Jakarta — Sensasi Ngopi di Lantai 22 Trans Hotel Bikin Sulit Beranjak
Pagi di Jakarta sering kali datang bersama deru klakson dan langit yang terburu-buru. Namun, di salah satu sudut gedung pencakar langit, ada ruang yang men
Pagi di Jakarta sering kali datang bersama deru klakson dan langit yang terburu-buru. Namun, di salah satu sudut gedung pencakar langit, ada ruang yang menawarkan jeda—tempat kopi tidak hanya diseduh, tetapi juga diresapi bersama cakrawala. Di ketinggian lantai 22 Trans Hotel Jakarta, The 22nd Sky Lounge hadir bukan sekadar sebagai kafe, melainkan sebagai panggung bagi langit ibu kota yang perlahan bangun.
Begitu lift membuka pintunya, aroma biji kopi segar langsung menyapa, bercampur dengan wewangian kayu dan kulit dari interior yang didominasi warna bumi. Sofa rendah berbalut beludru, lampu gantung berdesain rumit, dan jendela setinggi langit-langit membuat siapa pun sejenak lupa bahwa mereka masih berada di jantung kota yang sibuk. Cahaya matahari pagi menembus kaca, menciptakan bayangan hangat di lantai marmer, seolah mengundang setiap tamu untuk duduk lebih lama.
Pagi yang Disuling dari Ketinggian
Rina, seorang pekerja kreatif yang tinggal di kawasan Kuningan, mengaku menjadikan tempat ini sebagai pelarian tengah pekan. “Saya biasanya datang sekitar pukul delapan, saat kota sudah ramai tapi di sini masih terasa tenang,” katanya, seraya menyesap cappuccino dengan busa yang masih mengilap.
“Lihat ke bawah, mobil-mobil kelihatan seperti semut. Tiba-tiba semua masalah terasa kecil. Ini bukan cuma ngopi, ini terapi.”
Pemandangan yang membentang dari lounge ini memang bukan sekadar latar. Dari ketinggian, gedung-gedung perkantoran, jalan protokol, hingga taman kota tampak seperti mosaik urban yang tertata rapi. Saat cuaca cerah, siluet pegunungan di selatan Jakarta bahkan terlihat samar di balik kabut tipis. The 22nd Sky Lounge sengaja dirancang menghadap ke arah selatan, menangkap panorama paling ikonik dari pusat bisnis Sudirman hingga kejauhan yang lebih teduh.
Lebih dari Sekadar Kafe
Menu yang ditawarkan pun tidak hanya mengandalkan lokasi. Kopi single origin dari berbagai daerah di Indonesia—mulai dari Gayo, Kintamani, hingga Toraja—diseduh dengan teknik manual brew yang teliti. Setiap cangkir hadir bersama catatan rasa yang bisa dibaca pengunjung, menjadikan aktivitas minum kopi sebagai pengalaman yang lebih intim.
Namun, yang membuat banyak tamu sulit beranjak bukan hanya rasa kopinya. Adit, barista senior di lounge ini, menyebut bahwa sebagian besar pengunjung datang bukan karena lapar atau haus, melainkan karena butuh ruang.
“Banyak yang datang sendiri, bawa laptop, lalu duduk sampai tiga jam. Ada juga pasangan yang sengaja memesan meja dekat jendela untuk breakfast date. Mereka ingin suasana yang tidak terburu-buru, dan kami berusaha memberi itu,”ujarnya sambil menyelesaikan latte art berbentuk angsa di atas cangkir pesanan tamu.
Fenomena ini mencerminkan perubahan cara masyarakat urban menikmati kopi. Kedai bukan lagi tempat transit, melainkan ruang ketiga yang menawarkan ketenangan di antara rumah dan kantor. Di The 22nd Sky Lounge, kebutuhan itu dijawab dengan kemewahan yang tidak dingin: pelayanan ramah, kursi yang nyaman, dan pemandangan yang terus berubah seiring bergeraknya matahari.
Ruang untuk Bernapas
Yang menarik, lounge ini juga menjadi saksi momen-momen kecil yang bermakna. Seorang tamu pernah merayakan ulang tahun pernikahan perak dengan sarapan sederhana di sudut ruangan, lengkap dengan kejutan kue dari pihak hotel. Cerita lain datang dari pengunjung yang sengaja datang setiap akhir bulan untuk menulis jurnal, ditemani secangkir teh chamomile dan langit senja yang mulai jingga.
Bagi mereka yang ingin merasakan kemewahan tanpa perlu menginap, The 22nd Sky Lounge membuka pintunya untuk umum, bukan hanya untuk tamu hotel. Ini adalah undangan terbuka untuk siapa saja yang merindukan jeda di atas kota—sebuah pengingat bahwa di tengah hingar-bingar Jakarta, selalu ada tempat yang menyediakan kopi hangat dan cakrawala tanpa batas.
Comments (0)