Oct 15, 2026
entertainment

Langkah Berani Sarwendah Adukan Nafkah Anak ke KPAI

Di lobi sebuah gedung pemerintah yang ramai oleh aktivitas pagi, seorang perempuan berjalan dengan langkah mantap. Ia mengenakan pakaian sederhana, rambut tersanggul rapi, dan tatapan matanya lurus ke...

Langkah Berani Sarwendah Adukan Nafkah Anak ke KPAI

Di lobi sebuah gedung pemerintah yang ramai oleh aktivitas pagi, seorang perempuan berjalan dengan langkah mantap. Ia mengenakan pakaian sederhana, rambut tersanggul rapi, dan tatapan matanya lurus ke depan. Tidak ada senyum yang dipaksakan, tidak ada gestur berlebihan. Namun di balik ketenangan itu, tersimpan pergulatan panjang seorang ibu yang memilih berdiri di garis terdepan demi masa depan buah hatinya. Sarwendah, nama yang selama ini akrab di layar kaca, memutuskan mendatangi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk mengadukan persoalan nafkah dan pengasuhan anaknya.

Kedatangan perempuan itu bukan tanpa alasan. Ia mengisahkan bahwa persoalan nafkah anak bukan sekadar angka di atas kertas perjanjian, melainkan menyangkut kelangsungan hidup, pendidikan, dan rasa aman seorang anak yang sedang bertumbuh. "Saya datang ke sini bukan untuk menyerang siapa pun. Saya datang sebagai ibu yang ingin memastikan anak saya mendapatkan haknya," ujarnya dengan suara bergetar namun tegas, seperti dikutip dari keterangannya kepada awak media.

Ketika Seorang Ibu Memilih Bersuara

Dalam banyak kasus perceraian, persoalan nafkah kerap menjadi bagian paling menyakitkan yang jarang dibicarakan terbuka. Banyak perempuan memilih diam karena takut dianggap materialistis, atau khawatir konflik semakin memanas. Namun Sarwendah memilih jalan berbeda. Ia percaya bahwa memperjuangkan hak anak bukanlah tindakan mencari sensasi, melainkan kewajiban moral yang tidak bisa ditawar.

"Selama ini saya berusaha menyelesaikan semuanya secara baik-baik. Tapi kalau sudah menyangkut anak, saya tidak bisa diam saja," tuturnya. Kalimat itu keluar bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pengakuan seorang ibu yang telah lama menahan perasaan demi menjaga kedamaian.

Langkah Sarwendah mendatangi KPAI menjadi momen mengharukan bagi banyak pihak. Sebab di balik sosok publik yang selalu tampil ceria di televisi, ternyata ada perempuan biasa yang harus berjuang menghadapi persoalan rumah tangga yang rumit. Air mata yang sempat tampak di sudut matanya saat berbicara tentang anaknya menjadi bukti bahwa ini bukan drama di atas panggung, melainkan luka nyata yang ia coba sembuhkan dengan cara yang benar.

Perjuangan yang Tak Selalu Terlihat Kamera

Di balik layar kehidupan seorang figur publik, ada perjalanan panjang yang jarang terungkap. Sarwendah mengaku telah melalui berbagai upaya persuasif sebelum akhirnya memutuskan membawa persoalan ini ke lembaga perlindungan anak. Ia mencoba komunikasi, mencari titik temu, dan menahan ego demi kebaikan bersama. Namun ketika kesepakatan tak kunjung terwujud, ia sadar bahwa ada hak anak yang tidak boleh terus dikorbankan.

"Saya sudah coba berbagai cara. Tapi kalau memang harus lewat jalur resmi, saya siap," ucapnya. Pernyataan itu sederhana, namun menyimpan beban emosional yang berat. Seorang ibu yang harus memilih antara menjaga hubungan baik atau memperjuangkan hak anaknya.

KPAI sebagai lembaga yang berfokus pada perlindungan anak mencatat bahwa kasus seperti ini bukan hal baru. Banyak orang tua pasca perceraian menghadapi kesulitan dalam memastikan nafkah dan pengasuhan anak berjalan sesuai kesepakatan. Kehadiran Sarwendah diharapkan menjadi pengingat bahwa persoalan anak adalah prioritas yang tidak bisa ditunda atau diabaikan.

Pesan untuk Orang Tua di Luar Sana

Kisah Sarwendah adalah cermin bagi banyak keluarga yang tengah berada di persimpangan. Ia tidak sedang mencari simpati, melainkan ingin menyampaikan pesan bahwa anak-anak adalah pihak paling rentan ketika orang tua tidak lagi satu atap. Nafkah bukan hanya soal uang, tetapi tentang kepastian masa depan. Pengasuhan bukan hanya soal jadwal bertemu, tetapi tentang kehadiran yang membentuk karakter.

"Anak-anak itu tidak minta dilahirkan dalam situasi seperti ini. Jadi tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan mereka tetap merasa dicintai," kata Sarwendah, dikutip dari pernyataannya.

Langkahnya mendatangi KPAI mungkin dianggap sebagian orang sebagai keputusan berat. Namun bagi Sarwendah, ini adalah bentuk cinta yang tidak bisa lagi disembunyikan. Seorang ibu berjuang bukan karena ingin menang, tetapi karena ingin anaknya bangkit dengan rasa aman dan harga diri yang utuh.

Hari itu, di lobi gedung yang ramai, Sarwendah bukan sekadar figur publik. Ia adalah ibu. Dan seperti jutaan ibu lain di luar sana, ia hanya ingin memastikan bahwa mimpi anaknya tidak padam oleh persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin dan hati yang lapang.

Kisah ini menjadi pengingat menyentuh bahwa di balik setiap perceraian, selalu ada anak yang menunggu keputusan dewasa dari orang-orang yang seharusnya menjadi pelindungnya. Inspirasi dari keberanian Sarwendah adalah bahwa memperjuangkan hak anak bukanlah tindakan egois, melainkan bentuk tanggung jawab paling murni yang dimiliki seorang ibu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User