Malam 25 Ramadan, Ribuan Jamaah Khusyuk Menjemput Lailatul Qadar di Masjid Istiqlal
Aroma dupa bercampur dengan dinginnya lantai marmer menjadi saksi saat ribuan umat Muslim memasuki Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Sabtu malam. Tepat di mal
Aroma dupa bercampur dengan dinginnya lantai marmer menjadi saksi saat ribuan umat Muslim memasuki Masjid Istiqlal, Jakarta, pada Sabtu malam. Tepat di malam ke-25 Ramadan, langit yang biasanya temaram oleh polusi kota, malam itu terasa lebih teduh. Sejak pukul 20.00 WIB, arus jamaah terus mengalir dari berbagai penjuru, memenuhi ruang utama masjid hingga ke selasar-selasarnya. Tak sedikit yang datang dengan koper kecil berisi pakaian ganti, bersiap untuk bertahan hingga menjelang subuh.
“Saya sengaja ambil cuti dua hari agar bisa fokus beribadah di sini. Setiap tahun, saya selalu menanti malam ganjil terakhir ini,” tutur Aminah (42), seorang karyawan swasta yang datang bersama suami dan kedua anaknya. Dengan suara bergetar, ia menambahkan bahwa tahun ini terasa berbeda karena ia berdoa khusus untuk kesembuhan ibunya yang sedang berjuang melawan kanker. “Di sinilah saya merasa paling dekat dengan-Nya, memohon agar Lailatul Qadar menjadi titik balik kehidupan keluarga kami.”
Di sudut lain masjid, pemandangan serupa terlihat. Jamaah laki-laki dan perempuan, tua dan muda, duduk bersila dengan Alquran di pangkuan. Lantunan ayat suci terdengar bergelombang, saling bersahutan antara satu kelompok dengan kelompok lain. Imam besar masjid memimpin sholat Isya berjamaah, lalu dilanjutkan dengan sholat Tarawih yang malam itu terasa lebih panjang dari biasanya—seolah tak ada yang ingin tergesa meninggalkan ruang yang penuh kekhusyukan itu. Setelah witir, para jamaah semakin larut dalam ibadah individual: tahajud, tadarus, dan untaian doa yang dipanjatkan dengan isak tangis tertahan.
“Ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Malam ini, di sepuluh malam terakhir, khususnya di malam ganjil seperti malam ke-25, adalah waktu yang dijanjikan penuh kemuliaan. Saya melihat ekspresi harap dan cemas pada wajah-wajah mereka. Itulah keindahan Lailatul Qadar—mengajarkan kita untuk rendah hati sambil tetap penuh harap,” ujar Ustaz Fikri Maulana, salah satu pembimbing ibadah di Masjid Istiqlal. Ia mengaku selalu terharu melihat bagaimana masjid nasional ini berubah menjadi lautan manusia yang bersatu dalam satu tujuan: mengejar malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Petugas keamanan dan relawan sibuk mengatur lalu lintas jamaah, membagikan air mineral, dan memastikan protokol kesehatan tetap berjalan. Meski lelah, senyum mereka tak pudar. “Sebagai petugas, saya sebenarnya iri. Tapi melayani mereka yang beribadah juga bagian dari ibadah saya,” kata Rahmat, seorang relawan yang telah bertugas sejak sore hari. Di antara hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur, Masjid Istiqlal berdiri sebagai oase spiritual, tempat beban hidup diturunkan dan harapan-harapan baru ditegakkan.
Menangkap Makna di Balik Kerumunan: Lebih dari Sekadar Tradisi
Fenomena membludaknya jamaah di Masjid Istiqlal setiap malam ganjil Ramadan, khususnya malam ke-25, bukanlah sekadar cerminan religiositas yang tinggi. Ini adalah potret pencarian makna di tengah krisis multidimensi yang menimpa masyarakat urban. Psikolog sosial, Dr. Rini Andayani, menilai bahwa meningkatnya partisipasi dalam ibadah kolektif seperti ini berkaitan erat dengan tingkat stres dan ketidakpastian hidup. “Ketika struktur sosial dan ekonomi terasa rapuh, ruang spiritual menjadi tempat pelarian sekaligus sumber kekuatan yang paling mudah diakses. Di sinilah manusia menemukan kembali kendali atas narasi hidupnya,” jelasnya kepada kami.
Jika ditarik ke ranah personal, seperti kisah Aminah dan ribuan lainnya, ibadah malam itu menjadi bentuk terapi yang tak ternilai. Mereka tak sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi aktif menjemput berkah yang diyakini dapat mengubah takdir. Keyakinan bahwa doa di malam Lailatul Qadar diijabah membuat setiap tetes air mata dan rakaat tambahan terasa sebagai investasi spiritual yang paling berharga.
Dari sisi sosiologis, kehadiran lebih dari 20.000 jamaah yang tercatat mengisi area masjid dan pelataran sekitarnya hingga menjelang subuh, menunjukkan adanya solidaritas sosial yang unik. Hierarki dan status sosial seolah melebur ketika semua orang duduk di atas sajadah yang sama, menghadap kiblat yang sama, dan memohon kepada Tuhan yang sama. Inilah momen egaliter yang langka di ibu kota yang terkenal dengan segregasi sosialnya. Masjid Istiqlal, untuk satu malam, berubah menjadi ruang perjumpaan dan penyatuan umat yang paling jujur.
| Malam Ramadan | Estimasi Jumlah Jamaah | Suasana Dominan |
|---|---|---|
| Malam ke-21 | ± 15.000 | Khusyuk, mulai meningkat |
| Malam ke-23 | ± 18.000 | Antusias, harapan tinggi |
| Malam ke-25 | ± 22.000 | Puncak kekhusyukan, emosional |
| Malam ke-27 | ± 24.000 | Pengharapan, persiapan puncak |
| Malam ke-29 | ± 19.500 | Haru, perpisahan Ramadan |
Data di atas menunjukkan tren partisipasi yang terus menanjak hingga malam ke-27, yang umumnya diyakini sebagai malam paling potensial turunnya Lailatul Qadar. Namun, malam ke-25 punya tempat istimewa sebagai awal dari rangkaian malam ganjil terakhir yang paling krusial. Inilah malam ketika tekad diuji, dan hati mulai benar-benar ditundukkan.
Ketika adzan subuh akhirnya berkumandang, ribuan jamaah mengangkat tangan untuk terakhir kalinya, menutup malam panjang itu dengan doa penuh pengharapan. Aminah merapikan sajadahnya, memeluk anak-anaknya, dan melangkah keluar masjid dengan raut wajah yang lebih tenang. Ia tidak tahu apakah malam itu benar-benar Lailatul Qadar, tapi satu hal yang ia yakini: ia telah menjemputnya dengan segenap hati. Dan di situlah letak kemenangannya.
Comments (0)