Melacak Warisan Rasa Legendaris Lombok di Mandalika Street Food Festival

Di bawah langit senja Kuta, asap tipis menari di atas tungku tanah liat milik seorang perempuan paruh baya. Jemarinya yang sudah keriput tetap cekatan membalik sate-sate lilit yang sedang dipanggang, ...

Jul 12, 2026 - 15:56
0 0

Di bawah langit senja Kuta, asap tipis menari di atas tungku tanah liat milik seorang perempuan paruh baya. Jemarinya yang sudah keriput tetap cekatan membalik sate-sate lilit yang sedang dipanggang, sembari sesekali menyeka keringat di pelipis. Inilah sudut Lapangan Bazaar Mandalika, tempat berlangsungnya Mandalika Street Food Festival 2026, sebuah perhelatan yang menjadi ruang temu antara generasi dan cita rasa.

Perempuan itu adalah Ibu Musriah, penjaga resep sate bulayak warisan buyutnya. Di festival yang digelar 10 hingga 12 Juli 2026 ini, kehadirannya adalah magnet bagi para pemburu kuliner sejati. Area Bazaar Mandalika dan Kuta Lane—dua denyut utama acara—disulap menjadi panggung terbuka yang memamerkan kekayaan gastronomi Lombok.

Secercah Asa di Balik Lapak Sederhana

Bagi Ibu Musriah, festival ini bukan sekadar ajang berjualan. Ini是关于 perjuangan, ujarnya lirih, mengisahkan bagaimana ia nyaris kehilangan semangat saat pandemi melumpuhkan seluruh kegiatan pariwisata. “Saya hampir menutup warung, karena tidak ada lagi tamu yang datang. Tapi saya ingat pesan ibu saya, bahwa sate bulayak ini bukan hanya makanan, dia adalah doa dan identitas keluarga kami,” tuturnya. Kini, setiap gigitan sate bulayak buatannya seolah mengisahkan perjalanan panjang: dari dapur sederhana berukuran dua kali tiga meter, hingga mampu menggetarkan lidah para petualang rasa dari berbagai penjuru.

Antrean di lapaknya mengular. Wisatawan domestik dan mancanegara tak sabar mencicipi lilitan daging yang dibungkus ketupat lonjong khas Lombok itu. Seorang pengunjung asal Jakarta, Raka, mengaku tersentuh. “Rasanya bukan sekadar pedas dan gurih. Ada kehangatan yang tidak bisa saya jelaskan. Mungkin inilah yang disebut cinta yang diracik dalam bumbu,” katanya sambil tersenyum.

Kuta Lane: Lorong Kenangan yang Menggugah Selera

Berjalan sedikit ke sisi timur, Kuta Lane menjelma menjadi lorong kenangan. Gerobak-gerobak kayu berjajar menawarkan hidangan yang akrab di telinga namun sulit ditemukan dalam keseharian modern. Di ujung jalan, seorang pemuda, Adi, dengan penuh semangat menyajikan ayam taliwang resep neneknya. Tangannya yang masih muda tampak mahir membakar ayam di atas bara, menyiramnya dengan bumbu merah menyala.

Adi adalah generasi ketiga yang mewarisi resep tersebut. Ia meninggalkan pekerjaan kantoran di Mataram demi menekuni tradisi kuliner keluarga. “Banyak yang bilang saya gila. Tapi bagaimana mungkin saya tinggalkan warisan ini? Setiap kali ada yang bilang ayam taliwang saya seenak dulu, air mata nenek saya berlinang,” cerita Adi, suaranya bergetar. Momen inilah yang mewarnai festival: bukan hanya transaksi jual beli, tetapi juga pertukaran kisah hidup yang menyentuh.

Diplomasi Rasa dan Masa Depan Kuliner Lombok

Festival ini tidak melulu soal nostalgia. Di sudut lain, sekelompok anak muda dari komunitas kuliner kreatif Lombok memperkenalkan plecing kangkung dengan sentuhan kontemporer. Mereka menyajikannya dalam cone kertas daur ulang, dengan sambal tomat yang lebih ringan. Inovasi ini menarik perhatian wisatawan asing. Seorang backpacker dari Jerman, Lena, mengaku jatuh hati. “Ini adalah cara brilian memperkenalkan makanan tradisional kepada dunia. Saya tidak hanya makan, tapi juga belajar sejarah di setiap suapan,” pujinya.

Di balik kemeriahan, festival ini menjadi cermin bagi Lombok untuk memproyeksikan masa depan kuliner mereka. Perpaduan antara resep legendaris dan presentasi modern melahirkan diplomasi rasa yang mampu menembus batas budaya. Semangat bangkit dari keterpurukan, sebagaimana yang dirawat oleh Ibu Musriah dan Adi, menjelma menjadi energi kolektif yang menghidupkan seluruh kawasan.

Malam kian larut, lampu-lampu hias di Kuta Lane berkelip. Ibu Musriah menghitung dagangannya yang nyaris habis. Senyumnya merekah. Bukan karena keuntungan materi semata, melainkan karena ia bisa kembali merasakan denyut kehidupan di sekitar warungnya. Di festival ini, setiap orang bukan hanya berburu cita rasa legendaris, tetapi juga merayakan kemenangan manusia atas keterbatasan, lewat sepotong sate dan sepiring ayam taliwang yang sederhana namun begitu berarti. Mandalika Street Food Festival 2026 telah membuktikan bahwa makanan adalah jembatan paling jujur antara masa lalu, masa kini, dan impian tentang masa depan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User