Ikang Fawzi: Bella dan Chiki Warisi Semangat Marissa Haque untuk Palestina

Senja merambat pelan di langit Jakarta, menyisakan semburat jingga yang masuk lewat jendela kaca besar rumah keluarga Fawzi. Di sudut ruang tamu, Ikang Fawzi duduk termangu, pandangannya menerawang pa...

Jul 12, 2026 - 14:55
0 0
Ikang Fawzi: Bella dan Chiki Warisi Semangat Marissa Haque untuk Palestina

Senja merambat pelan di langit Jakarta, menyisakan semburat jingga yang masuk lewat jendela kaca besar rumah keluarga Fawzi. Di sudut ruang tamu, Ikang Fawzi duduk termangu, pandangannya menerawang pada sebuah foto yang terbingkai rapi di atas meja. Foto itu memperlihatkan almarhumah Marissa Haque—sang istri, ibu dari dua putrinya—sedang tersenyum lebar dalam balutan syal bermotif Palestina. Senyum yang sama, batin Ikang, kini bersemayam di wajah Bella dan Chiki.

Di tengah duka yang masih terasa, Ikang menemukan setitik cahaya: kedua putrinya, Bella dan Chiki Fawzi, tidak hanya mewarisi raut wajah sang ibu, tetapi juga api perjuangan yang tak pernah padam. Dengan lantang, mereka menyuarakan pembelaan bagi rakyat Palestina—persis seperti yang dilakukan Marissa semasa hidup.

Api Perjuangan yang Tak Pernah Padam

Marissa Haque dikenal bukan sekadar artis dan politikus, melainkan seorang aktivis kemanusiaan yang vokal. Sejak zaman kuliah hingga akhir hayatnya, ia tak henti menyuarakan keadilan bagi bangsa Palestina. Di setiap kesempatan, baik di mimbar resmi maupun di media sosial, kata-katanya selalu tajam membela kaum tertindas. Semangat itu rupanya mendarah daging dalam diri kedua putrinya.

Bella Fawzi, sang sulung, mengenang bagaimana ibunya kerap mengajaknya ke berbagai aksi solidaritas saat ia masih kecil. “Dulu saya hanya memegang poster karena diminta Mama. Sekarang, setelah Mama tiada, saya paham bahwa ini bukan sekadar poster, melainkan amanah,” tuturnya suatu sore, suaranya bergetar. Sementara Chiki, si bungsu, lebih banyak menggerakkan kampanye lewat platform digital. Desain-desainnya yang menyentak kesadaran banyak orang adalah lanjutan dari kertas-kertas coretan yang dulu sering ia lihat di meja kerja sang ibu.

Suara Lantang dari Generasi Penerus

Beberapa pekan setelah kepergian Marissa, Bella mengunggah sebuah video pendek di Instagram. Dalam video itu, ia tampak berbicara di depan puluhan peserta penggalangan dana untuk bantuan medis di Gaza. Kalimatnya lugas dan berani, mengingatkan banyak orang pada sosok ibunda yang sering tampil di televisi. “Kita tidak boleh lelah. Perjuangan ini bukan milik Mama saja, tapi milik kita semua,” ujar Bella, dan kalimat itu sontak menyebar luas, dipotret dan dikutip banyak pihak.

Chiki, yang lebih pendiam, memilih jalur seni. Lewat ilustrasi seorang anak Palestina memeluk kunci rumah tua yang hancur, ia menyampaikan duka sekaligus harapan. “Gambar itu sebenarnya saya persembahkan untuk Mama. Karena waktu kecil, Mama sering mendongeng tentang anak-anak Palestina yang kehilangan rumah, tapi tetap memegang kunci. Kunci itu harapan, kata Mama,” ungkap Chiki dengan mata berkaca-kaca.

Bangga dan Haru Ikang Fawzi

Ikang Fawzi tak kuasa menahan air mata saat pertama kali melihat putri sulungnya berdiri di atas panggung kecil, membacakan puisi tentang Palestina yang pernah ditulis Marissa. “Saya seperti melihat Marissa hidup kembali. Gerak tangannya, intonasinya, bahkan cara dia mengepalkan tangan... semua persis,” bisik Ikang lirih. Di balik kesedihan yang terus menghantui, ada kebanggaan yang meruap.

Ia sadar, mendiang istrinya telah menanam benih-benih kepedulian yang kini tumbuh subur. “Bella dan Chiki mungkin tidak selalu bersama saya di rumah, tapi hati mereka ada di sana—di tanah yang jauh, di antara anak-anak yang membutuhkan suara. Itu pelukan terpanjang Marissa untuk dunia, lewat putri-putrinya,” ujar Ikang, kali ini dengan senyum tipis yang sudah lama tak muncul di wajahnya.

Bagi keluarga ini, Palestina bukanlah sekadar isu politik. Ia adalah ikrar kemanusiaan yang diwariskan dari sepasang mata yang kini telah terpejam, kepada dua pasang mata yang siap memandang dunia yang lebih adil. Warisan semangat itu kini menjelma suara—yang lantang, yang lembut, yang tak bisa dibungkam.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User