Aug 25, 2026
Hukum

Gelombang Panas Eropa Ubah Perang Budaya soal Pendingin Udara

PRAHA — Dari bangsal rumah sakit hingga flat sempit dan ruang kelas yang pengap, pertarungan baru Eropa mengenai pendingin udara (AC) akan menentukan siapa

Gelombang Panas Eropa Ubah Perang Budaya soal Pendingin Udara

PRAHA — Dari bangsal rumah sakit hingga flat sempit dan ruang kelas yang pengap, pertarungan baru Eropa mengenai pendingin udara (AC) akan menentukan siapa yang berhak tetap sehat, terus bekerja, dan sekadar bisa tidur nyenyak melewati gelombang malam bersuhu 35 derajat Celsius berikutnya.

Selama puluhan tahun, sebagian warga Eropa memandang AC sebagai simbol "dekadensi Amerika" — kemewahan boros listrik yang dianggap tidak perlu. Namun, ketika gelombang panas semakin sering melanda benua itu, sikap tersebut dinilai telah berubah dari sekadar pilihan gaya hidup menjadi ancaman keselamatan publik.

Saling Sindir Transatlantik soal AC

Orang Amerika menertawakan orang Eropa karena tidak memasang pendingin udara di gedung-gedung mereka. Orang Eropa membalas: Amerika tidak akan membutuhkan AC seandainya pemakaian berlebihan di Negeri Paman Sam tidak ikut memicu pemanasan global.

"Kedua belah pihak ada benarnya, tetapi tidak banyak," tulis analisis yang pertama kali dimuat harian Ceko, Deník N.

Kehidupan sehari-hari di Amerika Serikat memang berbeda dari Eropa dalam banyak hal: lebih banyak mobil, jalan raya lebih lebar, nyaris tanpa angkutan umum, ketimpangan sosial lebih besar, dan porsi makanan restoran lebih besar. Di atas semua itu, ada satu ciri khas Negeri Paman Sam: ruang yang amat luas, tempat lapang di mana-mana, ekspansi horizontal.

Pengalaman Musim Panas di Houston

Namun dari semua perbedaan itu, pengalaman berulang yang paling mencolok adalah betapa mudahnya tubuh kedinginan di Amerika pada musim panas. Kronologisnya kurang lebih seperti ini:

  1. Anda mendarat, katakanlah, di Houston, tempat suhu siang hari sepanjang musim panas berkisar antara 30 hingga 40 derajat Celsius — kurang lebih sama dengan yang beberapa kali dialami Eropa musim panas ini.
  2. Bedanya, kelembapan di Houston jauh lebih tinggi, sehingga panas terasa lebih mencekik.
  3. Dalam waktu dua menit di luar ruangan, kemeja Anda basah kuyup oleh keringat.
  4. Begitu masuk gedung, udara dingin AC langsung menyambut — dan tubuh yang tadi berkeringat justru menggigil.

Gelombang Panas Mengubah Perhitungan

Perdebatan ini bukan lagi soal selera atau gengsi budaya. Gelombang panas Eropa telah menewaskan puluhan ribu orang dalam beberapa musim panas terakhir. Kajian yang dimuat jurnal Nature Medicine memperkirakan lebih dari 61.000 kematian terkait panas ekstrem di Eropa pada musim panas 2022 saja — menjadikan cuaca panas sebagai bencana iklim paling mematikan di benua itu.

Di sisi lain, penetrasi AC di Eropa jauh tertinggal. Sekitar 90 persen rumah tangga Amerika memiliki pendingin udara, sementara di Eropa angkanya diperkirakan hanya sekitar 20 persen, bahkan lebih rendah di Eropa utara. Rumah sakit, sekolah, dan panti jompo — tempat kelompok paling rentan berada — sering kali tidak dilengkapi sistem pendingin yang memadai.

Dari Gengsi Budaya Menjadi Isu Keselamatan

Malam-malam tropis, ketika suhu tidak turun di bawah 25 derajat Celsius, membuat tubuh tidak sempat pulih. Lansia, bayi, dan penderita penyakit kronis menjadi korban pertama. Produktivitas kerja anjlok, konsentrasi murid di kelas buyar, dan bangsal rumah sakit berubah menjadi ruangan yang membahayakan pasiennya sendiri.

Di sejumlah kota Eropa, pemasangan AC bahkan menghadapi hambatan regulasi — mulai dari aturan bangunan cagar budaya hingga persetujuan asosiasi penghuni apartemen. Krisis energi pasca-invasi Rusia ke Ukraina sempat membuat pendingin ruangan kembali dipandang sebagai pemborosan yang tidak patriotik.

Dilema Iklim: Solusi yang Ikut Memanaskan Planet

Kekhawatiran Eropa tidak sepenuhnya tanpa dasar. AC menyumbang permintaan listrik dan emisi, baik dari konsumsi energi maupun zat pendingin (refrigeran). Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan kebutuhan energi untuk pendingin ruangan bisa melonjak tajam hingga 2050 seiring memanasnya planet.

Namun para ahli menekankan, memperlakukan AC sebagai kemaksiatan gaya hidup Amerika kini justru berbahaya. Adaptasi terhadap panas — lewat pendingin udara yang efisien, desain bangunan pasif, peneduh kota, dan sistem pendingin distrik — telah menjadi kebutuhan kesehatan masyarakat, bukan lagi kemewahan.

Siapa yang Berhak Tetap Sejuk?

Pada akhirnya, perang budaya soal AC bermuara pada keadilan sosial. Warga berpenghasilan tinggi bisa memasang unit pendingin atau mengungsi sementara ke tempat sejuk; warga miskin di flat sempit, lansia di panti, dan murid di kelas pengap tidak memiliki pilihan itu. Pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah Eropa membutuhkan AC, melainkan siapa yang akan mendapatkannya lebih dulu — dan siapa yang dibiarkan kepanasan.

[SOCIAL_TWEET]: Gelombang panas Eropa mengubah segalanya: memandang AC sebagai "dekadensi Amerika" kini berbahaya. 61.000 kematian terkait panas pada 2022 jadi peringatan keras. #GelombangPanas #PerubahanIklim[SOCIAL_TG]: 🌡️ Gelombang Panas Eropa Ubah Perang Budaya soal AC — Dari rumah sakit hingga kelas pengap, malam 35°C kian sering melanda. AC yang dulu dicap "dekadensi Amerika" kini jadi isu keselamatan publik dan keadilan sosial. Baca selengkapnya di Beritaseputar.com

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User