Kisah di Balik Renyah Rengginang Ketan Warisan Ibu

Di sudut dapur berukuran 2x3 meter, tangan keriput itu masih cekatan membalik butiran ketan yang mulai mengering. Sinar matahari pagi menyelinap lewat celah jendela kayu, menyentuh wajah Mbah Suti—p...

Jul 12, 2026 - 03:05
0 0
Kisah di Balik Renyah Rengginang Ketan Warisan Ibu

Di sudut dapur berukuran 2x3 meter, tangan keriput itu masih cekatan membalik butiran ketan yang mulai mengering. Sinar matahari pagi menyelinap lewat celah jendela kayu, menyentuh wajah Mbah Suti—perempuan 72 tahun yang telah melewati enam dekade sebagai perajin rengginang. "Ini bukan sekadar jajanan," bisiknya pelan sambil tersenyum, "ini cerita hidup saya."

Di usianya yang senja, Mbah Suti masih setia menekuni resep warisan sang ibu. Sebuah resep yang tak pernah ditulis, hanya diwariskan lewat sentuhan tangan dan ingatan yang dirawat lintas generasi.

Perjalanan Resep dari Dapur Kecil Desa

Mbah Suti mengisahkan awal mula perjalanan rengginang ketannya. Pada tahun 1965, ibunya mulai membuat penganan ini untuk dijual di pasar desa. "Waktu itu cuma modal ketan sama kelapa," kenangnya. Tidak ada takaran pasti, hanya naluri yang memandu setiap langkah. Ketan direndam semalaman, lalu dikukus hingga setengah matang. Setelah itu, dicampur parutan kelapa muda dan sedikit garam sebelum dikukus kembali hingga benar-benar tanak.

Momen mengharukan terjadi saat sang ibu mengajarinya membentuk bulatan-bulatan kecil yang kelak menjadi cikal bakal rengginang. "Ibu selalu bilang, tangan yang membentuk harus bersih, hati juga harus ikhlas. Kalau tidak, rengginangnya tidak akan mengembang sempurna," ujarnya dengan mata menerawang. Di balik layar setiap bulatan rengginang, tersimpan filosofi hidup yang sederhana namun menyentuh.

Rahasia Gurih dari Kesabaran

Proses pengeringan adalah kunci utama yang membedakan rengginang biasa dengan buatan Mbah Suti. Bukan hanya panas matahari yang berperan, tetapi durasi tiga hari penuh di bawah sinar alami. "Zaman sekarang banyak yang pakai oven, tapi rasanya beda," jelasnya. Butiran-butiran ketan yang telah dibentuk bulat pipih itu dijemur di atas tampah bambu, ditutupi kain tipis untuk melindungi dari debu, namun tetap membiarkan angin dan sinar matahari bekerja.

Setelah benar-benar kering, barulah proses penggorengan dimulai. Minyak kelapa murni yang sudah dipanaskan dengan api sedang menjadi medium terakhir sebelum rengginang mengembang menjadi cakram-cakram renyah. Aroma khas yang menyeruak dari penggorengan itu adalah perpaduan antara ketan yang matang sempurna dan minyak kelapa yang memberikan cita rasa gurih alami. "Tidak perlu penyedap buatan," tegasnya, "biarkan bahan-bahan yang bicara."

Rengginang Ketan Manis Gurih yang Bangkitkan Mimpi

Di tengah gempuran jajanan modern, Mbah Suti sempat merasa resepnya akan tenggelam. Namun, justru dari kegelisahan itu, cucunya, Dinda, mengambil peran yang tak terduga. Dengan memanfaatkan media sosial, Dinda mulai mengisahkan perjuangan sang nenek dan mengunggah foto-foto proses pembuatan rengginang. Responnya di luar dugaan—pesanan berdatangan, bukan hanya dari warga sekitar, tetapi juga dari luar kota.

"Saya tidak menyangka," kata Dinda dengan mata berkaca-kaca. Melihat sang nenek kembali bersemangat, bangun pagi untuk mengukus ketan, adalah pemandangan yang paling membahagiakan baginya. Air mata haru tak terbendung saat pesanan pertama dari Jakarta datang. "Nenek bilang, 'Ternyata rengginang saya bisa naik pesawat'," kenang Dinda sambil tertawa kecil.

Sekarang, dapur kecil Mbah Suti kembali hidup. Tampah-tampah bambu berjajar di halaman, di bawah langit biru yang sama dengan puluhan tahun lalu. Setiap gigitan rengginang ketan buatannya bukan hanya menghadirkan rasa gurih dan manis yang seimbang, tetapi juga membawa cerita tentang ketekunan, cinta, dan warisan yang tak ternilai. Dari dapur sederhana itu, sebuah resep terus berjuang melintasi zaman, membuktikan bahwa inspirasi bisa lahir dari hal-hal yang paling sederhana sekalipun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User