Oct 10, 2026
entertainment

Jejak Langkah Sepatu Sekolah Era 1990-an yang Tak Pernah Pudar

Di sudut ruang kelas yang beratap seng itu, seorang perempuan paruh baya duduk menatap sepasang sepatu usang berwarna putih gading. Solnya sudah menguning, tali kulitnya mulai mengelupas, tetapi ia ma...

Jejak Langkah Sepatu Sekolah Era 1990-an yang Tak Pernah Pudar

Di sudut ruang kelas yang beratap seng itu, seorang perempuan paruh baya duduk menatap sepasang sepatu usang berwarna putih gading. Solnya sudah menguning, tali kulitnya mulai mengelupas, tetapi ia masih menyimpannya rapi di dalam kotak kardus bekas. Namanya Rahmawati, 52 tahun, seorang guru sekolah dasar di pinggiran Kota Semarang. Sepatu itu, katanya, adalah saksi bisu perjalanan hidupnya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar pada awal dekade 1990-an.

“Ini sepatu pertama yang dibelikan Bapak dari hasil menjual ayam kampung. Saya ingat betul, harganya waktu itu sekitar tujuh ribu rupiah,” ujarnya lirih, mata tuanya berkaca-kaca. “Setiap pagi sebelum berangkat, saya semir sepatu ini sampai mengkilap. Kalau tidak mengkilap, rasanya seperti ada yang kurang.”

Bagi Rahmawati, sepatu bukan sekadar alas kaki. Ia adalah simbol harapan keluarga sederhana yang ingin anaknya bersekolah tinggi. Merek sepatu yang dulu akrab di telinga anak sekolah era 1990-an seperti Bata, Spotec, dan Eagle menjadi bagian dari memori kolektif generasi yang tumbuh di masa itu. Warnanya dominan putih dengan garis biru atau hijau di sisi samping, model kanvas maupun kulit syntetis yang tahan lama meski dipakai bertahun-tahun.

Ketika Sepatu Menjadi Penanda Status Sosial

Di era 1990-an, memiliki sepatu baru saat tahun ajaran dimulai adalah kemewahan tersendiri. Tidak semua anak bisa merasakannya. Sebagian harus puas memakai sepatu bekas kakaknya, atau menunggu sepatu lama diperbaiki di tukang sol langganan. Kondisi inilah yang menjadikan sepatu sebagai penanda halus status sosial di lingkungan sekolah.

Sri Mulyani, 48 tahun, pedagang kelontong di Pasar Johar, mengisahkan pengalamannya. Ia pernah menahan malu karena sepatunya berlubang di bagian ujung. “Saya sampai menghindari baris depan saat upacara bendera. Takut dilihat teman-teman,” kenangnya sambil tersenyum getir. “Tapi justru dari situ saya bertekad, suatu hari anak saya tidak boleh merasakan hal yang sama.”

Kini, tekad itu terwujud. Anaknya menjadi seorang perawat di rumah sakit daerah, dan cucunya bersekolah dengan seragam rapi serta sepatu baru setiap tahun. “Saya tidak pernah menyangka, dari sepatu lusuh itu bisa lahir mimpi besar,” tambahnya.

Merek Legendaris yang Melekat di Ingatan

Beberapa nama merek seakan tidak terpisahkan dari seragam putih merah. Bata, misalnya, menjadi ikon karena desainnya yang sederhana namun kuat. Spotec dengan sol karetnya yang lentur digemari karena nyaman untuk berlari di lapangan sekolah. Sementara Eagle menawarkan kesan lebih elegan dengan jahitan rapi dan warna putih bersih yang bertahan lama.

“Dulu kalau punya sepatu Bata, rasanya seperti punya sepeda baru. Bangga sekali,” ujar Hendra Gunawan, 46 tahun, seorang wiraswasta di Bandung. Ia mengenang masa kecilnya ketika harus menabung dari uang saku selama berbulan-bulan untuk membeli sepatu idamannya. “Saya sisihkan seratus rupiah setiap hari. Setelah empat bulan, cukup juga untuk beli sepatu di toko swalayan,” katanya sambil tertawa.

Kenangan semacam itu ternyata tidak lekang oleh waktu. Di media sosial, berbagai komunitas penggemar sepatu vintage era 1990-an bermunculan. Mereka berbagi foto sepatu lama yang masih tersimpan, cerita di baliknya, hingga upaya merestorasi kembali bentuk aslinya.

Nostalgia yang Menghangatkan Hati

Bagi sebagian orang, sepatu sekolah era 1990-an adalah benda mati yang usang. Namun bagi mereka yang pernah melalui masa itu, sepatu adalah jembatan menuju kenangan indah tentang perjuangan orang tua, persahabatan di bangku sekolah, dan mimpi-mimpi kecil yang perlahan tumbuh besar.

Rahmawati kembali menutup kotak kardus itu dengan hati-hati. Ia berjanji akan menyerahkan sepatu tuanya kepada cucunya kelak, bukan untuk dipakai, melainkan sebagai pengingat. “Supaya dia tahu, dari sepatu sederhana ini, neneknya bisa berdiri tegak sampai hari ini,” tutupnya dengan suara bergetar.

Di tengah derasnya arus mode sepatu masa kini yang serba canggih dan mahal, kisah sepatu sekolah era 1990-an tetap menyentuh. Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari barang baru dan mengkilap. Kadang, ia justru hadir dari sesuatu yang sederhana, yang pernah menemani langkah kecil menuju cita-cita besar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User