Kabut tipis menyelimuti tenda berwarna oranye yang berdiri di atas hamparan rumput savana. Di dalamnya, seorang perempuan duduk bersila, menggenggam cangkir kopi hangat dengan kedua tangan yang masih terasa dingin. Di luar, suhu menusuk tulang, sementara langit perlahan berwarna jingga keemasan. Itulah momen ketika Yura Yunita menyadari bahwa perjalanan ke Gunung Rinjani bukan sekadar petualangan fisik, melainkan sebuah perjalanan batin yang selama ini ia cari.
Jejak Langkah di Tanah Para Dewa
Mendaki gunung berapi yang menjulang 3.726 meter di atas permukaan laut itu bukan perkara mudah. Yura harus melewati jalur berdebu, tanjakan terjal, hingga udara tipis yang membuat napasnya tersengal. Namun, di balik semua kelelahan itu, ia menemukan sesuatu yang jarang ia rasakan di tengah hiruk-pikuk panggung musik dan studio rekaman: kesunyian yang menenangkan.
"Di sini aku belajar bahwa diam bukan berarti kosong. Justru dalam diam itu, aku mendengar suara hatiku sendiri," ujarnya lirih, seperti dikutip dari unggahan di media sosial rekan pendakiannya.
Bagi perempuan kelahiran Bandung itu, gunung bukanlah tempat asing. Perjalanan spiritual semacam ini sudah beberapa kali ia lakukan. Namun, Rinjani punya tempat tersendiri. Ia mengisahkan bagaimana setiap langkah mengajarkannya tentang kesabaran, tentang pentingnya menikmati proses, bukan hanya mengejar puncak.
Air Mata di Tepi Danau Segara Anak
Momen paling mengharukan datang saat Yura tiba di tepi Danau Segara Anak. Danau vulkanik berwarna biru kehijauan itu membentang tenang, dikelilingi dinding kawah yang megah. Di sana, ia sempat terdiam lama, tak sanggup menahan haru.
"Aku menangis, bukan karena capek. Tapi karena aku sadar betapa kecilnya manusia di hadapan ciptaan Tuhan yang sebesar ini," tuturnya mengenang.
Air mata itu bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya, ia menyebutnya sebagai bentuk syukur yang tak mampu lagi ia bendung. Sepanjang perjalanan turun, ia berjanji akan membawa pelajaran itu ke dalam kehidupannya sehari-hari: lebih berserah, lebih sabar, dan lebih menghargai hal-hal sederhana.
Mimpi yang Tak Pernah Terlalu Tinggi
Bagi banyak orang, mendaki Rinjani adalah pencapaian besar. Tapi bagi Yura, ini hanya salah satu dari sekian mimpi yang ia ingin wujudkan. Ia percaya, setiap orang punya gunungnya sendiri—entah itu karier, keluarga, atau mimpi kecil yang tersimpan rapat di dalam hati.
"Gunung itu tidak akan lari. Yang penting kita berani melangkah, satu kaki demi satu kaki. Kalau capek, boleh berhenti sebentar, tapi jangan menyerah," pesannya.
Kisah Yura di Rinjani menjadi pengingat bahwa di balik sosok penyanyi yang kerap tampil ceria di atas panggung, ada perempuan yang juga mencari makna, yang juga butuh ruang untuk bangkit dan menyendiri. Perjalanan enam hari itu mengajarkannya bahwa puncak bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari perjalanan baru untuk kembali ke kehidupan dengan hati yang lebih lapang.
Dari tenda kecil di ketinggian itu, Yura Yunita membawa pulang lebih dari sekadar foto atau cerita. Ia membawa ketenangan, keberanian, dan keyakinan bahwa mimpi—setinggi apa pun—selalu layak untuk diperjuangkan.
Comments (0)