Kadek Andre Nuaba Analisis Dinamika Geopolitik Indo-Pasifik
PALEMBANG – Akademisi hubungan internasional dari Universitas Sriwijaya, I Kadek Andre Nuaba, menyampaikan analisis mendalam terkait pergeseran geopolitik
PALEMBANG – Akademisi hubungan internasional dari Universitas Sriwijaya, I Kadek Andre Nuaba, menyampaikan analisis mendalam terkait pergeseran geopolitik kawasan Indo-Pasifik yang dinilai semakin kompleks dan memerlukan respons strategis dari Indonesia. Dalam kuliah umum yang digelar secara terbatas di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik setempat, Kamis (15/6), ia memaparkan sejumlah faktor kunci yang membentuk lanskap keamanan dan kerja sama kawasan dewasa ini.
Bertajuk “Indonesia di Simpul Strategis Indo-Pasifik: Antara Peluang dan Risiko”, pemaparan tersebut menyoroti perubahan konstelasi kekuatan besar yang secara langsung memengaruhi stabilitas dan arah kebijakan luar negeri Indonesia. Kadek Andre Nuaba menekankan bahwa Indo-Pasifik telah menjadi medan kontestasi baru di tengah rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, sekaligus membuka peluang bagi negara-negara menengah seperti Indonesia untuk memainkan peran penyeimbang.
Faktor Pendorong Geopolitik Baru
Menurut Dosen Ilmu Hubungan Internasional itu, sedikitnya tiga faktor besar mendorong perubahan peta geopolitik kawasan. Pertama, modernisasi militer yang dilakukan oleh sejumlah negara pesisir, menciptakan dilema keamanan yang berpotensi memicu ketegangan. Kedua, kompetisi rantai pasok global yang mendorong negara-negara di Asia Tenggara untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan infrastruktur kritis. Ketiga, krisis iklim yang memicu migrasi nelayan tradisional dan ketidakpastian batas maritim, sehingga membuat diplomasi kelautan menjadi semakin penting.
“Kita harus jeli membaca dinamika ini. Indonesia tidak boleh hanya menjadi ajang bagi pertempuran pengaruh dua atau tiga negara besar. Kita harus mampu memanfaatkan posisi silang untuk menjaga keseimbangan dan menegakkan kepentingan nasional kita sendiri,” ujar Kadek Andre Nuaba saat menyampaikan paparannya.
Peran Indonesia dalam Arsitektur Regional
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti peran penting Indonesia dalam arsitektur regional, terutama melalui kepemimpinan di ASEAN dan keanggotaan di berbagai forum multilateral seperti G20, APEC, serta Indian Ocean Rim Association (IORA). Menurutnya, pendekatan khas Indonesia yang mengedepankan diplomasi senyap dan dialog harus terus dirawat, bahkan diperkuat dengan inovasi diplomasi digital yang menjangkau generasi muda.
Kadek Andre Nuaba menilai bahwa Presidensi Indonesia di KTT G20 tahun 2022 lalu menjadi contoh konkret bagaimana negara ini dapat mempertemukan kepentingan yang bertabrakan di tengah situasi geopolitik yang sangat tegang. Meskipun demikian, tantangan untuk menjaga kredibilitas sebagai penengah yang jujur tidaklah ringan, terutama ketika tekanan dari mitra-mitra utama semakin meningkat.
Diplomasi Maritim sebagai Pilar Utama
Salah satu poin yang ditekankan dalam kuliah umum tersebut adalah pentingnya diplomasi maritim sebagai pilar utama politik luar negeri Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan posisi strategis di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, Indonesia memiliki kepentingan langsung dalam menjamin kebebasan navigasi, perlindungan sumber daya laut, dan penguatan kerja sama keamanan maritim di kawasan.
“Keamanan maritim bukan sekadar soal patroli dan penegakan hukum di laut. Ini juga menyangkut akses terhadap teknologi pemetaan, informasi intelijen kelautan, dan pengelolaan stok perikanan secara berkelanjutan. Semuanya harus dikerjakan secara terintegrasi,” lanjutnya.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Lebih jauh, I Kadek Andre Nuaba menggarisbawahi beberapa peluang strategis yang bisa dimanfaatkan Indonesia, antara lain:
- Posisi sentral dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik global berkat cadangan nikel yang melimpah;
- Potensi menjadi hub logistik regional yang didukung percepatan pembangunan pelabuhan strategis;
- Peningkatan kerja sama Selatan-Selatan melalui forum G20 dan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific;
- Keterlibatan aktif dalam arsitektur kesehatan global pascapandemi.
Sementara itu, tantangan yang dihadapi meliputi militerisasi kawasan yang terus berlangsung, perang dagang yang mengganggu stabilitas ekonomi, dan ancaman siber terhadap infrastruktur vital nasional. Menurutnya, Indonesia harus membangun postur pertahanan yang modern sembari tetap mengedepankan pencegahan konflik melalui mekanisme dialog regional.
Di akhir paparannya, Kadek Andre Nuaba mengingatkan bahwa generasi diplomat dan analis hubungan internasional masa depan harus dibekali dengan kemampuan analisis berbasis data, pemahaman lintas budaya, serta penguasaan teknologi komunikasi. “Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendekatan konvensional. Sekarang kita butuh perspektif yang segar, keberanian berpikir, dan kolaborasi lintas sektor,” tutupnya.
Kuliah umum yang dihadiri sekitar 150 mahasiswa dan dosen ini berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang memperlihatkan antusiasme tinggi terhadap isu-isu mutakhir hubungan internasional. Kehadiran akademisi seperti I Kadek Andre Nuaba di kancah publik diharapkan dapat memperkuat diskursus kebijakan luar negeri Indonesia yang adaptif dan inklusif.
[SOCIAL_TWEET]: Dosen HI Unsri I Kadek Andre Nuaba ingatkan Indonesia jangan hanya jadi medan kontestasi kekuatan besar. Diplomasi maritim & peran aktif ASEAN jadi kunci. #IndoPasifik #DiplomasiMaritim #HubunganInternasional[SOCIAL_TG]: 🌏 Dosen HI UNSRI soroti pentingnya diplomasi maritim & posisi strategis Indonesia di Indo-Pasifik. Jangan cuma jadi penonton—saatnya perkuat peran penyeimbang!
Comments (0)