Kasus Kecanduan Zat Berbahaya Kembali Muncul di Banten, Kali Ini Menimpa Anak Usia 8 Tahun
Sebuah rekaman video yang mengejutkan publik tersebar luas di media sosial. Video tersebut memperlihatkan seorang anak laki-laki berusia 8 tahun di wilayah Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Bant
Sebuah rekaman video yang mengejutkan publik tersebar luas di media sosial. Video tersebut memperlihatkan seorang anak laki-laki berusia 8 tahun di wilayah Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten, yang diduga mengalami kecanduan akut menghirup uap bahan bakar minyak jenis bensin. Menanggapi situasi darurat ini, pemerintah daerah setempat langsung bergerak cepat dengan menyiapkan langkah intervensi dan rehabilitasi.
Detik-Detik dalam Rekaman Viral
Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami pada Kamis (2/6/2026), video tersebut direkam di sebuah gubuk atau pos ronda yang biasa dijadikan tempat berkumpul anak-anak. Dalam rekaman itu, tampak seorang bocah mengenakan kemeja kuning sedang duduk bersama teman-teman sebayanya. Namun, perhatian warganet langsung tertuju pada benda yang digenggamnya erat: sebuah botol berisi cairan yang diyakini sebagai bensin.
Tanpa rasa takut, bocah tersebut membuka tutup botol dan secara berulang kali mendekatkan hidungnya ke mulut botol. Ia tampak menghirup aroma tajam bensin tersebut dalam-dalam, sebuah perilaku yang mengindikasikan praktik "ngelem" versi bahan bakar yang sangat berbahaya bagi perkembangan otak dan organ tubuh anak.
Respons Cepat Pemerintah Kecamatan
Tak tinggal diam, Camat Tirtayasa langsung turun tangan begitu video tersebut viral dan menjadi perbincangan hangat. Pihaknya mendatangi kediaman bocah tersebut untuk melakukan asesmen awal.
"Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial serta tenaga kesehatan setempat. Kondisi anak ini cukup memprihatinkan dan harus segera ditangani. Kami berencana untuk membawanya ke pusat rehabilitasi agar ia bisa lepas dari jeratan zat adiktif yang telah merusak masa kecilnya,"ujar Camat Tirtayasa dalam keterangannya yang dikutip media kami.
Pemerintah Kabupaten Serang menyatakan bahwa penanganan kasus ini tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi juga penguatan mental serta pengawasan orang tua. Diduga, lingkungan pergaulan menjadi faktor utama yang menjerumuskan anak tersebut ke dalam kecanduan menghirup bensin. Hingga saat ini, tim perlindungan anak masih terus mendalami apakah ada anak lain di lingkungan tersebut yang terlibat dalam praktik serupa.
Comments (0)