Aug 26, 2026
entertainment

Selamat Jalan Dolly Parton: Kisah Sederhana yang Menghangatkan Hati Dunia

Cahaya lilin mulai bermunculan satu per satu di depan gerbang taman hiburan Dollywood, Pigeon Forge, Tennessee, pada Rabu pagi waktu setempat. Mereka datang tanpa diundang — ibu-ibu menggendong anak...

Selamat Jalan Dolly Parton: Kisah Sederhana yang Menghangatkan Hati Dunia

Cahaya lilin mulai bermunculan satu per satu di depan gerbang taman hiburan Dollywood, Pigeon Forge, Tennessee, pada Rabu pagi waktu setempat. Mereka datang tanpa diundang — ibu-ibu menggendong anak kecil, pria paruh baya memeluk gitar tua, remaja mengenakan wig pirang khas idola mereka. Semua bersiap menyanyikan lagu-lagu kesayangan untuk satu perempuan yang telah menemani hidup mereka selama lebih dari enam dekade. Di dalam kediamannya yang tenang, Dolly Parton, ikon musik country paling dicintai di dunia, telah menutup perjalanan panjangnya pada usia 80 tahun. Kabar duka itu dikonfirmasi keluarga pada Rabu (26/8) dini hari waktu Indonesia.

Keluarga mengisahkan bahwa ia berpulang dengan tenang dalam tidurnya, ditemani orang-orang yang paling dicintainya. Dalam pernyataan resmi, mereka meminta ruang untuk berduka, sekaligus berterima kasih atas doa dan kasih sayang yang mengalir dari seluruh penjuru dunia.

Momen Perpisahan yang Tenang

Seorang kerabat menceritakan bahwa malam-malam terakhir sang bibi berlangsung hangat dan sederhana. Ruangan tidak dipenuhi alat-alat berisik, melainkan lagu-lagu rohani yang dulu sering dinyanyikan sang ibu ketika Dolly masih kecil di pegunungan Smoky. “Beliau pergi begitu damainya, seperti sedang tertidur sambil mendengarkan lagu yang paling beliau cintai,” ujar kerabat itu dengan suara tercekat. “Kami menangis, tentu saja. Tetapi kami juga tersenyum, karena hidup beliau adalah kisah paling indah yang pernah kami kenal.”

Dari Kabin Kayu Menuju Mimpi Sebesar Langit

Perjalanan Dolly Parton dimulai dari tempat yang sangat jauh dari gemerlap panggung. Ia lahir pada 19 Januari 1946 di sebuah kabin kayu satu ruangan di Locust Ridge, Tennessee, sebagai anak keempat dari dua belas bersaudara. Listrik belum mengenal rumah mereka, dan dokter yang menolong persalinannya dibayar dengan sekantong tepung jagung. Namun di balik kemiskinan itu, ada musik. Sang ibu menghidupkan dongeng dan balada lama lewat nada yang mengalun setiap malam, menanamkan mimpi pertama pada anak kecil bertubuh kurus itu.

Pada usia tujuh tahun, paman memberinya gitar pertama. Tak lama kemudian, suaranya sudah mengudara lewat siaran radio lokal. Sehari setelah lulus sekolah menengah pada 1964, gadis muda itu naik bus menuju Nashville dengan koper karton berisi pakaian dan lembaran demi lembaran lagu ciptaannya sendiri. Ia berjuang bertahun-tahun, ditolak berkali-kali, sebelum akhirnya bangkit dan menjelma menjadi salah satu penulis lagu paling produktif dalam sejarah musik Amerika. Jolene, I Will Always Love You, dan 9 to 5 kini telah menjadi bagian dari ingatan kolektif dunia.

Di Balik Layar: Kemurahan Hati Sang Bintang

Kisah yang paling menyentuh justru terjadi di balik layar, jauh dari sorotan lampu panggung. Melalui program Imagination Library yang ia rintis pada 1995, Dolly menghadiahkan buku gratis setiap bulan kepada jutaan anak di berbagai negara — lebih dari 200 juta buku telah sampai ke tangan-tangan kecil yang dahulu seperti dirinya sendiri: anak kampung yang bermimpi besar dan menjadikan buku sebagai jendela inspirasi.

Saat kebakaran hutan melanda Tennessee pada 2016, ia diam-diam mendirikan dana bantuan dan memberi bantuan kepada ribuan keluarga korban agar dapat membangkitkan kembali rumah mereka. Ketika pandemi melanda dunia, sumbangannya senilai satu juta dolar turut mempercepat riset vaksin. “Aku hanya ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dariku sendiri,” pesan yang kerap ia ucapkan kini terdengar semakin bermakna.

Air Mata, Lilin, dan Lagu yang Tak Akan Padam

Berita kepergiannya membuat dunia seolah berhenti sejenak. Musisi lintas generasi menuangkan duka di media sosial, bunga-bunga menumpuk di kaki patung perunggunya di pusat kota Nashville, dan lagu-lagunya meroket kembali di tangga unduhan digital. Bagi banyak orang, ini adalah momen mengharukan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata — kehilangan sosok yang terasa seperti anggota keluarga sendiri.

“Buku-buku masa kecilku datang dari program beliau. Tanpa Dolly, aku mungkin tak akan pernah mencintai membaca, apalagi menulis,” tulis seorang penggemar, pesan yang dibagikan ulang puluhan ribu kali. Kisah-kisah semacam itu bermunculan di mana-mana, membuktikan bahwa pengaruhnya jauh melampaui nada-nada country yang ia ciptakan.

Dolly Parton pernah berkata bahwa ia ingin dikenang sebagai seseorang yang bekerja keras dan berbagi sebisa mungkin. Malam ini, di pegunungan Smoky yang sama tempat semua mimpi itu bermula, jutaan orang akan menyalakan lilin, menggenggam gitar, dan menyanyikan lagu-lagunya sekali lagi. Sang penyanyi telah pergi, tetapi suara yang menghangatkan hati itu — sederhana, tulus, dan penuh kasih — tidak akan pernah benar-benar padam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User