Oct 15, 2026
entertainment

Daisy Fajarina dan Perjuangan Seorang Ibu Mencari Keadilan di Bareskrim

Langkah kaki seorang perempuan paruh baya terdengar mantap menyusuri koridor gedung Bareskrim Polri. Hari itu, Daisy Fajarina bukan datang sebagai sosok yang selama ini dikenal publik sebagai ibunda M...

Daisy Fajarina dan Perjuangan Seorang Ibu Mencari Keadilan di Bareskrim

Langkah kaki seorang perempuan paruh baya terdengar mantap menyusuri koridor gedung Bareskrim Polri. Hari itu, Daisy Fajarina bukan datang sebagai sosok yang selama ini dikenal publik sebagai ibunda Manohara Odelia Pinot. Ia datang sebagai seorang ibu yang lelah, namun tetap tegak berdiri, membawa setumpuk dokumen dan luka batin yang tak mudah diceritakan.

Di sudut ruang tunggu yang dingin, ia duduk seorang diri. Tatapannya kosong, sesekali menerawang ke arah pintu penyidik. "Saya sudah tidak tahu lagi harus mengadu ke mana," ujarnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh kebisingan ruangan. Kalimat itu keluar bukan tanpa alasan. Ia mengaku telah mengalami serangkaian tekanan yang membuatnya merasa seperti dikejar bayangan di siang bolong.

Perjalanan Daisy menuju meja penyidik bukan perkara singkat. Ia mengisahkan bagaimana rasa aman yang dulu ia anggap hal biasa, kini menjadi barang mahal. Setiap kali keluar rumah, ada saja hal yang membuat hatinya berdebar. Bukan karena usia, melainkan karena rasa waswas yang terus menghantui. "Saya hanya ingin hidup tenang. Itu saja," tuturnya, menyembunyikan getar di ujung kalimat.

Ketika Seorang Ibu Memilih Berbicara

Ada momen ketika seseorang memilih diam karena takut, tetapi ada pula momen ketika diam justru terasa lebih menyakitkan. Bagi Daisy, keputusan melapor ke Bareskrim adalah puncak dari keberanian yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit. Ia sadar, langkah ini tidak akan mudah. Nama besarnya sebagai ibu dari publik figur membuat setiap gerak-geriknya menjadi sorotan.

Namun, ia tak lagi peduli. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana menghentikan apa yang ia sebut sebagai dugaan premanisme yang dialaminya. "Saya bukan mau mencari musuh. Saya cuma ingin dilindungi," katanya dengan mata berkaca-kaca. Kalimat itu menggambarkan betapa lelahnya seorang ibu yang telah melalui banyak badai hidup.

Di balik layar, Daisy ternyata menyimpan catatan-catatan kecil. Ada tanggal, ada kejadian, ada nama. Semua ia tulis rapi dalam buku bersampul cokelat yang ia bawa ke mana-mana. Buku itu seperti saksi bisu dari perjalanan panjangnya mencari keadilan. "Ini bukan cerita satu dua hari. Ini sudah lama," ujarnya sambil menggenggam buku itu erat-erat.

"Saya ini cuma ibu rumah tangga. Tapi kalau sudah menyangkut keselamatan, saya harus berani."

Kalimat itu ia ucapkan tanpa nada dramatis. Justru kesederhanaannya yang membuat ruangan terasa hening. Seorang ibu, dengan segala keterbatasannya, berdiri di garis depan untuk memperjuangkan haknya. Bagi banyak orang, ini mungkin hanya berita. Namun bagi Daisy, ini adalah babak baru dari perjalanan hidup yang penuh liku.

Mimpi Sederhana yang Belum Terwujud

Daisy tidak pernah bermimpi menjadi pusat perhatian. Ia hanya ingin menua dengan tenang, melihat anak-anaknya bahagia, dan tidur tanpa rasa takut. Namun hidup membawanya ke jalan yang berbeda. Ia harus berhadapan dengan berbagai pihak, termasuk aparat hukum, demi sebuah kata: aman.

Dalam perbincangan dengan penyidik, ia menyampaikan harapannya. Bukan harapan yang muluk-muluk. "Saya ingin kasus ini diproses. Saya ingin ada kepastian," tegasnya. Ia percaya, hukum masih punya tempat untuk orang-orang seperti dirinya. Meski di sisi lain, ia juga menyadari bahwa jalan ini tidak akan mulus.

Ada kalanya ia merasa sendirian. Tetapi dukungan dari orang-orang terdekat membuatnya bangkit. "Anak-anak saya yang menguatkan. Mereka bilang, jangan takut, Bu," ungkapnya. Air mata yang sempat tertahan akhirnya jatuh juga. Bukan karena lemah, melainkan karena beban yang terlalu lama dipendam.

Momen Mengharukan di Ruang Penyidik

Saat menyerahkan berkas laporannya, tangan Daisy tampak sedikit bergetar. Petugas yang menerima laporan berusaha menenangkannya. Proses itu berlangsung sekitar satu jam. Keluar dari ruangan, wajahnya masih tegang, namun ada sedikit kelegaan yang terpancar. "Setidaknya sudah saya sampaikan," katanya singkat.

Ia kemudian melangkah keluar gedung, menyusuri trotoar yang panas. Langit Jakarta siang itu terik, tetapi ia tetap berjalan dengan punggung tegak. Di dalam tasnya, masih ada salinan laporan yang baru saja ia terima. Lembar itu bukan sekadar kertas. Ia adalah simbol perjuangan, harapan, dan keberanian seorang ibu.

Kisah Daisy Fajarina mengingatkan kita bahwa di balik setiap nama besar, ada manusia biasa yang bisa terluka. Ada ibu yang bisa lelah. Ada perempuan yang bisa takut. Tetapi di saat yang sama, ada pula keberanian yang lahir dari cinta. "Saya melakukan ini bukan untuk gagah-gagahan. Saya melakukan ini karena saya harus," pungkasnya.

Perjalanan hukumnya mungkin masih panjang. Namun bagi Daisy, satu hal sudah pasti: ia telah memilih untuk tidak diam. Dan itu, bagi seorang ibu, adalah bentuk cinta yang paling sederhana sekaligus paling kuat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User