Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

JAKARTA — Orasi dari Atas Tumpukan Sayur, Panggung Perlawanan bagi Nasib Anak Bangsa

Mentari siang menyengat kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Selasa (8/7/2025). Namun terik itu tak menyurutkan semangat seorang wanita paruh baya yang berd

Jul 08, 2026 - 15:18
0 0
JAKARTA — Orasi dari Atas Tumpukan Sayur, Panggung Perlawanan bagi Nasib Anak Bangsa
Mentari siang menyengat kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Selasa (8/7/2025). Namun terik itu tak menyurutkan semangat seorang wanita paruh baya yang berdiri tegak di atas bak mobil terbuka. Pemandangan yang tak biasa itu sontak menyita perhatian: ia bukan berdiri di atas panggung megah atau podium berlapis karpet, melainkan di atas tumpukan sayur-mayur—kubis, wortel, dan tomat yang masih segar, seakan menjadi alas kakinya yang paling jujur. Tangannya mencengkeram pengeras suara. Suaranya bergetar, bukan karena lemah, tapi karena lantang menahan haru. Di hadapannya, puluhan massa aksi membentangkan poster bertuliskan "MBG untuk Anak Indonesia" dan "Lanjutkan Program Gizi Gratis". Di punggung mereka, kaus-kaus putih kusam—sebagian besar adalah pedagang pasar, buruh, dan ibu rumah tangga—berbaur dengan aroma khas sayuran yang justru menjadi saksi bisu perjuangan hari itu. "Kami di sini tidak mewakili partai, tidak mewakili elite. Kami cuma pedagang sayur, emak-emak pasar, dan pekerja harian yang ingin anak-anak kami tetap bisa sarapan bergizi di sekolah tanpa mikirin isi dompet," teriaknya lantang. Massa sontak bersorak, menimpali dengan pekik "MBG, yes! Penghentian, no!"

Panggung Sayur yang Bicara Banyak

Adegan itu bermula dari rencana aksi demonstrasi yang sedianya dipusatkan di Patung Kuda. Namun, gelombang massa yang mayoritas adalah perempuan pedagang ini memutuskan untuk bergerak ke Gedung Badan Gizi Nasional (BGN). Sebuah mobil bak terbuka yang biasanya digunakan mengangkut sayur pagi-pagi buta, mendadak disulap menjadi "panggung perlawanan". Tumpukan sayur yang masih segar itu bukan sekadar properti. Ia adalah pesan visual yang dalam—bahwa suara dari bawah, dari mereka yang setiap hari bersentuhan langsung dengan bahan pangan, memohon agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak dihentikan. "Saya jualan sayur sejak subuh, Bu. Kalau pagi, saya sering kasih tetangga yang anaknya nggak mampu beli sarapan. Eh, pas ada program MBG, anak tetangga saya itu bisa makan tahu tempe dengan lauk lengkap di sekolah. Saya lihat pipinya makin berisi. Siapa yang tega kalau ini dihentikan?" ujar Kartini (48), salah seorang pedagang yang berorasi dengan mata berkaca-kaca.
"Pemerintah bilang mau mengevaluasi program. Silakan dievaluasi, tapi jangan dihentikan. Anak-anak itu tidak bisa menunggu rapat anggaran selesai untuk bisa sarapan," kata Kartini disambut tepuk tangan.

Rahim Kampung yang Bergerak

Tak hanya Kartini. Sejumlah ibu lain bergantian naik ke atas bak mobil. Mereka tak membawa teks pidato, tak ada catatan kecil. Semua mengalir dari mulut dan hati. Mereka berbicara tentang anak-anak yang tiba-tiba lebih bersemangat ke sekolah, tentang pengeluaran rumah tangga yang sedikit longgar karena tak perlu memikirkan menu sarapan setiap hari. "Ini bukan soal politik, Pak. Ini soal isi piring anak saya. Kalau Bapak-Bapak di Senayan mau mengerti, tolong sesekali sarapan bersama kami di pasar, bukan di restoran hotel," kelakar seorang ibu bertubuh tambun yang sontak memancing tawa pedas dari massa. Di bawah kolong mobil bak itu, para pedagang berbagi air mineral dan beberapa potong ubi rebus—sebuah simbol yang ironis: mereka yang berjuang agar anak-anak lain kenyang, justru hanya berbekal seadanya.

Pesan yang Tak Boleh Basi

Aksi damai ini berlangsung sekitar tiga jam. Massa membubarkan diri dengan tertib, namun meninggalkan pesan yang menggantung: program makan bergizi gratis telah menjadi urat nadi harapan bagi keluarga kelas bawah. Bagi mereka, sayur di atas mobil bak bukan hanya komoditas dagangan, melainkan saksi bahwa dari tumpukan itulah, suara-suara kecil menggema hingga ke jantung ibu kota. Ketika mobil bak itu perlahan meninggalkan lokasi, Kartini dan kawan-kawannya kembali menjadi penjaja sayur. Namun sore itu, mereka bukan sekadar pedagang. Mereka adalah orator yang membuat tumpukan kubis terdengar lebih lantang dari pengeras suara mana pun.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User