Aug 25, 2026
Nasional

Gunung Kawi — Sudono Salim Rutin Ziarah sebelum Ambil Keputusan Bisnis

Gunung Kawi di Jawa Timur tidak hanya dikenal sebagai destinasi spiritual umat kepercayaan, tetapi juga menyimpan catatan kelam dan gemilang dalam sejarah

Gunung Kawi — Sudono Salim Rutin Ziarah sebelum Ambil Keputusan Bisnis

Gunung Kawi di Jawa Timur tidak hanya dikenal sebagai destinasi spiritual umat kepercayaan, tetapi juga menyimpan catatan kelam dan gemilang dalam sejarah korporasi Indonesia. Salah satu bab penting yang jarang terekspos adalah rutinitas Sudono Salim, pendiri Salim Group, yang secara berkala bolak-balik ke kawasan tersebut dalam kurun waktu puluhan tahun. Kedatangannya bukan sekadar untuk ziarah atau meditasi, melainkan sebagai bagian dari ritual yang dikaitkan dengan pengambilan keputusan bisnis strategis yang kemudian membentuk wajah perekonomian nasional.

Dalam catatan perjalanan bisnis Indonesia era 1970 hingga 1990-an, nama Sudono Salim menempati posisi sentral sebagai pengusaha yang mampu membangun kerajaan bisnis lintas sektor. Dari perbankan, semen, hingga pangan, jejak Salim Group hampir mustahil dilepaskan dari keseharian masyarakat. Namun, di balik strategi ekspansi yang tampak rasional dan terkalkulasi, ternyata terdapat dimensi mistis yang turut memengaruhi langkah konglomerat kelahiran Fuqing, Tiongkok, tersebut. Sumber-sumber sejarah bisnis menyebutkan bahwa Sudono Salim kerap melakukan perjalanan ke Gunung Kawi—termasuk ke petilasan dan gua-gua meditasi di lerengnya—sebelum menentukan arah investasi besar maupun menggelar negosiasi krusial.

Pertemuan Bersejarah dengan Mochtar Riady di Kaki Gunung

Di tengah aura mistisGunung Kawi, tercatat pula sebuah pertemuan bersejarah yang kemudian mengubah peta persaingan bisnis perbankan nasional. Pada suatu momen yang hingga kini masih dikisarkan dalam kalangan pelaku usaha, Sudono Salim bertemu dengan Mochtar Riady—pendiri Lippo Group yang kemudian dikenal sebagai salah satu bankir paling berpengaruh di Asia Tenggara. Pertemuan tersebut bukanlah sekadar silaturahmi biasa, melainkan diskusi strategis yang dilatarbelakangi oleh kesamaan visi dan, menurut beberapa versi cerita, rekomendasi dari seorang tokoh spiritual yang sama-sama mereka percayai.

Momen bertemu dua konglomerat ini dipercaya menjadi titik balik dalam dinamika keuangan Indonesia. Tidak lama setelah pertemuan tersebut, Salim Group memperkuat posisinya di sektor perbankan melalui Bank Central Asia (BCA), sementara Mochtar Riady mulai mengembangkan jaringan Lippo Bank dengan ekspansi yang lebih agresif. Meski keduanya kemudian berada dalam koridor persaingan, jejak pertemuan di Gunung Kawi itu menunjukkan bahwa hubungan bisnis era Orde Baru kerap dibangun di luar ruang rapat dan berkas-berkas analisis keuangan. "Fenomena penggunaan spiritualitas dalam pengambilan keputusan bisnis oleh konglomerat era 1980-an bukan sekadar mitos belaka, melainkan refleksi dari kepercayaan tradisional Tionghoa yang mengakar kuat dan menjadi bagian dari guanxi—jaringan kepercayaan yang memperkuat loyalitas dalam berbisnis," ujar pengamat sejarah bisnis Indonesia.

Dimensi Mistis dalam Koridor Korporasi

Praktik spiritual dalam dunia bisnis oleh Sudono Salim tidak terlepas dari tradisi masyarakat Tionghoa perantauan yang meyakini adanya hubungan antara keberuntungan usaha dan harmoni dengan alam semesta. Bagi banyak pengusaha keturunan Tionghoa pada masanya, keputusan soal akuisisi, pembukaan cabang baru, maupun struktur keuangan tidak cukup dinilai dari rasio profitabilitas semata. Faktor feng shui, perhitungan astrologi Tionghoa, hingga nasihat dari tokoh-tokoh spiritual di tempat-tempat seperti Gunung Kawi menjadi bagian dari due diligence yang tidak tertulis.

Sudono Salim sendiri diketahui memiliki kepercayaan mendalam terhadap elemen-elemen metafisika tersebut. Sumber yang pernah dekat dengan lingkaran dalam Salim Group menyebutkan bahwa setiap rencana ekspansi besar—termasuk pembangunan pabrik semen dan perluasan jaringan distribusi Indofood—selalu dibarengi dengan konsultasi spiritual. Gunung Kawi dipilih bukan tanpa alasan; lokasi tersebut dianggap memiliki energi chi yang kuat dan telah lama menjadi pusat tarekat serta kebatinan di Pulau Jawa. Dalam tradisi tertentu, gunung ini dipercaya sebagai tempat pertemuan dunia lahir dan batin, sehingga keputusan yang diambil setelah ritual di sana diyakini memiliki kelanggengan dan perlindungan.

Aspek Sudono Salim Mochtar Riady
Pendekatan Spiritual Ziarah ke Gunung Kawi & meditasi gua Feng shui & astrologi Tionghoa
Strategi Ekspansi Akuisisi agresif & monopoli sektor strategis Diversifikasi keuangan & properti
Puncak Kejayaan 1996: Salim Group kuasai 5% PDB Indonesia 1990-an: Lippo Bank jaringan terluas ke-2
Warisan Bisnis Utama Indofood, BCA, Bogasari, Indomaret Lippo Bank, OUE, Siloam Hospitals

Fakta tak terduga lain yang terungkap adalah bahwa rutinitas bolak-balik Salim ke Gunung Kawi tidak pernah terekspos media pada masanya. Kehati-hatian tersebut dimaksudkan untuk menjaga citra korporasi yang mengedepankan rasionalitas modern di mata para pemegang saham asing dan regulator pemerintah. Namun, di balik tirai kerahasiaan itu, praktik spiritual justru menjadi perekat dalam membentuk deal-deal besar yang melibatkan modal triliunan rupiah. Keberhasilan Salim Group dalam menguasai sektor pangan dan keuangan tidak lepas dari kemampuan Sudono Salim membangun jaringan kepercayaan—baik dengan para birokrat, sesama pengusaha, maupun melalui keyakinan pribadi yang ia anut.

Meski era kejayaan Salim Group sempat terhenti akibat krisis moneter 1998, jejak spiritualitas dalam manajemen bisnis tersebut masih bisa ditelusuri hingga kini. Anthony Salim, putra Sudono Salim yang menjalankan estafet kepemimpinan, meski lebih terbuka terhadap tata kelola perusahaan modern, tetap mempertahankan beberapa tradisi yang diwariskan sang ayah. Kisah Gunung Kawi dan pertemuan bersejarah dengan Mochtar Riady menjadi bukti bahwa sejarah bisnis Indonesia tidak melulu ditulis oleh angka-angka di neraca laba rugi, tetapi juga oleh dinamika keyakinan, kebetulan, dan pertemuan-pertemuan tak terduga di balik kabut pegunungan.

Seiring dengan maraknya tren corporate mindfulness dan kepemimpinan berbasis nilai di era kontemporer, kisah Sudono Salim mengingatkan bahwa pencarian makna

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User