Korban Tewas Kecelakaan Pantura Indramayu Bertambah Jadi 12 Orang

Hening menyelimuti lorong Instalasi Gawat Darurat RSUD Indramayu pada dini hari yang dingin itu. Seorang perempuan separuh baya duduk tertunduk di bangku panjang, tangannya meremas erat ujung mukena b...

Jul 13, 2026 - 13:24
0 0

Hening menyelimuti lorong Instalasi Gawat Darurat RSUD Indramayu pada dini hari yang dingin itu. Seorang perempuan separuh baya duduk tertunduk di bangku panjang, tangannya meremas erat ujung mukena basah yang masih ia kenakan. Matanya sembap. Ia baru saja menerima kabar bahwa putra sulungnya, yang sebelumnya masih bisa menggenggam tangannya seusai operasi pertama, akhirnya tutup usia. Air mata tak lagi bisa ia bendung. Di lorong yang sama, keluarga lain juga berjuang menahan duka yang tiba-tiba menghantam. Malam itu, jumlah korban meninggal dalam kecelakaan maut di Jalur Pantura, tepatnya di Desa Lohbener, Kabupaten Indramayu, kembali bertambah. Hingga kemarin, total korban jiwa mencapai 12 orang setelah beberapa pasien kritis akhirnya tak tertolong.

Detik-Detik Maut di Turunan Lohbener

Kecelakaan nahas itu terjadi pada Sabtu petang, sekitar pukul 17.30 WIB, ketika sebuah bus antarkota melaju dari arah Jakarta menuju Cirebon. Bus bernomor polisi B 7029 PGA itu mengangkut 48 penumpang, sebagian besar merupakan keluarga yang hendak pulang kampung untuk menghadiri hajatan pernikahan kerabat. Di kursi paling depan, duduk seorang kakek bersama cucunya yang baru berusia lima tahun. Di baris tengah, sepasang suami istri muda saling menyandarkan kepala, melepas lelah setelah sepekan bekerja di ibu kota.

Menurut saksi mata, saat melintasi turunan panjang di Kilometer 132 Jalur Pantura, bus tiba-tiba oleng ke kiri dan menghantam pembatas jalan. Sopir diduga kehilangan kendali setelah ban depan pecah. Bus kemudian terguling dan menabrak tiang listrik beton sebelum akhirnya berhenti dengan posisi miring ke kanan. Suara benturan keras terdengar hingga radius satu kilometer. Warga yang sedang beraktivitas di sawah dan warung tepi jalan langsung berlarian ke lokasi. Pemandangan yang mereka temukan sungguh memilukan: tubuh penumpang berhamburan, sebagian terjepit di antara bangku, sebagian lagi terlempar keluar melalui kaca jendela yang pecah.

Proses evakuasi berlangsung dramatis. Warga bahu-membahu dengan petugas yang tiba beberapa menit kemudian. Mereka harus memotong badan bus menggunakan alat sederhana karena unit penyelamat dari kabupaten memerlukan waktu lebih lama. Suara rintihan kesakitan dan teriakan histeris bercampur jadi satu. Momen mengharukan terjadi ketika seorang pemuda berhasil dikeluarkan dalam kondisi lemas, tetapi tangannya masih menggenggam erat foto keluarganya.

Perjuangan Medis dan Korban yang Tak Tertolong

Dua belas korban meninggal dunia tidak semuanya tewas di tempat. Enam orang dinyatakan meninggal di lokasi kejadian dengan luka parah di bagian kepala dan dada. Sementara itu, enam lainnya sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Indramayu dan RS Mitra Plumbon. Mereka mengalami pendarahan dalam, patah tulang rusuk, serta cedera otak traumatis. Dokter jaga IGD, dr. Santi Rahayu, mengisahkan bagaimana ia dan timnya bekerja tanpa henti selama 48 jam pertama. "Kami berusaha sekuat tenaga. Beberapa pasien bahkan sempat menunjukkan respons baik pascaoperasi. Namun, kondisi mereka memburuk dengan cepat," tuturnya dengan suara parau, Rabu (12/6).

Korban termuda yang meninggal di rumah sakit adalah seorang anak perempuan berusia tiga tahun. Ia mengalami koma akibat benturan di kepala dan akhirnya tutup usia di pangkuan ibunya yang juga dirawat di ruang yang sama, namun dengan luka lebih ringan. "Sang ibu terus memeluk jenazah buah hatinya sambil menangis tanpa suara. Itu pemandangan yang sangat menyentuh hati kami," lanjut dr. Santi. Tiga korban lainnya meninggal setelah tiga hari berjuang, termasuk seorang pria paruh baya yang menjadi tulang punggung keluarga. Istrinya yang selamat kini harus memulai perjalanan baru sebagai orang tua tunggal bagi dua anak mereka yang masih kecil.

Kisah di Balik Deretan Korban: Antara Mimpi dan Kepulangan

Di balik angka 12, tersimpan berlembar-lembar cerita yang tak akan pernah lagi menemui babak selanjutnya. Saiful (45), salah satu korban tewas di tempat, adalah seorang buruh bangunan yang baru pertama kali pulang setelah tiga tahun merantau. Ia ingin memberi kejutan kepada ibunya yang sakit-sakitan di kampung. Rekannya, Harun (52), sesama pekerja proyek, menuturkan bahwa Saiful bahkan membawa oleh-oleh kue bolu kesukaan sang ibu yang ia simpan di tas ransel lusuhnya. "Dia selalu cerita ingin segera tiba dan memeluk ibunya. Sekarang, ibunya hanya bisa memeluk nisannya," kata Harun lirih.

Ada pula kisah pasangan muda, Dian dan Rizky, yang baru menikah dua bulan sebelumnya. Mereka tengah dalam perjalanan menuju rumah mertua untuk kali pertama setelah resepsi. Dian selamat, sementara Rizky tak sadarkan diri dan meninggal keesokan harinya. Di akun media sosialnya, Dian mengunggah foto terakhir mereka di dalam bus, dengan keterangan singkat: "Pulang bersama, selamanya." Unggahan itu banjir doa dan air mata dari warganet yang turut merasakan kehilangan.

Satu per satu kisah ini muncul ke permukaan, mengingatkan bahwa di balik setiap korban yang tertulis dalam berita, ada mimpi yang terhenti, ada keluarga yang menunggu, dan ada cinta yang mendadak kehilangan wadahnya.

Peringatan bagi Pengguna Jalan dan Harapan Perubahan

Kecelakaan di Jalur Pantura Lohbener bukanlah yang pertama, dan sayangnya mungkin bukan yang terakhir. Jalur ini memang dikenal rawan karena memiliki tikungan tajam serta turunan panjang yang minim penerangan. Warga sekitar kerap menyaksikan insiden serupa, meskipun dengan skala yang lebih kecil. Kini, setelah peristiwa yang merenggut 12 nyawa ini, desakan untuk memperbaiki infrastruktur dan meningkatkan pengawasan kendaraan angkutan umum kembali menguat.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Indramayu menyatakan akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan pengelola jalan untuk menambah rambu peringatan serta lampu penerangan di titik rawan. Namun, bagi keluarga korban, janji itu hanyalah kata-kata yang tak mampu mengembalikan orang-orang tercinta mereka. Mereka kini hanya bisa bangkit dari duka, menguatkan satu sama lain, dan berharap agar kisah pahit ini tidak lagi terulang pada siapa pun.

Malam itu, rumah duka di beberapa sudut kampung di Cirebon dan Majalengka dipenuhi isak tangis. Lilin-lilin kecil dinyalakan di antara taburan bunga. Sementara itu, di RSUD Indramayu, kursi panjang di lorong IGD mulai lengang. Hanya tersisa segenggam kesedihan yang akan terus membekas dalam ingatan mereka yang ditinggalkan—sebuah pengingat bahwa keselamatan di jalan raya adalah tentang nyawa, bukan sekadar himbauan yang terlupakan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User