FIFA Buka Peluang 64 Tim di Piala Dunia 2030
Bola dunia sedang berputar menuju sebuah kemungkinan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di ruang-ruang pertemuan FIFA, sebuah gagasan besar kembali bergulir: Piala Dunia 2030 dapat diikuti oleh 64 ...
Bola dunia sedang berputar menuju sebuah kemungkinan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di ruang-ruang pertemuan FIFA, sebuah gagasan besar kembali bergulir: Piala Dunia 2030 dapat diikuti oleh 64 tim nasional—dua kali lipat lebih banyak dari edisi Qatar 2022 yang baru saja menuntaskan siklus 32 peserta. Angka itu bukan sekadar lompatan statistik; bagi para pecinta sepak bola di pelosok benua, ini adalah pintu harapan yang semakin terbuka.
Inisiatif ini mengemuka tidak lama setelah publik sepak bola menerima gagasan ekspansi ke 48 tim yang akan menjalani debutnya pada Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. Presiden FIFA Gianni Infantino, yang kerap menyebut sepak bola bukan lagi milik segelintir negara kuat, dikabarkan menjadi motor penggerak wacana baru ini. Bagi Infantino, keberhasilan format baru tersebut kelak—baik dari sisi bisnis maupun antusiasme penonton—dapat menjadi batu loncatan menuju perayaan seabad piala dunia yang lebih meriah dan inklusif.
Membalik Halaman Sejarah: Dari 13 ke 64 Negara
Perjalanan menuju 64 tim bukan cerita yang tibatiba. Sejak edisi perdana di Uruguay tahun 1930 yang hanya diisi 13 peserta, Piala Dunia terus memekarkan diri mengikuti denyut nadi perkembangan olahraga ini. Dari 16 tim pada era 1934, 24 tim sejak 1982, hingga 32 tim yang akrab sejak 1998—setiap lompatan selalu menimbulkan perdebatan sengit soal mutu dan nilai komersial, namun pada akhirnya ekspansi justru melahirkan ikon-ikon baru dan kisah-kisah ajaib yang kini menjadi warisan abadi.
Edisi 2030 sendiri sudah digariskan menjadi panggung simbolis: genap seratus tahun setelah Jules Rimet menyerahkan trofi pertama, turnamen akan digelar di tiga benua—Eropa, Afrika, dan Amerika Selatan. Spanyol, Portugal, dan Maroko akan menjadi tuan rumah utama, sementara pertandingan pembuka dijadwalkan bergulir di Uruguay, Argentina, dan Paraguay sebagai penghormatan kepada akar sejarah. Dalam konteks semegah itu, menambah jumlah tim menjadi 64 dipandang sebagai cara untuk benar-benar menghidupkan semangat global yang selama ini menjadi nyawa FIFA.
Di Balik Angka: Harapan dan Kekhawatiran
Bagi banyak federasi nasional, terutama di Asia, Afrika, dan Oseania, format 64 tim adalah undangan yang sudah lama dinanti. Negara-negara seperti Uzbekistan, Mali, atau Selandia Baru yang kerap terhenti di palang akhir kualifikasi bisa memiliki panggung reguler untuk menunjukkan potensi mereka. Seorang ofisial federasi dari Asia Tenggara—yang selalu bermimpi berada di peta dunia—pernah berbisik, “Kami tidak minta banyak, hanya ingin berdiri sejajar dan mendengar lagu kebangsaan kami dikumandangkan di hadapan miliaran pasang mata.”
Akan tetapi, gagasan ini juga menyeret masuk sejumlah catatan kritis. Dengan 64 tim, turnamen akan berisi 128 pertandingan jika menggunakan format grup tradisional, atau sistem yang lebih rumit lagi. Para pelatih klub-klub elite Eropa mulai mengernyitkan dahi: beban pemain yang sudah padat bisa semakin membahayakan kebugaran dan karier atlet. Selain itu, pertanyaan soal ketimpangan kompetitif—apakah layak menyajikan laga 16 besar antara Brasil dan tim peringkat 140 dunia?—kembali menjadi perbincangan sengit. Meski begitu, Infantino berulang kali menegaskan bahwa sepak bola bukanlah klub eksklusif; menonton tim-tim kecil berjuang justru menjadi bagian dari sihir turnamen itu sendiri.
Cetak Biru Pesta Sepak Bola Raksasa
Kalau 64 tim benar-benar disetujui, format yang paling mungkin adalah 16 grup berisi masing-masing empat negara—mirip dengan struktur yang direncanakan untuk 2026, hanya saja jumlah grupnya dilipatgandakan. Dua tim teratas dari setiap grup akan melaju ke babak 32 besar, dan sejak itu sistem gugur berjalan seperti biasa. Alternatif lain yang beredar adalah sistem gugur penuh sejak awal, tetapi itu dinilai terlalu berisiko mengurangi jumlah pertandingan minimal bagi tim yang datang dari jauh.
Yang menarik, diskusi ini tidak melulu tentang teknis: ia juga soal bisnis, diplomasi, dan narasi kebangsaan. Hak siar televisi dipastikan akan meroket jumlah total penonton di seluruh dunia—miliaran pasang mata dari 64 negara akan menciptakan gelombang pemasukan iklan yang sulit ditolak. Di sisi lain, tuan rumah tambahan mungkin perlu ditunjuk untuk menampung jadwal yang kian padat; kandidat seperti Arab Saudi atau negara-negara Eropa lain mulai disebutsebut sebagai penopang logistik.
Menanti Lonceng Seabad
Hingga kini, FIFA belum mengeluarkan keputusan final. Wacana 64 tim masih berada di ranah diskusi tingkat tinggi dan akan melalui serangkaian kajian mendalam—dari sisi finansial, infrastruktur, hingga dampak pada kalender internasional. Namun, hembusan optimisme itu sudah terasa. “Edisi seratus tahun harus menjadi lebih dari sekadar turnamen; ia mesti menjadi perayaan yang benar-benar merepresentasikan seluruh umat manusia yang bersatu dalam sepak bola,” demikian kirakira nada yang ditangkap dari lingkaran pejabat tinggi FIFA.
Jika semua rintangan bisa dijembatani, Piala Dunia 2030 tidak hanya akan tercatat sebagai edisi terbesar sepanjang masa, tetapi juga sebagai titik balik filosofis: bahwa sepak bola sesungguhnya milik semua bangsa, dan setiap sudut bumi berhak bermimpi untuk suatu hari mengibarkan bendera mereka di panggung paling akbar.
Baca juga:
Comments (0)