Di sebuah sudut butik kecil di lantai dua sebuah gedung di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, seorang perempuan muda berdiri termangu di depan rak kayu. Matanya menelusuri deretan sepatu dengan tumit rendah berwarna netral—krem, cokelat muda, dan hitam doff. Ia memungut satu pasang, membolak-baliknya, lalu tersenyum. "Ini yang aku cari," katanya lirih kepada penjaga toko. Sepatu itu bukan merek impor yang biasa ia lihat di pusat perbelanjaan mewah. Ia adalah karya perajin lokal dari Bandung.
Pemandangan semacam ini semakin sering terjadi di kota-kota besar Indonesia. Sepatu lokal wanita dengan desain chic kini bukan lagi pilihan cadangan. Ia telah menjelma menjadi pernyataan gaya yang setara, bahkan kerap lebih personal, dibandingkan merek-merek global. Di baliknya, ada kisah panjang tentang perempuan-perempuan yang berjuang membangun mimpi dari nol.
Ketika Kantor dan Kafe Menuntut Satu Sepatu yang Sama
Rani, 29 tahun, seorang staf marketing di sebuah perusahaan teknologi, mengisahkan bagaimana ia dulu harus membawa dua pasang sepatu setiap hari. Satu bersol tebal untuk perjalanan pagi, satu lagi bertumit untuk keperluan rapat. "Tas saya selalu berat. Belum lagi ganti sepatu di toilet kantor sebelum masuk ruang meeting. Capek, jujur," kenangnya sambil tertawa kecil.
Perjalanan itu membuatnya mencari sepatu yang bisa menjawab dua kebutuhan sekaligus: formal namun tetap santai. Ia menemukannya pada sebuah merek lokal yang digawangi dua perempuan bersaudara asal Yogyakarta. Desainnya sederhana, dengan potongan slingback dan warna tanah yang mudah dipadukan. "Sejak itu saya cuma bawa satu pasang. Dari kantor sampai nongkrong bareng teman, ya sepatu ini," ujarnya.
Kisah Rani bukan cerita tunggal. Banyak perempuan urban merasakan hal serupa. Tuntutan mobilitas yang tinggi membuat mereka mencari alas kaki yang tidak hanya enak dipandang, tetapi juga nyaman dipakai berjam-jam. Di sinilah sepatu lokal menemukan ruangnya.
Perjuangan di Balik Layar Para Perajin Muda
Di sebuah rumah produksi sederhana di Cibaduyut, Bandung, seorang perajin bernama Ibu Wiwin, 47 tahun, duduk bersimpuh di lantai. Tangannya cekatan memotong kulit sapi yang akan menjadi bagian atas sepatu. Ia sudah tiga puluh tahun menekuni pekerjaan ini, tetapi baru beberapa tahun terakhir ia merasa hasil kerjanya benar-benar dihargai.
"Dulu kami cuma bikin sepatu sekolah. Modelnya itu-itu saja. Sekarang anak-anak muda datang bawa gambar, minta dibuatkan model yang aneh-aneh. Awalnya bingung, tapi jadi semangat," tuturnya dengan mata berbinar. Ia menyebut dirinya sempat ragu ketika diminta membuat sepatu dengan hak miring dan tali yang rumit. "Tapi saya coba terus. Ternyata bisa. Rasanya seperti menang lotre," tambahnya, lirih.
Kisah Ibu Wiwin adalah wajah lain dari industri sepatu lokal. Di balik desain chic yang dipajang di etalase butik atau diunggah ke media sosial, ada tangan-tangan terampil yang bekerja dengan sabar. Ada perjuangan, ada air mata ketika pesanan gagal, dan ada bangkit kembali ketika pasar mulai menerima.
Seorang desainer muda, Sari, 26 tahun, mengaku belajar banyak dari para perajin senior. "Mereka itu guru saya. Saya bisa gambar di kertas, tapi mereka yang tahu apakah gambar itu bisa diwujudkan atau tidak. Saling mengisi," katanya.
Momen Mengharukan Ketika Sepatu Lokal Dipakai di Panggung Dunia
Momen paling menyentuh datang ketika sejumlah label lokal mulai dilirik pasar internasional. Seorang pelanggan asal Singapura pernah mengirim pesan kepada pemilik merek lokal, bercerita bahwa ia memakai sepatu buatan Cibaduyut untuk menghadiri wisuda anaknya. "Saya terharu. Sepatu kami dipakai di momen penting orang," ujar pemilik merek itu, suaranya bergetar.
Bagi banyak perempuan, memilih sepatu lokal bukan sekadar soal gaya. Ada rasa bangga sederhana: ikut menghidupi perajin di kampung halaman, ikut menjaga warisan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sepatu itu menjadi saksi perjalanan dari kantor yang sibuk, kafe yang ramai, hingga perjalanan pulang yang lelah.
Di rak kayu butik Kemang tadi, perempuan muda itu akhirnya membawa pulang sepasang sepatu. Ia menuturkan rencananya memakai sepatu itu untuk wawancara kerja minggu depan dan kencan akhir pekan. "Semoga beruntung," katanya. Di luar jendela, kota terus berdenyut. Dan di kakinya, sebuah kisah lokal sedang melangkah, satu langkah kecil menuju mimpi yang lebih besar.
Comments (0)