Sebuah kelompok parlemen Uni Eropa dilaporkan mengajukan mosi untuk menyelidiki saingan sayap kirinya terkait dugaan pelanggaran nilai-nilai UE. Kasus ini bermula dari dukungan yang diberikan Aliansi Eropa Kiri (ELA) terhadap gelombang protes mahasiswa di Prancis yang kian memanas dalam beberapa pekan terakhir.
Menurut laporan Politico yang mengutip sebuah surel yang diperoleh media tersebut, kelompok konservatif European Conservatives and Reformists (ECR) resmi mengajukan mosi pemeriksaan terhadap ELA. Tuduhan yang dilayangkan berupa pelanggaran “nilai-nilai Uni Eropa” karena dianggap memberi dukungan terhadap gejolak yang melanda negeri tetangga mereka.
Latar Belakang Gelombang Protes di Prancis
Protes mahasiswa telah mengguncang Prancis selama berhari-hari dan bahkan sudah menyebar hingga ke Belgia. Para mahasiswa menuntut peningkatan dana untuk sekolah negeri serta perbaikan kondisi belajar, antara lain penambahan jumlah guru, kelas yang lebih kecil, dan renovasi gedung-gedung sekolah yang sudah memprihatinkan.
Di sejumlah wilayah, unjuk rasa berujung bentrokan. Akibatnya, sekitar 400 sekolah menengah atas ditutup sepenuhnya sementara aparat menangkap sekitar 5.000 orang, yang sebagian besar masih berstatus remaja. Situasi ini menempatkan pemerintah Prancis di bawah tekanan politik sekaligus sorotan internasional.
“Tuntutan mahasiswa sangat jelas: sekolah negeri yang layak, guru yang memadai, dan gedung yang tidak membahayakan.” — salah satu pernyataan yang beredar di kalangan pendemo.
Sikap Sayap Kiri Prancis
Protes ini mendapat dukungan terbuka dari partai sayap kiri La France Insoumise (LFI) atau Prancis Tak Terjinakkan. Partai tersebut memerintahkan kadernya untuk turun ke jalan guna melindungi para mahasiswa dari aparat anti huru-hara, sekaligus mengimbau para pendemo agar tetap berjuang secara damai.
Namun, kantor perdana menteri Prancis — mengutip layanan intelijen — justru menuduh partai tersebut beserta “proxy sayap kirinya” telah merancang kekerasan itu dari awal. Tuduhan ini langsung dibantah keras oleh LFI, yang menyatakan tidak pernah memulai apalagi mengoordinasi kerusuhan tersebut.
- Korban penutupan: sekitar 400 sekolah menengah atas ditutup total.
- Korban penangkapan: sekitar 5.000 orang ditahan, mayoritas remaja.
- Perluasan wilayah: protes menyebar dari Prancis ke Belgia.
- Tuntutan utama: dana sekolah, lebih banyak guru, kelas lebih kecil, perbaikan gedung.
Politik Internal Parlemen Eropa
Mosi dari kelompok ECR ini menunjukkan betapa tegangnya hubungan antara sayap kanan dan sayap kiri di lingkungan Parlemen Eropa. Bagi ECR, mendukung gerakan yang berujung kerusuhan di negara anggota dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip yang dipegang Uni Eropa.
Sementara bagi ELA dan sekutunya, dukungan terhadap mahasiswa adalah bagian dari kebebasan berekspresi dan kritik terhadap kebijakan pendidikan yang dinilai kering. Perdebatan ini memperlihatkan bahwa isu domestik sebuah negara anggota kini dengan cepat berubah menjadi tarik-menarik ideologi lintas negara di Brussels.
Belum ada kepastian kapan mosi tersebut akan diproses lebih lanjut, sekaligus apakah penyelidikan resmi akan benar-benar dibuka. Yang jelas, konflik ini menambah panjang daftar perseteruan politik yang melibatkan nilai-nilai Uni Eropa, kebebasan sipil, dan batas-batas dukungan politik terhadap aksi jalanan.
• Dugaan pelanggaran nilai UE • 400 sekolah ditutup di Prancis • 5.000 orang ditahan, mayoritas remaja • LFI bantah terlibat merancang kekerasan
Comments (0)