Oct 10, 2026
entertainment

Menginap Tak Seperti Biasanya di 9 Hotel Unik Indonesia

Bayangkan membuka jendela kamar dan mendapati hutan hujan tropis yang lebat, bukan gedung beton menjulang. Atau tertidur di dalam ruangan yang dibangun dari kontainer bekas, ditemani gemericik air sun...

Menginap Tak Seperti Biasanya di 9 Hotel Unik Indonesia

Bayangkan membuka jendela kamar dan mendapati hutan hujan tropis yang lebat, bukan gedung beton menjulang. Atau tertidur di dalam ruangan yang dibangun dari kontainer bekas, ditemani gemericik air sungai di bawahnya. Di berbagai sudut Nusantara, sejumlah penginap menawarkan sesuatu yang jauh dari kata biasa: sebuah perjalanan menginap yang mengubah cara tamu memandang kata "istirahat".

Dari Bali hingga Kalimantan, dari tepi tebing hingga dasar lembah, para perancangnya berjuang mewujudkan mimpi yang sering dianggap aneh oleh banyak orang. Mereka percaya bahwa tidur semalam bisa menjadi cerita yang dikenang seumur hidup.

Ketika Kamar Berbicara Tentang Alam

Di Ubud, Bali, sebuah penginapan bernama Bambu Indah mengisahkan perjalanan panjang dua pendirinya, John dan Cynthia Hardy, yang jatuh cinta pada rumah-rumah kayu tradisional. Mereka memindahkan bangunan tua dari pelosok desa, merawatnya dengan tangan sendiri, lalu menjadikannya kamar tamu di tepi kolam alami. Di sudut lain pulau itu, Bawah Reserve menawarkan pengalaman yang lebih dramatis: hanya bisa dijangkau dengan pesawat amfibi, resor ini tersembunyi di gugusan pulau yang air lautnya bening seperti kaca.

Bukan sekadar keindahan yang dijual. Para pengelola mengaku banyak tamu yang datang dengan beban pikiran, lalu pulang dengan air mata haru. "Banyak yang bilang mereka menemukan diri mereka kembali di sini," ujar seorang pengelola resor di Nusa Penida, yang kamarnya dibangun di tepi tebing menghadap laut lepas. Momen mengharukan itu terjadi sederhana: saat matahari terbit dan tamu menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan samudra.

Bermalam di Ruang yang Tak Terduga

Di Bandung, Jawa Barat, ada penginapan yang menempatkan tamunya di dalam kereta api tua yang sudah tak lagi beroperasi. Di dalam gerbong yang dicat ulang itu, tempat tidur empuk menggantikan bangku penumpang, dan lampu kuning temaram menggantikan lampu neon stasiun. Konsep serupa muncul di Semarang, tempat sebuah hotel mengubah bangunan pabrik gula era kolonial menjadi kamar-kamar bergaya industrial yang tetap mempertahankan pipa dan mesin aslinya.

Sementara itu, di Kalimantan Timur, sekelompok pemuda membangun penginapan dari bambu dan kayu ulin di tengah hutan. Kamar mereka tidak berpintu penuh, hanya tirai kelambu yang bergerak saat angin hutan bertiup. "Awalnya kami dianggap gila. Tidak ada listrik, tidak ada sinyal. Tapi justru itu yang dicari tamu," kata salah satu pendirinya, yang kini menerima tamu dari berbagai negara.

Di Yogyakarta, sebuah hotel mengusung konsep kamar tanpa dinding permanen, hanya atap dan tiang, agar tamu bisa menatap bintang sepanjang malam. Di Labuan Bajo, penginapan terapung membuat tamu tidur di atas air yang jernih, ditemani suara ombak yang menabuh pelan sepanjang malam. Setiap tempat memiliki cerita perjuangan sendiri: biaya tinggi, izin rumit, dan keraguan orang-orang terdekat.

Lebih dari Sekadar Tempat Tidur

Bagi para pemiliknya, penginapan unik bukan sekadar bisnis. Ia adalah cara bercerita tentang warisan, tentang alam yang harus dijaga, dan tentang mimpi yang butuh keberanian untuk diwujudkan. Seorang tamu asal Jakarta mengaku menangis saat harus meninggalkan kamar pohon di Bali yang ia tempati selama tiga hari. "Saya merasa seperti pulang ke rumah yang belum pernah saya punya," ujarnya.

Kisah-kisah ini menyentuh karena sederhana: tentang manusia yang berjuang menciptakan ruang di mana orang lain bisa berhenti sejenak dari kebisingan dunia. Di balik kamar-kamar tak biasa itu, ada kerja keras, doa, dan harapan agar setiap tamu pulang membawa inspirasi baru. Menginap, akhirnya, bukan lagi soal tempat tidur — melainkan tentang kenangan yang bangkit dan tinggal lama di hati.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User