Di sudut pasar tradisional yang mulai sepi oleh derasnya pusat perbelanjaan modern, tangan-tangan keriput seorang nenek tetap setia membungkus adonan tepung beras dengan daun pisang. Aroma pandan yang mengepul dari kukusan sederhana itu membawa ingatan pada masa kecil, saat kue nagasari menjadi teman setia sore hari. Nenek Sarmi, 68 tahun, mengaku telah menjajakan nagasari sejak usia belia, mewarisi resep dari ibunya yang tak pernah menuliskan takarannya di atas kertas.
"Anak saya bilang, mending jualan online. Tapi saya nggak ngerti, dan yang beli juga orang-orang tua yang sudah kenal rasa ini sejak dulu," ujarnya sambil tersenyum tipis. Ia mengisahkan, setiap hari ia harus bangun pukul tiga pagi untuk mengukus pisang kepok pilihan, lalu membungkusnya satu per satu. Baginya, nagasari bukan sekadar kue, melainkan perjalanan hidup yang ia jalani dengan sabar.
Rasa yang Bersembunyi di Balik Daun
Nagasari terbuat dari tepung beras, santan, gula, dan potongan pisang di bagian tengahnya. Namun, keistimewaannya justru terletak pada daun pisang yang membungkusnya. Daun itu memberikan aroma khas yang tidak bisa digantikan oleh plastik. Proses membungkus membutuhkan keterampilan tangan yang teliti, agar adonan tidak bocor saat dikukus. Di balik kesederhanaannya, ada mimpi tentang menjaga cita rasa yang mulai dilupakan generasi muda.
"Kalau bukan saya yang bikin, siapa lagi? Nanti kue ini hilang, dan cucu-cucu saya nggak akan pernah tahu rasanya," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Air mata haru sering kali menetes ketika ia mengingat almarhum suaminya, yang selalu membantu memotong pisang di sampingnya. Kini, kursi itu kosong, tetapi semangatnya untuk berjualan tak pernah surut. Ia berjuang bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk merawat kenangan.
Perjuangan di Tengah Gempuran Modernitas
Pandemi sempat membuat dagangannya sepi pembeli. Banyak pelanggan setianya memilih tinggal di rumah. Nenek Sarmi sempat berhenti berjualan selama tiga bulan. Namun, momen mengharukan datang ketika seorang pelanggan lama mencarinya hingga ke rumah, memesan sepuluh bungkus untuk acara syukuran. Sejak saat itu, ia kembali bangkit. Kini, ia kembali berjualan dengan sepeda tua yang dikayuh pelan, menyusuri gang-gang sempit.
Warga sekitar mengenalnya sebagai sosok yang ramah dan tak pernah mengeluh. "Bu Sarmi itu inspirasi. Kue nagasarinya selalu habis sebelum siang," ujar Rina, salah satu pelanggan setia. Baginya, membeli nagasari bukan hanya soal rasa, tetapi juga bentuk dukungan pada kisah perjuangan yang menyentuh.
Menjaga Nyala dari Generasi ke Generasi
Di rumahnya yang sederhana, Nenek Sarmi menyimpan satu resep lusuh bertuliskan tangan ibunya. Ia berharap suatu hari ada cucunya yang mau meneruskan. "Saya nggak minta banyak. Cuma ingin kue ini tetap ada, meski saya sudah nggak bisa bikin lagi," katanya lirih. Kisah sebungkus nagasari ini adalah potret kecil dari perjuangan mempertahankan warisan budaya kuliner di tengah arus zaman. Ada air mata, ada bangkit, dan ada cinta yang tak pernah pudar dalam setiap bungkusnya.
Comments (0)