Aug 26, 2026
entertainment

Di Balik Asap yang Padam, Raffi-Nagita Hadirkan Harapan Baru bagi Sade

Pagi itu udara di Rembitan, Lombok Tengah, masih menyimpan aroma arang. Deretan rumah panggung berdinding anyaman bambu yang selama puluhan generasi menjadi kebanggaan warga Kampung Adat Sade kini seb...

Di Balik Asap yang Padam, Raffi-Nagita Hadirkan Harapan Baru bagi Sade

Pagi itu udara di Rembitan, Lombok Tengah, masih menyimpan aroma arang. Deretan rumah panggung berdinding anyaman bambu yang selama puluhan generasi menjadi kebanggaan warga Kampung Adat Sade kini sebagian hanya menyisakan kerangka gelap. Namun di tengah abu yang berserakan, ada hal yang tak kunjung padam: para perempuan tetap menyapu pelataran tanah liat, memastikan kampung mereka tetap layak disapa matahari esok hari.

Kehadiran yang Tak Terduga

Kisah duka kampung wisata ini akhirnya menjangkau hingga Ibukota. Tak lama kemudian, sebuah perjalanan sederhana namun sarat makna pun dimulai. Raffi Ahmad bersama sang istri, Nagita Slavina, memilih hadir secara langsung — bukan sekadar lewat layar kaca, melainkan benar-benar berdiri di atas tanah yang masih menyimpan bara kenangan.

Sesampainya di lokasi, pasangan yang akrab disapa keluarga besar Rans ini tak membawa protokol berbelit. Raffi memeluk para lansia satu per satu, menggandeng anak-anak yang masih polos, sementara Nagita duduk bersila di berug, berbincang hangat dengan ibu-ibu yang rumahnya ludes dilalap si jago merah. Justru momen-momen kecil itulah yang menjadi bagian paling mengharukan dari kunjungan tersebut.

'Saya sampai merinding melihat mereka saling menguatkan. Rumah boleh hangus, tapi semangat gotong royong mereka justru semakin menyala,' ujar Nagita, suaraannya nyaris pecah, mengisahkan perbincangannya dengan para korban.

Titik Air Mata Saat Bantuan Diumumkan

Hening sesaat menyelimuti pelataran ketika Raffi mengumumkan bantuan senilai Rp1 miliar demi pemulihan kampung. Beberapa detik kemudian, isak tangis pecah di mana-mana. Seorang perempuan paruh baya memeluk erat tangan Raffi, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Bagi warga, angka itu bukan sekadar nominal — ia adalah tiket untuk mendirikan ulang atap alang-alang, membeli bambu segar, dan menyalakan kembali dapur-dapur yang sempat padam.

'Ini bukan soal angka. Kami ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian. Mimpi mereka untuk menjaga warisan leluhur harus terus hidup,' kata Raffi dengan suara dalam, disambut tepuk tangan dan doa dari warga yang berkumpul.

Di balik layar, tim pendamping mulai mencatat kebutuhan mendesak setiap kepala keluarga. Prioritasnya jelas: rumah-rumah adat yang rusak akan dipugar dengan tetap menjaga keaslian arsitektur Sasak, agar kampung ini tetap berdiri megah sebagai rumah budaya sekaligus sumber penghidupan warga.

Bukan Sekadar Santunan, Melainkan Kepulihan

Yang membuat kunjungan ini begitu menyentuh adalah cara Raffi dan Nagita memperlakukan warga sebagai keluarga, bukan sekadar penerima bantuan. Mereka menolak duduk di kursi tamu yang disiapkan, memilih bersimpuh di lantai tanah bersama penghuni kampung. Nagita bahkan ikut menenung bayi seorang ibu yang rumahnya habis terbakar, hingga si kecil tertidur pulas di pelukan artis cantik itu.

Warga mengisahkan bahwa sejak pagi, suasana kampung berubah. Duka yang semula menghantui perlahan bergeser oleh tawa anak-anak dan semangat gotong royong. Para pemuda kembali mengangkut bambu, para perempuan menyiapkan hidangan sederhana untuk dibagikan kepada tetangga. Api yang dulu melahap rumah kini digantikan oleh api kecil di tungku-tungku dapur — api yang menandakan kehidupan terus berjalan.

Harapan yang Menyala Kembali

Menjelang sore, ketika rombongan hendak berpamitan, warga berbaris memberikan salam dan doa. Seorang tetua kampung menggenggam tangan Raffi lama, lalu berkata pelan bahwa kebaikan seperti ini akan diingat sepanjang zaman, diwariskan dari mulut ke mulut kepada generasi berikutnya.

Kampung Adat Sade telah banyak mengisahkan perjalanan panjang orang Sasak menjaga identitas di tengah gempuran zaman. Kini, kisah baru tertulis di kampung itu: kisah tentang bangkit, tentang air mata yang jatuh bukan hanya karena duka, melainkan karena tersentuh kebaikan. Dan dari abu-abu yang tersisa, harapan tumbuh lagi — sederhana, namun menyala lebih terang dari sebelumnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User