JAKARTA — Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI), Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), mengulas laporan global The 2026 Global Nutrition Report sebagai bahan acuan untuk memperkuat tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG). Mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Asia Tenggara periode 2013–2018 serta mantan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan itu menilai laporan tahunan tersebut sangat relevan dengan arah kebijakan gizi nasional yang tengah berjalan.
Menurut Prof Tjandra, laporan yang disusun jaringan pemantau gizi internasional itu memuat data komprehensif mengenai kondisi gizi global, mencakup prevalensi stunting, wasting, anemia, kekurangan gizi, hingga tren obesitas yang meningkat di banyak negara berkembang. Data tersebut, kata dia, dapat menjadi peta jalan bagi pemerintah dalam mengevaluasi dan menyempurnakan program MBG agar tepat sasaran, berkualitas, dan berkelanjutan.
Kronologi Ulasan: Dari Data Global ke Kebijakan Nasional
Berikut urutan pokok ulasan yang disampaikan Prof Tjandra:
- Pertama, Prof Tjandra menyoroti bahwa The 2026 Global Nutrition Report menunjukkan dunia masih menghadapi beban ganda malnutrisi, yakni kekurangan gizi dan kelebihan gizi yang terjadi bersamaan. Ia mengingatkan Indonesia perlu mengantisipasi dua persoalan itu sekaligus dalam perencanaan program MBG.
- Kedua, ia menekankan pentingnya data dan indikator terukur dalam tata kelola MBG. Laporan global itu menawarkan kerangka pemantauan yang dapat diadopsi, seperti indikator cakupan penerima manfaat, kualitas gizi menu, hingga dampak terhadap status gizi anak sekolah, ibu hamil, dan balita.
- Ketiga, aspek keberlanjutan pendanaan dan keterlibatan lintas sektor dinilainya menjadi kunci keberhasilan program. Ia merujuk pada praktik baik sejumlah negara yang berhasil menurunkan prevalensi stunting melalui program makan sekolah berbekal tata kelola yang transparan dan akuntabel.
- Keempat, ia menggarisbawahi perlunya pengawasan dan evaluasi berkala. Tanpa mekanisme pemantauan yang kuat, program sebesar MBG berisiko menghadapi persoalan distribusi, kualitas bahan pangan, hingga kesenjangan cakupan antarwilayah.
Profil Singkat Pengulas
Prof Tjandra merupakan salah satu pakar kesehatan masyarakat terkemuka di Indonesia. Selain berkiprah di lingkungan Kementerian Kesehatan dan WHO, ia juga aktif menulis serta memberikan pandangan kebijakan di bidang kesehatan, termasuk gizi dan penyakit menular. Kredibilitasnya di kancah kesehatan internasional menjadikan ulasannya terhadap The 2026 Global Nutrition Report layak menjadi perhatian para pemangku kebijakan.
Rekomendasi untuk Tata Kelola MBG
Dalam ulasannya, Prof Tjandra menegaskan bahwa The 2026 Global Nutrition Report bukan sekadar dokumen statistik, melainkan instrumen kebijakan. Ia merekomendasikan agar pemerintah menjadikan laporan tersebut sebagai dasar penyusunan indikator keberhasilan MBG, mulai dari penurunan angka stunting, perbaikan status gizi anak sekolah, hingga penguatan sistem data gizi nasional yang terintegrasi.
Selain itu, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dinilai mutlak diperlukan. Pelaksanaan MBG melibatkan banyak pemangku kepentingan, mulai dari Badan Gizi Nasional, kementerian terkait, pemerintah daerah, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai pemasok bahan pangan. Koordinasi yang baik menjadi prasyarat agar rantai pasok tetap lancar dan kualitas menu terjaga.
Prof Tjandra juga menyoroti pentingnya edukasi gizi. Menu bergizi yang disediakan program MBG harus dibarengi edukasi kepada siswa dan orang tua tentang pola makan sehat. Dengan begitu, dampak program tidak berhenti di piring makan, melainkan membentuk kebiasaan hidup sehat jangka panjang bagi generasi penerus.
Relevansi dengan Target Nasional
Program MBG merupakan bagian dari upaya pemerintah menurunkan prevalensi stunting dan memperbaiki kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dalam konteks ini, Prof Tjandra menilai laporan gizi global 2026 dapat menjadi tolok ukur sekaligus bahan evaluasi berkala. Ia berharap tata kelola MBG terus disempurnakan berbasis data dan bukti, bukan semata target kuantitatif.
Dengan mengacu pada praktik global dan data terkini, Prof Tjandra optimistis program MBG dapat berjalan efektif apabila didukung tata kelola yang transparan, partisipasi masyarakat, serta komitmen politik yang berkelanjutan dari pemerintah.
FAQ
Berikut tiga pertanyaan esensial terkait ulasan Prof Tjandra dan program MBG:
[SOCIAL_TWEET]: Prof Tjandra: The 2026 Global Nutrition Report jadi acuan perkuat tata kelola MBG. Data global untuk gizi nasional! #Gizi #MBG #Stunting [SOCIAL_TG]: 📰 Prof Tjandra: Laporan Gizi Global 2026 Jadi Acuan Perkuat Tata Kelola MBG — baca selengkapnya di Beritaseputar.com.
Comments (0)