Oct 13, 2026
entertainment

Malam Pertama Kim Ji-won di Doctor X, Rating Dua Digit dan Sorak di Ruang Produksi

Di sebuah ruang produksi berukuran tak lebih dari empat kali lima meter di kawasan Sangam, Seoul, Jumat malam itu berlangsung dalam detik-detik yang menegangkan. Ponsel bergetar, laptop menyala, dan s...

Malam Pertama Kim Ji-won di Doctor X, Rating Dua Digit dan Sorak di Ruang Produksi

Di sebuah ruang produksi berukuran tak lebih dari empat kali lima meter di kawasan Sangam, Seoul, Jumat malam itu berlangsung dalam detik-detik yang menegangkan. Ponsel bergetar, laptop menyala, dan sejumlah kru berdiri mengelilingi meja panjang sambil menahan napas. Mereka menunggu satu angka yang datang perlahan dari layar pemantauan rating nasional. Ketika angka itu akhirnya melompat menembus dua digit, ruangan yang tadinya senyap mendadak pecah oleh sorak dan tepuk tangan. Ada yang memeluk rekan di sebelahnya, ada pula yang diam-diam mengusap sudut matanya.

Malam itu adalah episode perdana Doctor X, drama yang membawa nama Kim Ji-won kembali ke layar kaca setelah jeda yang terasa panjang bagi para penggemarnya. Dan angka yang muncul di layar itu bukan sekadar statistik. Ia adalah jawaban atas berbulan-bulan kerja tanpa henti, jadwal syuting yang melelahkan, dan keyakinan yang sempat goyah ketika proyek ini masih berupa lembaran naskah di atas meja.

Sebuah Peran yang Membuatnya Belajar Kembali

Bagi Kim Ji-won, tokoh yang ia perankan bukanlah sosok yang mudah didekati. Ia mengisahkan bagaimana dirinya harus menghabiskan waktu berpekan-pekan untuk memahami isi kepala karakter tersebut, membaca ulang naskah di sela-sela waktu istirahat, dan berdiskusi panjang dengan sutradara hingga larut malam. "Ada malam-malam ketika aku pulang ke rumah dan masih membawa perasaan karakter ini ke dalam mimpiku," tutur Kim Ji-won dalam sebuah wawancara seusai pembacaan naskah beberapa waktu lalu. Kalimat itu diucapkannya dengan suara pelan, seolah mengenang kembali perjalanan yang tidak selalu mulus.

Pilihannya menerima tawaran ini pun bukan tanpa pertimbangan. Setelah sejumlah proyek besar sebelumnya, ia sempat merasa perlu ruang untuk bernapas, menjauh sejenak dari sorotan, dan menemukan kembali alasan mengapa ia jatuh cinta pada dunia akting. Doctor X datang di waktu yang tepat, seperti pintu yang terbuka ketika seseorang sedang mencari arah.

Kerja Keras di Balik Layar yang Tak Terlihat

Di balik gemerlapnya episode perdana, ada kisah lain yang jarang tersorot. Para kru mengisahkan bagaimana mereka kerap syuting hingga dini hari, mengejar cahaya matahari yang hanya sebentar, atau mengulang satu adegan belasan kali demi mendapatkan emosi yang tepat. Seorang penata kamera bercerita bahwa ia pernah tertidur di kursi setelah syuting maraton, sementara tim lain masih sibuk merapikan properti di lokasi.

Kim Ji-won disebut tak pernah mengeluh. Ia justru sering menjadi orang terakhir yang meninggalkan lokasi, memastikan setiap adegan sudah sesuai dengan yang ia bayangkan. "Dia selalu bertanya, apa lagi yang bisa kita perbaiki?" ujar seorang asisten sutradara. "Kalimat itu sederhana, tapi bagi kami artinya besar."

Bagi tim produksi, capaian rating dua digit pada malam pembuka bukanlah tujuan akhir. Ia lebih mirip tanda bahwa cerita yang mereka rawat dengan sepenuh hati telah sampai dan menyentuh penonton. Ada rasa bangga yang tak bisa disembunyikan, tetapi juga kesadaran bahwa perjalanan masih panjang dan tiap episode berikutnya harus tetap dijaga kualitasnya.

Harapan yang Tumbuh di Tengah Persaingan

Industri drama Korea belakangan ini memang penuh warna, dengan puluhan judul bersaing memperebutkan perhatian penonton setiap pekannya. Di tengah keramaian itu, sulit untuk membuat sebuah drama menonjol, apalagi di episode pertama ketika penonton belum mengenal karakternya. Karena itu, pencapaian Doctor X menjadi momen mengharukan tersendiri bagi mereka yang terlibat di dalamnya.

Seorang produser mengungkapkan bahwa ia sempat gugup sebelum episode itu mengudara. Ia mengaku sulit tidur, terus memeriksa tanggapan awal di media sosial, dan berharap cerita yang mereka bangun bisa diterima dengan hangat. "Kami hanya ingin kisah ini punya tempat di hati penonton," katanya. "Sisanya kami serahkan pada waktu."

Kini, tatapan mata seluruh tim tertuju pada episode-episode berikutnya. Mereka tahu, rating tinggi hanyalah awal, sementara kepercayaan penonton harus dirawat dari minggu ke minggu. Dan bagi Kim Ji-won, perjalanan ini seolah menjadi pengingat sederhana bahwa mimpi yang dirawat dengan sungguh-sungguh, pada akhirnya, menemukan jalannya sendiri untuk bersinar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User