Oct 13, 2026
entertainment

Mengelilingi Ka'bah: Perjalanan Hati di Tanah Suci

Matahari Rabu pagi itu belum terlalu tinggi di atas Masjidil Haram, tetapi panas sudah menyengat kulit. Di tengah lapangan mataf yang berpendar oleh pantulan cahaya, ribuan pasang kaki melangkah dalam...

Mengelilingi Ka'bah: Perjalanan Hati di Tanah Suci

Matahari Rabu pagi itu belum terlalu tinggi di atas Masjidil Haram, tetapi panas sudah menyengat kulit. Di tengah lapangan mataf yang berpendar oleh pantulan cahaya, ribuan pasang kaki melangkah dalam satu arah. Mereka mengelilingi Ka'bah — bangunan kubus hitam yang menjadi kiblat seluruh umat Islam — dengan langkah pelan namun pasti. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang ingin tergesa. Setiap putaran adalah doa, setiap langkah adalah bisikan hati yang tak selalu mampu diucapkan dengan kata-kata.

Di antara kerumunan itu, seorang perempuan paruh baya tampak menggenggam erat kain ihram putihnya. Matanya berkaca-kaca. Tangannya sesekali menengadah, lalu kembali menunduk. Ia mengisahkan bahwa perjalanan ke tanah suci ini bukanlah hal yang mudah. Bertahun-tahun ia menabung, menyisihkan sebagian penghasilan dari berjualan kue di pasar tradisional. "Saya tidak pernah membayangkan bisa sampai di sini. Setiap kali lelah, saya ingat Ka'bah. Itu yang membuat saya bangkit," tuturnya dengan suara bergetar.

Lebih dari Sekadar Ritual

Tawaf bukan sekadar gerakan mengelilingi Ka'bah tujuh kali. Bagi banyak jemaah, ini adalah momen mengharukan yang menguras air mata. Ada yang datang membawa nama anak-anaknya dalam doa, ada pula yang menitipkan harapan untuk orang tua yang telah tiada. Di balik layar keramaian ini, tersimpan kisah-kisah sederhana yang menyentuh: seorang bapak yang berjuang melunasi biaya haji dengan menjual sepeda motornya, atau seorang pemuda yang menunda pernikahan demi mewujudkan mimpi orang tuanya.

Seorang petugas haji yang berdiri di tepi mataf mengaku setiap hari ia menyaksikan pemandangan yang sama, namun tak pernah kehilangan rasa haru. "Mereka datang dari berbagai penjuru dunia, dengan bahasa yang berbeda, tetapi tujuannya satu. Melihat mereka menangis sambil berdoa, itu inspirasi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata," ujarnya.

Langkah Kecil Menuju Perubahan Besar

Banyak jemaah mengaku bahwa tawaf menjadi titik balik dalam hidup mereka. Seorang perempuan muda asal Sumatra mengisahkan bagaimana ia hampir menyerah pada keadaan. Ia pernah merasa hidupnya hampa dan tanpa arah. Namun, saat kakinya pertama kali menyentuh area mataf, ada sesuatu yang berubah. "Saya merasa seperti dilahirkan kembali. Semua beban yang saya bawa dari rumah seakan luruh di sini," katanya sambil tersenyum tipis.

Perjalanan spiritual ini memang tidak selalu mulus. Ada rasa lelah, sakit kaki, hingga rindu pada keluarga yang ditinggalkan. Namun, di antara semua itu, ada kekuatan yang membuat mereka bertahan. Kekuatan yang datang dari keyakinan bahwa setiap langkah kecil di tanah suci bernilai ibadah. Seperti yang diungkapkan seorang jemaah lansia yang berjalan dengan tongkat, "Saya tidak tahu apakah bisa kembali ke sini lagi. Karena itu, saya ingin menikmati setiap putaran, setiap detiknya."

Kisah yang Tak Pernah Usai

Hingga matahari kian meninggi, arus manusia di mataf tak juga surut. Mereka terus datang, mengalir seperti sungai yang tak pernah kering. Di sudut lain, tampak seorang ibu menggendong anaknya yang tertidur. Ia tetap melangkah meski tubuhnya tampak lelah. "Ini demi masa depan anak saya. Saya ingin dia tumbuh menjadi orang yang dekat dengan Tuhan," ucapnya lirih.

Pada akhirnya, tawaf adalah cermin dari perjalanan hidup manusia. Ada yang datang dengan hati penuh syukur, ada pula yang membawa luka dan harapan. Namun, semua berbaur dalam satu lingkaran yang sama, mengelilingi pusat yang sama. Di tanah suci itu, perbedaan warna kulit, bahasa, dan status sosial seolah melebur. Yang tersisa hanyalah manusia dengan segala kerapuhannya, berusaha mendekat kepada Sang Pencipta.

Momen seperti ini mengingatkan kita bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia, masih ada tempat di mana air mata dan doa menjadi bahasa universal. Sebuah perjalanan yang tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga menyentuh relung hati paling dalam. Di mataf Ka'bah, setiap langkah adalah kisah, dan setiap kisah adalah inspirasi yang tak akan pernah usai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User