Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Glasgow — Zlatko Dalic Senyum Lebar, Kroasia Tumbangkan Skotlandia 3-1

Hampden Park, Glasgow, Rabu dini hari—sebuah senyum merekah di wajah yang sudah tak asing bagi pecinta sepak bola. Zlatko Dalic, pelatih tim nasional Kroas

Jul 09, 2026 - 20:52
0 0
Glasgow — Zlatko Dalic Senyum Lebar, Kroasia Tumbangkan Skotlandia 3-1

Hampden Park, Glasgow, Rabu dini hari—sebuah senyum merekah di wajah yang sudah tak asing bagi pecinta sepak bola. Zlatko Dalic, pelatih tim nasional Kroasia, berdiri di pinggir lapangan dengan sorot mata yang berkilat. Bukan karena lampu stadion, melainkan karena haru yang meluap. Tiga gol bersarang di gawang Skotlandia, satu balasan tak berarti, dan satu tiket ke babak 16 besar Piala Eropa 2020 genggamannya. Skor 3-1 membawa Kroasia bangkit dari keterpurukan dan membungkam semua keraguan.

Awalnya, Kroasia datang dengan beban berat. Mereka kalah 1-0 dari Inggris di laga pembuka dan hanya bermain imbang 1-1 melawan Republik Ceko. Kritik bertubi-tubi, usia skuad mulai dipertanyakan, dan Dalic? Ia menjadi sasaran empuk media. Namun malam itu, sang pelatih seolah berkata: kami belum selesai.

Perjalanan Emosi Seorang Komandan

Senyum Dalic bukanlah senyum biasa. Ia menyimpan jejak perjuangan yang panjang. Ketika peluit panjang dibunyikan, Dalic mengepalkan tangan ke arah tribun suporter Kroasia yang hadir. Ia kemudian memeluk setiap pemainnya, satu per satu, seolah menyalurkan energi yang tak terucapkan.

“Saya percaya mereka sejak menit pertama. Pertandingan ini bukan sekadar tentang taktik, tapi tentang hati. Dan malam ini, hati mereka berbicara,” ujar Dalic dengan suara bergetar, seakan membendung air mata.

Kalimat itu bukan basa-basi. Di ruang ganti, sebelum laga dimulai, Dalic dikabarkan hanya menulis satu kata di papan taktik: Vatreni—julukan Kroasia, si “Api”. Lalu ia berkata kepada para pemainnya, “Kalian adalah api yang tidak bisa dipadamkan. Biarkan Skotlandia terbakar.”

Kepercayaan yang Membara

Gol pembuka dari Nikola Vlašić menit ke-17 menjadi jawaban atas keraguan. Namun saat Skotlandia menyamakan kedudukan lewat Callum McGregor, bayang-bayang kegagalan kembali mengintai. Di momen itu, Dalic justru tenang. Ia memberi instruksi, mengatur ulang formasi, dan menyuntikkan keyakinan ke Luka Modrić serta rekan-rekannya.

Kapten Modrić kemudian mencetak gol spektakuler di menit ke-62, disusul gol Ivan Perišić yang mengunci kemenangan. Tiga gol, tiga titik balik. Sosok Dalic di pinggir lapangan adalah jangkar yang menenangkan badai—begitu kata para pemainnya.

“Saya melihat ke bangku cadangan, dan coach Dalic tersenyum. Senyum itu seperti mengatakan: ‘Tenang, kita bisa.’ Dan kami percaya,” kenang Mateo Kovačić, gelandang yang tampil apik sepanjang laga.

Momen yang Menggetarkan Hati

Bagi pendukung Kroasia, kemenangan ini lebih dari sekadar angka. Seorang suporter bernama Ivana yang terbang dari Zagreb mengaku meneteskan air mata saat Modrić merayakan gol keduanya.

“Kami negara kecil, tapi malam ini kami besar. Saya melihat senyum Pak Dalic dan saya teringat anak saya yang baru sembuh dari sakit. Ini tentang tidak pernah menyerah,” katanya sambil memegang syal kotak-kotak merah putih.

Kroasia lolos sebagai runner-up Grup D, menyusul Inggris yang menjadi juara grup. Mereka akan menghadapi runner-up Grup E di babak berikutnya. Tapi cerita malam itu bukan sekadar statistik. Ia adalah kisah tentang seorang pelatih yang kembali tersenyum, tentang tim yang menemukan kembali jati dirinya, dan tentang bangsa kecil yang kembali percaya pada mimpi.

Di sudut Hampden Park yang basah oleh hujan gerimis, Zlatko Dalic berdiri seorang diri sejenak. Ia menatap langit, menarik napas panjang, lalu melepas senyum yang paling tulus. Senyum yang akan dikenang sebagai simbol kebangkitan Kroasia di Euro 2020.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User