Hari Pertama Sekolah yang Penuh Makna: Dadang Ajak Orang Tua Dampingi Anak

Pagi itu, gerbang sekolah dasar di sudut kota tampak lebih ramai dari biasanya. Bukan hanya celoteh anak-anak berseragam baru yang memenuhi udara, tetapi juga langkah-langkah dewasa yang setia mengiri...

Jul 13, 2026 - 16:33
0 0

Pagi itu, gerbang sekolah dasar di sudut kota tampak lebih ramai dari biasanya. Bukan hanya celoteh anak-anak berseragam baru yang memenuhi udara, tetapi juga langkah-langkah dewasa yang setia mengiringi. Di antara kerumunan, seorang ibu muda menggenggam erat tangan putrinya yang baru berusia enam tahun. Gadis kecil itu sesekali menatap wajah ibunya, seolah mencari kepastian bahwa ia tidak akan ditinggal sendiri di tengah lautan wajah asing. Ibunya membalas tatapan itu dengan senyum lembut seraya berbisik, “Ibu di sini, Nak. Hari ini kita jalanin bareng-bareng.” Momen sederhana ini mungkin luput dari sorotan kamera, tetapi justru di sinilah denyut kehidupan pendidikan sesungguhnya berdetak—bukan di ruang rapat ber-AC, melainkan di pelukan hangat orang tua yang memilih hadir di hari pertama sekolah anaknya.

Suasana serupa mewarnai banyak sekolah di wilayah Kabupaten Bandung pada awal tahun ajaran ini. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang biasanya identik dengan kegiatan formal antar-siswa, kali ini berubah menjadi panggung kehangatan keluarga. Inisiatif ini tak lepas dari dorongan kuat Bupati Bandung, Dadang Supriatna, yang secara terbuka mengajak seluruh orang tua untuk memanfaatkan momen berharga tersebut. Ia ingin MPLS bukan lagi ajang hafalan visi-misi sekolah semata, melainkan ruang perjumpaan manusiawi yang melibatkan tiga pilar pendidikan: sekolah, siswa, dan keluarga.

Ruang Aman yang Lahir dari Kehadiran

Di sebuah kelas kecil bercat krem, seorang guru wali kelas dengan sabar memandu perkenalan. Namun, yang menarik perhatian bukanlah metode mengajarnya, melainkan kehadiran para ayah dan ibu yang duduk di bangku belakang. Mereka bukan sekadar pengantar, tetapi benar-benar terlibat—ada yang membantu anaknya membuka kotak bekal, ada pula yang merekam momen dengan mata berkaca-kaca. “Saya sebenarnya harus masuk kerja pagi ini,” ujar Andri, seorang ayah dua anak yang rela mengambil cuti demi mendampingi putranya di hari pertama SD. “Tapi teringat pesan Pak Bupati, bahwa anak-anak butuh dukungan moral. Saya tidak mau anak saya ingat hari pertamanya sebagai hari yang menakutkan.”

Psikolog anak, Dr. Rina Susanti, menegaskan bahwa pendampingan orang tua di fase transisi seperti ini memiliki dampak jangka panjang. “Lingkungan baru adalah sumber stres terbesar bagi anak usia dini. Kehadiran figur lekat tidak hanya mengurangi kecemasan, tetapi juga membangun rasa percaya diri yang akan menjadi fondasi pembelajarannya di masa depan,” jelasnya. Inilah landasan mengapa MPLS ramah yang digaungkan Bupati Dadang bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan investasi emosional.

Dadang dan Filosofi Sekolah Ramah

Bupati Dadang Supriatna, yang dikenal kerap menyambangi sekolah-sekolah tanpa protokol ketat, memiliki keyakinan sederhana: “Sekolah ramah tidak dimulai dari gedung megah atau kurikulum canggih, tetapi dari sambutan hangat yang dirasakan anak sejak menit pertama.” Dalam berbagai kesempatan, ia terus menekankan bahwa MPLS seharusnya menjadi pengalaman menyenangkan, bukan parade tugas berat atau ajang perpeloncoan terselubung. Oleh karena itu, ia mendorong satuan pendidikan untuk membuka pintu selebar-lebarnya bagi orang tua.

“Jangan lewatkan momentum ini, karena hari pertama sekolah adalah momen sakral yang tidak terulang. Anak-anak perlu merasa bahwa belajar adalah perjalanan bersama, bukan beban sendirian,” ujar Bupati, mengutip pesan yang disampaikannya kepada ribuan orang tua via surat edaran dan media sosial. Pemerintah kabupaten pun telah berkoordinasi dengan dinas pendidikan untuk memastikan MPLS tahun ini benar-benar ramah, humanis, dan bebas dari kekerasan dalam bentuk apa pun.

Kisah Inspiratif dari Berbagai Sudut Daerah

Di daerah pelosok Kabupaten Bandung, cerita haru juga bermunculan. Sunarti, seorang buruh tani di Kecamatan Cikancung, nekat berangkat lebih pagi agar bisa mengantar anaknya ke sekolah. “Sebenarnya saya khawatir, karena harus ke ladang. Tapi setelah mendengar anjuran Pak Bupati di radio komunitas, saya sadar bahwa kehadiran saya itu penting. Biar anak saya tahu, walaupun keluarganya sederhana, dia tetap didukung penuh,” tuturnya sambil menahan tangis. Guru di sekolah itu pun berkisah bahwa anak dari Sunarti adalah salah satu siswa yang paling ceria di hari pertama—ia bahkan memimpin teman-temannya bernyanyi dengan lantang.

Fakta-fakta seperti ini mengkonfirmasi bahwa kebijakan yang menyentuh ranah emosional memiliki efek domino yang nyata. Ketika anak merasa aman, proses adaptasi berjalan lebih cepat, performa akademis awal lebih stabil, dan interaksi sosialnya lebih positif. Data dari Dinas Pendidikan setempat menunjukkan bahwa tingkat kehadiran siswa di pekan pertama MPLS tahun ini mencapai 98 persen, meningkat signifikan dari tahun sebelumnya yang hanya 91 persen. Kepala Dinas Pendidikan meyakini, partisipasi orang tua yang lebih tinggi menjadi kunci lonjakan tersebut.

Melampaui Seremoni, Menuju Budaya

Upaya Bupati Dadang bukanlah proyek sesaat yang berhenti setelah dokumentasi selesai. Ia berharap tradisi mendampingi anak di hari pertama sekolah ini tidak hanya menjadi tren, tetapi membudaya di masyarakat—bahkan sampai jenjang yang lebih tinggi. Keterlibatan orang tua dalam dunia pendidikan, menurutnya, adalah tanggung jawab kolektif yang akan menentukan kualitas generasi mendatang. Pada akhirnya, yang dikenang anak-anak bukanlah berapa kali mereka juara kelas, melainkan siapa yang menggenggam tangan mereka saat dunia terasa begitu asing dan menakutkan. Dan bagi ribuan anak di Kabupaten Bandung, tangan itu kini milik ayah dan ibu mereka, berkat ajakan tulus seorang pemimpin yang percaya bahwa pendidikan berkualitas selalu dimulai dengan cinta.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User