Kim Jae-joong Jadi Dukun, Misi Mencari Mahasiswa yang Hilang
Senja perlahan merambati langit, menyisakan semburat jingga yang beradu dengan kabut tipis. Di pelataran sebuah kuil tua yang berdiri di kaki gunung, tiga mahasiswa arkeologi bersiap mengakhiri hari. ...
Senja perlahan merambati langit, menyisakan semburat jingga yang beradu dengan kabut tipis. Di pelataran sebuah kuil tua yang berdiri di kaki gunung, tiga mahasiswa arkeologi bersiap mengakhiri hari. Namun, ketika azan maghrib berkumandang di kejauhan, mereka tidak pernah kembali. Hanya tas ransel dan gulungan peta yang tertinggal, seolah menyerap sunyi yang tiba-tiba mencekam.
Kabar hilangnya para mahasiswa itu segera menyebar. Pencarian oleh tim SAR dan aparat setempat tidak membuahkan hasil. Di tengah kebuntuan, seorang tokoh muda tak terduga muncul. Ia bukan polisi, bukan pula detektif. Ia seorang dukun.
Kim Jae-joong, sosok yang dikenal luas sebagai idola dan aktor, kali ini menjelma menjadi Yeon Woo—seorang praktisi spiritual yang enggan disebut dukun, namun memiliki kemampuan membaca jejak energi gaib. Dalam film The Shrine, Jae-joong menjalani peran yang menuntut ketenangan batin sekaligus keberanian menghadapi kengerian tak kasatmata.
Menyusuri Jejak di Antara Dua Dunia
Di dalam film, Yeon Woo dipanggil oleh keluarga salah satu mahasiswa yang putus asa. "Saya hanya ingin anak saya pulang. Kalau memang ada yang menghalangi, tolong lepaskan," ucap seorang ayah dengan suara bergetar saat bertemu Yeon Woo di teras rumahnya yang sederhana. Adegan ini, meski singkat, menjadi pintu masuk bagi penonton untuk merasakan kepedihan yang mendalam.
Yeon Woo tidak serta merta percaya bahwa ilmu gaib adalah jalan keluar. Ia sendiri tumbuh dengan trauma karena kemampuannya seringkali membuatnya dijauhi. Namun desakan hati nurani mengantarkannya ke kuil tempat para mahasiswa terakhir terlihat. Dengan membawa dupa dan beberapa helai kain putih, ia memulai ritual pendeteksian yang menggetarkan.
Kim Jae-joong mengaku peran ini memberinya perspektif baru. "Saya banyak belajar dari para penasihat spiritual. Mereka bukan orang aneh; mereka justru paling rasional karena harus membaca kenyataan dari sudut yang tak dilihat orang kebanyakan," tuturnya dalam sesi wawancara jelang pemutaran perdana.
Kegelisahan di Balik Hilangnya Para Mahasiswa
Para mahasiswa yang hilang bukanlah sekadar angka dalam cerita. Masing-masing memiliki mimpi dan hubungan yang terputus begitu saja. Ada yang sebentar lagi wisuda, ada pula yang sedang merintis penelitian tentang prasasti kuno. Melalui kilas balik, film ini menyelipkan potret keseharian mereka: tawa di kantin kampus, diskusi hangat di perpustakaan, hingga pesan singkat terakhir kepada orang tua yang tidak pernah sempat dibalas.
"Kami ingin penonton merasa kehilangan ini nyata, bukan sekadar premis horor," ujar sang sutradara, yang memilih merahasiakan detail plot untuk menjaga kejutan. Ia menekankan bahwa The Shrine bukan hanya tentang hantu atau kutukan, melainkan tentang ikatan manusia yang tidak bisa diputus meski oleh kematian.
Transformasi Fisik dan Mental Kim Jae-joong
Untuk menyelami karakter Yeon Woo, Kim Jae-joong menghabiskan waktu berminggu-minggu mempelajari gerak-gerik ritual dari komunitas adat. Ia bahkan berpuasa selama beberapa hari demi merasakan kondisi tubuh yang lemah secara fisik namun tajam secara spiritual. Hasilnya, tatapan matanya di sepanjang film terlihat jauh dan penuh beban, seolah menyimpan banyak rahasia langit.
Dalam salah satu adegan kunci, Yeon Woo harus memasuki lorong bawah tanah kuil yang gelap dan lembap, hanya diterangi sebatang lilin. Di sanalah ia menemukan bukti bahwa para mahasiswa terjebak di dimensi yang tidak bisa dijangkau manusia biasa. Suara isak tangis dan bisikan minta tolong bersahutan, membuat bulu kuduk berdiri. Jae-joong mengaku adegan itu sangat menguras emosinya hingga ia butuh waktu lama untuk kembali tenang.
Pesan di Balik Misteri
Lewat The Shrine, penonton diajak merenungkan bahwa tidak semua yang hilang benar-benar pergi. Adakalanya, mereka hanya tersesat dan menunggu seseorang yang cukup peka untuk mendengar. Di ujung perjalanan, Yeon Woo bukan hanya menemukan para mahasiswa, tetapi juga berdamai dengan masa lalunya sendiri.
"Kisah ini tentang keberanian menghadapi yang tidak terlihat, dan tentang cinta yang menolak menyerah," ujar Jae-joong. Sebuah pesan yang mungkin akan terus menggema, jauh setelah lampu bioskop kembali menyala, dan mungkin membuat kita lebih menghargai orang-orang terkasih yang masih di sisi.
Baca juga:
Comments (0)