Di sudut jalan Veteran, Jakarta Pusat, Pak Marzuki (54) menatap layar ponselnya dengan napas lega. Sudah tiga bulan ia menunda menukar dolar simpanannya. “Dulu sempat sampai Rp16.500, saya pilih simpan dulu. Sekarang sudah turun, lebih baik saya tukar sekarang buat modal tambahan warung,” tuturnya, sembari melangkah masuk ke money changer langganannya, Kamis (16/7/2020). Pak Marzuki hanyalah satu dari jutaan warga yang diam-diam merasakan denyut penguatan Rupiah dalam sepekan terakhir.
Bank Indonesia mencatat bahwa nilai tukar Rupiah tetap terkendali dan bergerak sesuai dengan fundamental ekonomi nasional. Di tengah ketidakpastian global akibat pandemi COVID-19, Rupiah justru menunjukkan daya tahan yang menggembirakan. Di lantai pasar spot, mata uang Garuda perlahan merangkak naik, memberi secercah optimisme pada pelaku usaha kecil seperti Pak Marzuki, juga pada para ibu rumah tangga yang mencicil barang impor, hingga pekerja migran yang mengirim remitansi ke kampung halaman.
Namun, cerita di balik layar ini bukan sekadar angka di papan elektronik. Bagi Sari (31), seorang perawat di kawasan Cikini yang baru saja menerima kiriman uang dari kakaknya di Hong Kong, penguatan Rupiah adalah pedang bermata dua. “Waktu Rupiah lemah, kiriman terasa besar. Sekarang Rupiah menguat, nilai tukarnya jadi lebih kecil. Tapi saya juga paham, kalau Rupiah kuat artinya harga barang di sini lebih stabil. Anak saya butuh susu, butuh obat—kalau harga turun kan saya juga terbantu,” ungkapnya dengan senyum tipis khas orang yang terbiasa menghitung setiap rupiah.
Fundamental yang Tak Lagi Diragukan
Gubernur Bank Indonesia, dalam pernyataan resminya, menegaskan bahwa pergerakan nilai tukar Rupiah sejalan dengan mekanisme pasar dan fundamental ekonomi yang solid. “Cadangan devisa kita memadai, inflasi rendah, dan neraca perdagangan surplus. Ini fondasi yang membuat Rupiah tidak mudah digoyang spekulasi,” ujar Deputi Gubernur BI, Dody Budi Waluyo (nama rekaan untuk narasi ini), dalam sebuah kesempatan wawancara.
Optimisme itu tertuang dalam data. Meski pandemi sempat membuat dollar melambung tinggi pada Maret-April 2020, memasuki triwulan ketiga, Rupiah berhasil memangkas pelemahannya dan menetap di kisaran yang lebih stabil. Laju pemulihan ini didorong oleh aliran modal asing yang kembali masuk ke pasar obligasi domestik, seiring meredanya kepanikan global dan langkah cepat pemerintah menangani dampak ekonomi COVID-19.
| Indikator | Maret 2020 (Awal Pandemi) | Juli 2020 (Saat Penguatan) | Perubahan |
| Kurs Rupiah (Rp/USD) | Rp16.575 | Rp14.620 | Menguat 11,8% |
| Cadangan Devisa (USD) | $121 miliar | $131,7 miliar | Naik $10,7 miliar |
| Inflasi Tahunan | 2,96% | 1,54% | Melambat signifikan |
| Yield Obligasi 10Y | 8,2% | 7,1% | Turun 110 bps |
Data di atas menunjukkan bahwa penguatan Rupiah bukanlah gerak sesaat.
“Pasar mulai menghargai langkah disiplin fiskal dan moneter Indonesia. Likuiditas global dari bank sentral negara maju juga mengalir ke emerging market yang punya imbal hasil menarik seperti Indonesia,” ujar ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, dalam diskusi virtual yang dikutip untuk laporan ini.
Di balik angka itu, ada kisah manusiawi yang tak kalah penting. Di Pasar Tanah Abang, para pedagang tekstil mulai melihat harga kain impor dari Tiongkok turun tipis. “Sedikit sih turunnya, tapi kalau dihitung untuk beli satu kontainer, selisihnya bisa jutaan rupiah. Lumayan buat tambahan modal Lebaran tahun depan,” kata Haji Rahman, pemilik toko kain yang sudah 20 tahun berdagang.
Bagi Bank Indonesia sendiri, keyakinan bahwa Rupiah akan terus menguat bukanlah isapan jempol. Instrumen stabilisasi seperti operasi moneter ganda (dual intervention) serta kebijakan burden sharing dengan pemerintah dalam pembiayaan defisit APBN menjadi tameng kokoh. Dengan cadangan devisa yang bertambah, BI memiliki amunisi cukup untuk menjaga Rupiah tetap dalam koridor fundamentalnya.
Ketika sore mulai turun di bilangan Thamrin, Pak Marzuki keluar dari money changer dengan amplop cokelat di tangan. Di dalamnya, terselip rupiah hasil penukaran 500 dolar. “Cukup buat nambah stok sembako di warung. Semoga Rupiah terus begini. Kalau Rupiah kuat, kami yang kecil-kecil ini juga ikut kuat,” ucapnya, lalu menyalakan motor bututnya, melaju pulang ke rumah petak di Cempaka Putih dengan harapan yang lebih besar dari sebelumnya.
Comments (0)