Aug 25, 2026
Hukum

Inggris — Andy Burnham Kritik Wawancara Kerja Berbasis AI

London, Beritaseputar.com — Transformasi digital yang masif dalam proses rekrutmen tenaga kerja di Inggris kini menuai kritik tajam. Sebuah riset terbaru m

Inggris — Andy Burnham Kritik Wawancara Kerja Berbasis AI

London, Beritaseputar.com — Transformasi digital yang masif dalam proses rekrutmen tenaga kerja di Inggris kini menuai kritik tajam. Sebuah riset terbaru menunjukkan bahwa hampir separuh pelamar pekerjaan di negara tersebut pernah diwawancarai oleh robot berbasis kecerdasan buatan atau AI bot, bukan oleh manusia. Fenomena ini tidak hanya mengubah lanskap pencarian kerja, tetapi juga memicu frustrasi meluas di kalangan pencari kerja, terutama generasi muda yang banyak menyerah setelah berulang kali ditolak tanpa pernah berinteraksi langsung dengan seorang pun.

Tren otomasi dalam hiring tersebut telah mengubah wawancara kerja dari momen dialog manusiawi menjadi proses mekanis yang dingin. Banyak pelamar mengeluhkan bahwa sistem kini lebih menilai kemampuan seseorang dalam mengakali algoritme daripada menggali potensi dan kualitas personal sebenarnya. Bagi kaum muda yang baru memasuki dunia kerja, pengalaman ditolak berulang kali tanpa mendapatkan umpan balik dari manusia terasa sangat melelahkan secara psikologis, sekaligus menimbulkan rasa terasing dari dunia profesional yang seharusnya berbasis kolaborasi antarindividu.

Suara Keputusasaan dari Para Pelamar

Dalam sebuah tulisan di The Guardian beberapa waktu lalu, seorang pelamar yang putus asa mengungkapkan kegelisahannya terhadap praktik rekrutmen modern. Ia menyebut bahwa proses perekrutan kini telah menjadi sangat terotomasi, baik secara kiasan maupun harfiah, sehingga sulit dipercaya bahwa individu yang berhasil direkrut adalah mereka yang memang paling kompeten, bukan sekadar paling pandai memanipulasi sistem.

“Proses perekrutan telah menjadi sangat terotomasi, baik secara kiasan maupun harfiah, hingga sulit percaya bahwa orang yang berhasil direkrut bukan sekadar yang paling pandai mengakali sistem.”

Kutipan tersebut menggambarkan betapa dalamnya kehilangan elemen kemanusiaan dalam dunia ketenagakerjaan kontemporer. Ketika keputusan rekrutmen semata-mata bergantung pada analisis data dan skrining otomatis, nilai-nilai seperti empati, kepemimpinan alami, dan kemampuan berkomunikasi secara organik seringkali terlewatkan. Padahal, kualitas lunak inilah yang kerap menjadi pembeda antara karyawan yang baik dan yang luar biasa dalam sebuah organisasi.

Peringatan Keras Andy Burnham

Melawan arus dominasi teknologi tersebut, muncul suara kritis dari Andy Burnham. Dalam sebuah podcast yang membahas isu ketenagakerjaan baru-baru ini, Burnham secara terbuka menyuarakan kekhawatirannya terhadap proses rekrutmen daring yang kini marak digunakan. Sebagai Perdana Menteri, ia menggambarkan lingkungan pencarian kerja bagi generasi muda saat ini sebagai sangat “harsh” atau kejam.

“Lingkungan pencarian kerja bagi kaum muda sangat kejam. Saya kritik penggunaan luas wawancara via Zoom dan Microsoft Teams, dan saya pertanyakan apakah pelamar benar-benar bisa menyampaikan kualitas personal mereka tanpa pertemuan tatap muka.”

Burnham secara spesifik mengecam penggunaan meluas platform konferensi video seperti Zoom dan Microsoft Teams sebagai pengganti wawancara tatap muka. Ia mempertanyakan efektivitas metode daring dalam menangkap nuansa kepribadian, bahasa tubuh, dan chemistry interpersonal yang hanya bisa terbaca secara utuh ketika dua pihak berhadapan langsung dalam satu ruangan. Menurutnya, terlalu banyak aspek kemanusiaan yang tereduksi ketika proses seleksi hanya berlangsung di balik layar, di mana koneksi autentik sulit terjalin.

Mencari Keseimbangan antara Efisiensi dan Kemanusiaan

Debat mengenai peran teknologi dalam rekrutmen bukanlah soal menolak kemajuan, melainkan soal proporsi. Tidak dapat dipungkiri bahwa AI dan wawancara daring membantu perusahaan menyaring ribuan aplikasi dengan lebih cepat dan mengurangi biaya operasional. Namun, ketika efisiensi sepenuhnya menyingkirkan faktor manusia, maka lahirlah sistem yang justru menutup akses bagi talenta unik yang mungkin tidak unggul dalam format standar, namun memiliki potensi besar jika dieksplorasi secara mendalam.

  • Penilaian terhadap kualitas personal menjadi terbatas karena algoritme cenderung berfokus pada kata kunci dan pola jawaban yang terstruktur, bukan pada keaslian karakter pelamar.
  • Risiko sistem direkayasa oleh pelamar yang mahir teknologi semakin besar, di mana keberhasilan rekrutmen tidak lagi mencerminkan kompetensi riil, melainkan kemampuan bermain dengan mesin.
  • Kesehatan mental generasi muda terdampak signifikan akibat pengalaman penolakan berulang tanpa adanya interaksi manusiawi yang bisa memberikan penjelasan, arahan, atau sekadar empati.

Ke depan, tantangan bagi dunia ketenagakerjaan global adalah merancang proses rekrutmen yang mampu menggabungkan kecanggihan teknologi dengan kehangatan interaksi manusia. Jika seluruh rantai hiring terus dijalankan oleh mesin dan layar monitor, bukan tidak mungkin kita akan kehilangan generasi talenta yang justru membutuhkan ruang untuk menunjukkan siapa diri mereka secara utuh. Seperti diingatkan Burnham, di balik setiap lamaran kerja ada manusia dengan aspirasi, bukan sekadar data yang harus diproses.

[SOCIAL_TWEET]: PM Andy Burnham kritik wawancara kerja online: "Terlalu kejam bagi generasi muda." Apakah AI benar-benar menghilangkan faktor manusia? 🧵 [SOCIAL_TG]: 🔴 Andy Burnham Kritik W

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User