Di sebuah sudut meja kerja yang penuh tumpukan buku dan catatan, Intan Paramaditha pernah menuliskan kalimat-kalimat yang ia tahu tidak akan mudah dibaca dunia. Bertahun-tahun ia mengisahkan hal-hal yang sering dihindari: ketakutan, kemarahan perempuan, dan neraka yang tak selalu berwujud api. Kini, perjalanan panjang itu membawanya ke panggung yang jauh dari ruang kerjanya di Sydney — sebuah pengakuan internasional yang membuat banyak orang menahan napas.
Novel berbahasa Inggrisnya, Night of a Thousand Hells, resmi masuk dalam daftar bergengsi National Book Award 2026. Bagi Intan, ini bukan sekadar pencapaian karier. Ini adalah momen mengharukan ketika cerita-cerita yang lahir dari kegelisahan personal akhirnya didengar oleh dunia yang lebih luas.
Dari Kegelisahan Personal Menjadi Narasi Dunia
Intan bukan nama baru di dunia sastra. Ia dikenal lewat karya-karya yang berani membongkar sisi gelap mitologi dan budaya, terutama dari perspektif perempuan. Namun, Night of a Thousand Hells membawa dimensi berbeda. Novel ini mengisahkan perjalanan tokoh yang berhadapan dengan neraka — bukan dalam arti harfiah, melainkan metafora dari tekanan sosial, ekspektasi, dan luka batin yang sering dialami perempuan.
"Saya menulis ini karena saya merasa ada banyak neraka kecil yang kita jalani setiap hari, dan itu jarang diberi nama," ujar Intan dalam sebuah wawancara, suaranya tenang namun penuh penekanan.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyentuh. Ia tidak sedang berbicara tentang tragedi besar, melainkan tentang hal-hal sehari-hari yang sering diabaikan: rasa takut untuk berbicara, beban menjadi "perempuan baik-baik", dan mimpi yang harus disembunyikan.
Perjuangan di Balik Layar
Masuknya novel ini ke daftar National Book Award bukan hasil semalam. Di balik layar, ada bertahun-tahun proses menulis yang penuh keraguan. Intan pernah merasa tulisannya "terlalu aneh", "terlalu gelap", atau "tidak akan dipahami". Ia hampir menyerah beberapa kali.
"Ada masa saya berpikir, mungkin ini hanya untuk saya sendiri. Mungkin tidak ada yang peduli," kenangnya.
"Tapi saya ingat, cerita yang paling jujur biasanya adalah cerita yang paling menyentuh. Jadi saya lanjutkan."
Perjuangan itu juga datang dari sisi lain: sebagai penulis diaspora, Intan harus bergulat dengan pertanyaan identitas. Ia menulis dalam bahasa Inggris, tetapi akar budayanya tetap Indonesia. Ia harus memastikan bahwa cerita tetap autentik, tidak kehilangan jiwa, meski harus melewati proses penerjemahan budaya yang rumit.
Inspirasi bagi Penulis Muda
Kabar masuknya Intan ke daftar National Book Award 2026 langsung menyebar di kalangan penulis muda Indonesia. Banyak yang mengaku bangkit dan kembali membuka file-file lama yang sempat mereka tinggalkan.
"Ini bukti bahwa cerita dari kita bisa berdiri di panggung dunia," kata seorang penulis muda dari Yogyakarta, yang mengaku sempat ragu melanjutkan novelnya.
Bagi Intan, pencapaian ini bukan garis akhir. Ia justru berharap semakin banyak suara perempuan dan penulis dari latar belakang yang beragam mendapat ruang. Ia ingin Night of a Thousand Hells menjadi pintu, bukan sekadar monumen.
"Saya hanya ingin orang tahu, neraka itu bisa dikisahkan. Dan dari sana, kita bisa bangkit," tuturnya.
Di sudut ruangan itu, tumpukan buku dan catatan masih sama. Tetapi kini, ada satu hal yang berbeda: sebuah mimpi yang tidak lagi sederhana — ia telah menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Comments (0)