per hari—dipasarkan lewat anaknya secara daring—ia berhasil menyekolahkan tiga cucunya hingga jenjang sarjana. “Saya tidak bisa baca-tulis lancar, tapi saya ingin cucu-cucu saya pintar. Dari peyek ini saya titipkan harapan,” katanya sambil menatap foto wisuda yang ditempel di dinding dapur.
Kisah Mbah Siti tidak hanya menyentuh keluarga, tapi juga para tetangga yang kini ikut menjadi bagian dari usaha rumahan ini. Beberapa ibu di sekitar rumahnya dilibatkan untuk mengupas kacang atau mengiris cabai, menciptakan lapangan kerja kecil yang menghidupi lingkungan. Pelanggan setianya pun tidak hanya dari lokal, tetapi sudah merambah ke kota-kota besar berkat kemasan vakum yang menjaga kerenyahan peyek hingga berminggu-minggu.
Namun, bagi Mbah Siti, pencapaian terbesarnya bukanlah omzet yang terus meningkat. “Setiap kali ada yang bilang peyek saya enak, saya merasa seperti mendapat hadiah. Apalagi kalau ada anak kos yang pesan buat stok seminggu, katanya ini penyelamat saat lapar. Sederhana, tapi menyentuh hati saya,” ungkapnya, kali ini dengan mata yang berkaca-kaca.
Sang maestro peyek ini mengaku belum mau berhenti. Selama tangan dan matanya masih berfungsi, ia ingin terus menularkan resep ini kepada generasi muda, termasuk kepada anak dan menantunya yang sudah siap meneruskan. “Saya hanya ingin orang ingat bahwa renyah itu butuh ketelatenan. Yang instan-instan itu akhirnya cepat hilang, rasanya pun tidak meninggalkan kenangan,” pungkasnya sambil kembali menuang adonan tipis di wajan panas. Hari itu, aroma peyek kembali mengepul, membawa harapan yang tak pernah layu dari dapur sederhana Mbah Siti.
Comments (0)