Oct 13, 2026
entertainment

Seni Menolak Ajakan Nongkrong Mahal Tanpa Kehilangan Sahabat

Malam itu, di sebuah kafe pinggir jalan kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rania menatap layar ponselnya dengan ragu. Grup percakapan bertajuk "Anak Gaul Kekinian" kembali berisi ajakan makan malam di r...

Seni Menolak Ajakan Nongkrong Mahal Tanpa Kehilangan Sahabat

Malam itu, di sebuah kafe pinggir jalan kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rania menatap layar ponselnya dengan ragu. Grup percakapan bertajuk "Anak Gaul Kekinian" kembali berisi ajakan makan malam di restoran baru yang tengah viral. Estimasi biaya per orang: Rp350 ribu. Sementara di dompetnya, tersisa Rp200 ribu untuk bertahan hingga akhir pekan. "Rasanya seperti ditampar dua kali," ujarnya lirih, mengenang momen itu. "Sekali karena tak punya uang, sekali lagi karena takut dianggap pelit."

Kisah Rania bukan cerita tunggal. Di berbagai kota besar Indonesia, fenomena yang kian populer disebut sebagai gengsi finansial ini menjelma jadi dilema sehari-hari bagi generasi muda. Ajakan nongkrong yang dulu cukup dengan kopi sachet di teras rumah, kini bergeser menjadi ajang kuliner mewah, kafe estetik, hingga staycation di hotel berbintang. Di balik gemerlap unggahan media sosial, tersimpan kegelisahan yang jarang dibicarakan: bagaimana menolak dengan elegan tanpa kehilangan lingkaran pertemanan?

Ketika Dompet Berbicara Lebih Keras dari Hati

Psikolog sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Maya Anggraini, mengisahkan bahwa tekanan finansial dalam pertemanan sering kali berakar dari kebutuhan akan penerimaan sosial. "Remaja dan dewasa muda sedang berada di fase mencari identitas. Mereka takut dikucilkan, takut dianggap tidak update. Akibatnya, banyak yang memaksakan diri," tuturnya saat ditemui di ruang kerjanya yang penuh buku. Maya menambahkan, fenomena ini makin kuat karena media sosial menciptakan ilusi bahwa semua orang mampu. Padahal, di balik layar, tak sedikit yang berjuang dengan utang atau tabungan yang tergerus.

Data dari sebuah survei lembaga riset konsumen pada 2023 memperkuat hal itu. Hampir 60 persen responden usia 20 hingga 30 tahun mengaku pernah berutang demi mengikuti ajakan nongkrong. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia mewakili ribuan cerita diam-diam, tangis yang disembunyikan di kamar kos, dan mimpi yang harus ditunda karena pengeluaran tak terkendali.

"Aku pernah menolak tujuh kali berturut-turut. Rasanya seperti mengkhianati pertemanan. Tapi ketika aku jujur soal kondisi keuanganku, justru mereka jadi lebih menghargai aku."

Itulah pengakuan Dika, mahasiswa semester akhir di Bandung. Ia mengisahkan perjalanannya bangkit dari kebiasaan memaksakan diri. Dulu, ia rela tidak makan siang selama seminggu agar bisa ikut makan malam bersama teman-temannya. "Air mata itu nyata. Aku menangis di kamar mandi kampus, merasa paling miskin di antara mereka," kenangnya. Titik balik terjadi ketika seorang sahabat menepuk pundaknya dan berkata, "Kita nongkrong bukan buat makanan, tapi buat kebersamaan." Kalimat sederhana itu, kata Dika, menjadi inspirasi baginya untuk mulai jujur.

Bahasa Jujur yang Menyelamatkan Pertemanan

Lalu, bagaimana cara menolak ajakan mahal tanpa melukai perasaan? Konselor keuangan keluarga, Nurul Hidayah, membagikan sejumlah pendekatan yang bisa dipraktikkan. Pertama, gunakan kalimat yang jujur namun tetap hangat, misalnya, "Aku sedang atur ulang anggaran bulan ini. Gimana kalau kita cari tempat yang lebih santai?" Menurut Nurul, kunci utamanya adalah menawarkan alternatif, bukan sekadar menolak. "Orang merasa dihargai ketika diajak berdiskusi, bukan dihadapkan pada tembok penolakan," jelasnya.

Kedua, sampaikan kondisi finansial sebagai bagian dari perencanaan hidup, bukan kelemahan. "Aku lagi nabung buat sesuatu. Jadi harus ketat bulan ini," bisa menjadi kalimat yang efektif. Nurul menekankan bahwa transparansi justru membangun kepercayaan. "Teman sejati tidak akan menjadikan dompet sebagai ukuran loyalitas," tambahnya. Ketiga, ajak teman-teman menciptakan tradisi baru yang lebih ramah kantong, seperti memasak bersama di rumah, piknik di taman, atau maraton film di ruang tamu. Kegiatan sederhana ini, menurut Nurul, sering kali menghasilkan momen mengharukan yang lebih berkesan daripada makan di restoran mahal.

Pelajaran dari Mereka yang Berhasil Bangkit

Di sudut kota Yogyakarta, sebuah komunitas mahasiswa bernama "Nongkrong Hemat" berdiri sejak dua tahun lalu. Berawal dari lima orang yang lelah berpura-pura mampu, kini anggotanya mencapai lebih dari seratus. Mereka rutin menggelar acara akhir pekan dengan anggaran maksimal Rp25 ribu per orang. "Kami belajar bahwa kebahagiaan tidak diukur dari harga menu, tapi dari tawa yang lepas," ujar Sari, salah satu penggagas. Komunitas ini bahkan memiliki aturan tidak tertulis: tidak ada yang boleh memaksa, tidak ada yang boleh malu mengaku tidak punya uang.

Kisah-kisah seperti Rania, Dika, dan komunitas di Yogyakarta memberi satu pesan yang sama: kejujuran adalah jembatan yang menyelamatkan hubungan. Menolak ajakan mahal bukan berarti menutup pintu pertemanan. Justru di situlah karakter diuji. Mereka yang bertahan, menurut Nurul, adalah mereka yang menghargai manusia, bukan sekadar gaya hidup.

Rania kini tersenyum ketika mengingat masa-masa sulit itu. Ia telah belajar berkata tidak dengan lembut, dan teman-temannya justru semakin dekat. "Aku menemukan sahabat sejati bukan di meja restoran mewah, tapi di warung kopi sederhana tempat kami berbagi cerita dan mimpi," ujarnya, mata berkaca-kaca. Di balik setiap penolakan yang jujur, ternyata tersimpan keberanian untuk bangkit dan menjadi diri sendiri. Dan pertemanan, pada akhirnya, bukan tentang siapa yang membayar paling mahal, melainkan siapa yang tetap tinggal ketika dompet sedang kosong.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User