Aug 26, 2026
entertainment

Ketika Anda Perdana, Rico Murry, dan Damon Koeswoyo Bersatu dalam Satu Doa

Lampu studio hanya menyala redup dari satu sudut ruangan malam itu. Sebuah gitar akustik bersandar manja di kursi lipat, dua cangkir kopi dingin tertinggal di meja kayu kecil, dan tiga orang duduk ber...

Ketika Anda Perdana, Rico Murry, dan Damon Koeswoyo Bersatu dalam Satu Doa

Lampu studio hanya menyala redup dari satu sudut ruangan malam itu. Sebuah gitar akustik bersandar manja di kursi lipat, dua cangkir kopi dingin tertinggal di meja kayu kecil, dan tiga orang duduk berdekatan—tertawa pelan setiap kali potongan melodi lama tiba-tiba keluar dari ujung bibir salah satu dari mereka. Dari momen sederhana itulah lahir sebuah karya bernama "Doa Suciku di Luka yang Pertama", yang mempertemukan Anda Perdana, Rico Murry, dan Damon Koeswoyo dalam satu ruang yang sama.

Bagi banyak orang, nama-nama itu mungkin hidup di dunia yang berbeda-beda. Namun di ruangan intim itu, semua gelar dan masa lalu seolah dilucuti. Yang tersisa hanyalah tiga insan yang sama-sama jatuh cinta pada musik sejak muda, dan sama-sama pernah merasakan luka yang tak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Tiga Perjalanan, Satu Titik Temu

Kisah pertemuan mereka tidak dimulai dari naskah besar atau panggung megah. Semuanya berawal dari undangan sederhana untuk sekadar bermain musik bersama. Anda Perdana, penyanyi sekaligus penulis lagu yang telah puluhan tahun mengais perjalanan di industri ini, membawa sebuah demo rekaman kasar yang selama bertahun-tahun tersimpan diam di perangkat lamanya.

"Lagu ini saya tulis di masa yang paling sulit dalam hidup saya. Selama bertahun-tahun ia hanya tidur diam. Saya pikir, mungkin memang bukan waktunya," ungkap Anda Perdana, suaranya bergetar mengenang perjalanan panjang lagu tersebut.

Namun takdir berkata lain. Ketika demo itu diputar di hadapan Rico Murry, gitaris yang dikenal luwes menyeberangi berbagai genre, suasana ruangan mendadak hening. Rico meminta lagu itu diputar ulang. Lalu sekali lagi. Pada putaran ketiga, tangannya sudah mulai mencari akor-akor yang cocok untuk menyertainya.

"Ada doa di dalam lagu itu. Dan doa tidak butuh dekorasi berlebihan. Ia hanya butuh kejujuran," kata Rico Murry.

Di Balik Layar: Rekaman Sederhana yang Mengharukan

Proses rekaman pun digelar dengan cara yang sangat sederhana. Tanpa orkestra megah, tanpa aransemen yang bertele-tele. Justru kesederhanaan itulah yang menjadi kekuatan utama karya ini. Kehadiran Damon Koeswoyo—sosok legendaris yang irama drumnya telah menemani generasi demi generasi pendengar musik Indonesia—menambahkan warna emosional yang tak tergantikan.

Di usianya yang tidak lagi muda, Damon tetap datang lebih pagi dari jadwal. Ia duduk di belakang drum set, memegang stiknya seperti memeluk teman lama, lalu mendengarkan demo itu sampai selesai tanpa berkata sepatah kata pun.

"Musik yang jujur akan menemukan jalannya sendiri. Saya tinggal ikut alurnya," ujar Damon Koeswoyo di balik layar, disambut tawa hangat dari seluruh penghuni studio.

Sesi rekaman berlangsung selama beberapa hari. Ada satu momen ketika seluruh orang di ruang kontrol terdiam begitu take vokal pertama selesai direkam. Beberapa bahkan tak menyembunyikan air mata yang mengalir begitu saja. Bukan karena teknik yang sempurna, melainkan karena ketulusan yang terasa menusuk sampai ke dada.

Doa yang Lahir dari Luka

"Doa Suciku di Luka yang Pertama" mengisahkan tentang titik terdalam dalam perjalanan manusia: luka pertama yang sering kali paling sulit sembuh, dan doa sederhana yang muncul darinya. Karya ini mengajak para pendengar untuk berdamai dengan masa lalu, bangkit dari luka, dan percaya bahwa mimpi serta harapan tidak pernah benar-benar mati.

Bagi ketiganya, pesan itu bukan sekadar konsep di atas kertas. Ia adalah kisah nyata. Masing-masing membawa luka dan mimpi yang pernah nyaris padam. Industri musik tidak selalu ramah kepada mereka yang berjuang dengan cara yang jujur. Namun justru dari keropos itulah doa-doa kecil lahir dan tumbuh menjadi sesuatu yang menyentuh hati banyak orang.

"Kami ingin orang yang mendengarnya merasa didengar. Itu saja sudah cukup," tutup Anda Perdana dengan senyum tipis.

Kini, saat karya itu akhirnya siap bertemu para pendengar, ketiga musisi ini hanya berharap satu hal yang sederhana: agar setiap orang yang mendengarnya menemukan sedikit inspirasi dan kekuatan untuk bangkit. Karena pada akhirnya, musik yang lahir dari luka sering kali justru menjadi obat bagi luka orang lain.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User