Di balik layar lebar yang membentang di panggung Galeri Indonesia Kaya, tangan-tangan lincah para pengrajin wayang sibuk menata bayangan. Suasana riuh rendah bercampur tawa dan canda—sebuah pemandangan yang jarang terlihat dalam pertunjukan wayang kulit konvensional. Malam itu, bukan sekadar lakon Mahabarata atau Ramayana yang akan dipentaskan, melainkan sebuah cerita yang lebih membumi: persiapan pernikahan Petruk, si punakawan bijak.
Program bertajuk Wayang Jurnalis kembali hadir dengan lakon "Petruk Mantu", sebuah pertunjukan yang menggabungkan tradisi pewayangan dengan sentuhan jurnalisme humanis. Endang Nilowati, sosok di balik ide ini, tampak sibuk mengarahkan para dungik—sebutan untuk para pembantu dalam pagelaran wayang—yang akan terlibat langsung dalam adegan persiapan pernikahan. Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar melihat antusiasme para peserta yang notabene berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari jurnalis hingga mahasiswa.
Merangkul Tradisi dengan Cara Baru
"Saya ingin wayang bukan lagi sekadar tontonan, tapi juga menjadi ruang refleksi bagi kehidupan sehari-hari," ujar Endang dengan suara bergetar, menahan haru. Ia mengisahkan bagaimana ide ini lahir dari keprihatinannya melihat generasi muda yang mulai melupakan warisan budaya. Wayang Jurnalis, baginya, adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini—sebuah perjalanan untuk membangkitkan kembali rasa cinta pada tradisi.
Lakon "Petruk Mantu" sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Petruk, tokoh punakawan yang dikenal cerdas dan penuh humor, dianggap representasi dari manusia modern yang tetap setia pada akar budayanya. Dalam cerita ini, Petruk harus menghadapi berbagai dinamika menjelang pernikahannya—dari persiapan seserahan, undangan, hingga perdebatan kecil dengan calon mertua. Semua ini dikemas dengan dialog-dialog segar yang relevan dengan kehidupan masa kini, tanpa menghilangkan pakem pewayangan.
"Ada momen ketika Petruk bilang, 'Dene kula badhe nikah, kok ingkang ribet malah sanak sedulur,'" kenang Endang sambil tersenyum. "Itu kan sering terjadi di kehidupan nyata. Wayang jadi medium untuk menyindir tanpa menyinggung."
Air Mata di Balik Layar
Persiapan menuju malam pementasan tidak selalu mulus. Endang mengakui ada saat-saat ia merasa lelah dan hampir menyerah. Namun, semangat para dungik—yang sebagian besar adalah ibu-ibu rumah tangga dan pemuda karang taruna—kembali membangkitkan energinya. Mereka berlatih setiap akhir pekan, belajar menabuh gamelan, menata wayang, hingga memahami alur cerita.
"Saya melihat air mata mereka saat pertama kali berhasil memainkan wayang dengan benar," tutur Endang. "Itu bukan sekadar pertunjukan. Itu adalah perjuangan, mimpi, dan cinta yang mereka tuangkan." Salah satu dungik, Sri, mengaku awalnya hanya ikut-ikutan. Namun, kini ia merasa wayang telah menjadi bagian dari hidupnya. "Saya jadi tahu arti kebersamaan. Wayang mengajarkan saya sabar dan menghargai proses," ujarnya singkat.
Endang berharap, melalui Wayang Jurnalis, semakin banyak orang menyadari bahwa wayang bukanlah benda kuno yang usang. Ia adalah cermin kehidupan yang terus relevan. "Petruk Mantu" hanyalah satu babak dari perjalanan panjang. Masih banyak cerita lain yang ingin ia angkat—tentang pendidikan, lingkungan, hingga keadilan sosial.
Inspirasi yang Tak Pernah Padam
Malam itu, ketika lampu panggung mulai meredup dan bayangan wayang menari di layar, penonton terpukau. Tawa dan tepuk tangan mengiringi setiap adegan. Di sudut ruangan, Endang menyeka sudut matanya. Ia tak pernah menyangka bahwa ide sederhananya mampu menyentuh begitu banyak hati. "Saya hanya ingin berbagi. Ternyata, wayang bisa menjadi obat rindu pada kampung halaman, pada tradisi, pada kebersamaan yang mulai terkikis," katanya lirih.
"Petruk Mantu" bukan akhir. Justru, ini adalah awal dari kebangkitan. Endang dan para dungik telah membuktikan bahwa warisan budaya bisa hidup kembali jika disentuh dengan cara yang tepat—dengan cerita yang jujur, tulus, dan menyentuh. Bagi mereka, wayang adalah rumah. Dan malam itu, rumah itu terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin pulang.
Comments (0)