Aug 25, 2026
Hukum

Perempuan 77 Tahun Berjalan 14 Kilometer Kabur dari 'Neraka' Drone Ukraina

Sloviansk, Ukraina — Nina Ivanova, seorang perempuan berusia 77 tahun, akhirnya tiba di pusat evakuasi di Sloviansk, Ukraina timur, setelah menempuh perjal

Perempuan 77 Tahun Berjalan 14 Kilometer Kabur dari 'Neraka' Drone Ukraina

Sloviansk, Ukraina — Nina Ivanova, seorang perempuan berusia 77 tahun, akhirnya tiba di pusat evakuasi di Sloviansk, Ukraina timur, setelah menempuh perjalanan yang ia sendiri gambarkan sebagai pelarian dari "neraka". Bersama kedua anak perempuannya, ia nekat mengambil risiko di jalan raya di bawah langit yang dipenuhi drone, sebuah pilihan yang dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi kenyataan pahit bagi warga sipil di sepanjang garis depan perang Rusia-Ukraina. Kisahnya menjadi pengingat bahwa di tengah perang yang terus berkecamuk, keselamatan sering kali harus diperjuangkan langkah demi langkah.

Kronologi Perjalanan Nina Ivanova Menuju Sloviansk

Keputusan untuk meninggalkan rumah bukanlah hal yang mudah bagi seorang perempuan di usianya. Rumah yang ia tinggali berada di kawasan yang semakin dekat dengan zona pertempuran, di mana suara ledakan dan gerak drone hampir menjadi bagian dari rutinitas harian. Berikut urutan peristiwa yang akhirnya membawanya tiba di pusat evakuasi Sloviansk:

  1. Kondisi keamanan di permukiman tempat tinggalnya memburuk drastis seiring meluasnya operasi udara dan serangan drone di sepanjang garis depan.
  2. Ivanova bersama kedua anak perempuannya memutuskan meninggalkan rumah dan menempuh jalan kaki sejauh 9 mil atau sekitar 14 kilometer.
  3. Sepanjang perjalanan, langit di atas mereka dipenuhi drone, sehingga setiap langkah harus diambil dengan kewaspadaan penuh karena serangan dapat datang sewaktu-waktu.
  4. Setelah melewati rute yang penuh risiko, mereka akhirnya tiba di pusat evakuasi di Sloviansk, tempat para pengungsi mendapatkan bantuan, makanan, dan tempat berlindung yang lebih aman.

Bagi perempuan berusia tujuh puluh tujuh tahun itu, perjalanan tersebut bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Ia meninggalkan seluruh kehidupannya, termasuk rumah dan barang-barang yang telah ia kumpulkan seumur hidup. Yang tersisa hanyalah keselamatan keluarga — dan tekad untuk bertahan.

"Neraka" — itulah kata yang digunakan Ivanova untuk menggambarkan kondisi di sekitar rumahnya yang ditinggalkan, sebagaimana dilaporkan media internasional yang mewawancarainya di pusat evakuasi.

Warga Sipil di Garis Depan Tak Pernah Berhenti Mengungsi

Kisah Ivanova hanyalah satu dari ribuan cerita serupa yang terjadi di Ukraina. Sejak invasi besar-besaran Rusia pada Februari 2022, jutaan warga Ukraina telah mengungsi, baik ke wilayah yang lebih aman di dalam negeri maupun ke luar negeri. Di sepanjang garis depan, khususnya di kawasan Donetsk tempat Sloviansk berada, gelombang evakuasi terus berlangsung mengikuti pergeseran medan perang yang dinamis.

Ancaman drone menjadi salah satu momok terbesar bagi warga sipil yang mencoba keluar dari zona berbahaya. Pesawat nirawak yang digunakan untuk pengintaian maupun serangan membuat pergerakan di jalan raya menjadi sangat berisiko. Perjalanan yang biasanya ditempuh dalam waktu singkat kini dapat berubah menjadi perjalanan hidup dan mati. Meski demikian, ribuan warga tetap memilih mengambil risiko demi keselamatan keluarga, persis seperti yang dilakukan Ivanova bersama anak-anaknya. Petugas evakuasi dan relawan di Sloviansk pun bekerja keras menampung gelombang pengungsi yang terus berdatangan dari berbagai arah.

Ketahanan Energi China di Tengah Tekanan AS atas Iran

Sementara itu, di belahan dunia lain, ketahanan menghadapi tekanan mengambil bentuk yang jauh berbeda. China menyiapkan diri menghadapi ancaman ekonomi dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait perdagangan minyak dengan Iran. Foto tangki-tangki penyimpanan minyak raksasa di Shanghai pada bulan Maret menunjukkan salah satu senjata utama Beijing dalam menghadapi tekanan tersebut: cadangan minyak dalam jumlah yang sangat besar.

Menurut analisis yang berkembang, stok minyak yang melimpah membuat China tidak mudah goyah apabila pasokan energi dari luar terganggu. Modal inilah yang menjadi penting ketika Washington mengancam akan menjatuhkan tekanan ekonomi, termasuk bea masuk dan sanksi, terhadap pihak-pihak yang membeli minyak Iran. Selama ini China menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran yang dijual dengan harga diskon besar di tengah sanksi internasional.

  • China memiliki kapasitas penyimpanan minyak strategis yang memungkinkannya bertahan dari gangguan pasokan jangka pendek.
  • Pembeli asal China tetap menjadi pasar penting bagi minyak Iran meskipun ada ancaman sanksi dari Washington.
  • Dengan cadangan yang besar, Beijing memiliki waktu untuk bernegosiasi tanpa harus langsung menyerah pada tekanan.
  • Selain Iran, China juga dapat mengandalkan pasokan dari Rusia dan sejumlah negara penghasil minyak lainnya.

Para pengamat menilai kombinasi antara cadangan strategis yang besar dan fleksibilitas sumber pasokan memberikan posisi tawar yang kuat bagi China. Artinya, ancaman ekonomi dari Washington tidak otomatis membuat Beijing kehilangan daya tawar di meja perundingan. Ketahanan energi, dalam hal ini, menjadi instrumen diplomasi yang sama pentingnya dengan kekuatan militer atau politik.

Dua Wajah Ketahanan di Tengah Ketidakpastian

Dua peristiwa di dua kawasan yang berbeda ini sama-sama berbicara tentang ketahanan. Di Ukraina, ketahanan berwujud nyawa warga sipil seperti Nina Ivanova yang rela berjalan belasan kilometer di bawah ancaman drone demi menyelamatkan keluarga. Di China, ketahanan berwujud tangki-tangki minyak raksasa yang memastikan mesin ekonomi tetap berjalan di tengah ancaman gangguan pasokan energi.

Yang pasti, di tengah perang konvensional maupun perang ekonomi, warga biasa dan negara-negara besar sama-sama mencari cara untuk bertahan. Bagi Ivanova, perjalanan itu telah usai — setidaknya untuk saat ini — dan ia kini berada di tempat yang lebih aman di Sloviansk, menunggu babak baru kehidupannya. Bagi Beijing, ujian sesungguhnya masih menunggu di depan, dan cadangan minyaknya akan menentukan seberapa jauh China bisa bertahan.

[SOCIAL_TWEET]: Nina Ivanova, 77 tahun, berjalan 14 km di bawah langit penuh drone demi kabur dari zona perang Ukraina. Sementara itu, China mengandalkan cadangan minyak raksasa menghadapi tekanan AS atas Iran. #Ukraina #China #Beritaseputar[SOCIAL_TG]: 🇺🇦 Perempuan 77 tahun berjalan 14 km kabur dari zona perang Ukraina di bawah ancaman drone. 🇨🇳 Sementara China siap menghadapi tekanan ekonomi Trump soal minyak Iran berkat cadangan strategisnya. Simak reportase lengkapnya di Beritaseputar.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User